Pakeliran Pun Semerbak Wangi

(RRI)
foto
Penulis: Tjuk Suwarsono

Sepeninggal dalang viral Seno Nugroho, banyak penonton milenial di dunia maya mencari sosok pengganti. Seno tergolong cerdas memanfaatkan berbagai saluran komunikasi modern yang tersedia, untuk mengkapitalisasi dirinya dan pentasnya.  Bersamanya juga semerbak penampilan sinden-sinden muda yang ‘eksotis’ (dalam olah suara dan penampilan) dan serba wangi, berikut pasukan penabuh gamelannya. Tak ketinggalan terbawa juga popularitas para dagelan, yang menghidupkan penggalan lakon dalam babak ‘’Limbukan dan Goro-goro’’.

Di kalangan sinden mengharum nama Proborini, Nanda Sari, Lusi Brahman, Eliza Oscarus Alasso, Dikke Sabrina, Ardia Diwang Probowati, Kiki Kharisma, Mia Aprilia, Tatin, Sukesi, Prastiwi, Eka Uget-uget, dan masih banyak lagi. Dikke Sabrina misalnya piawai dalam berbagai versi tari Jawa, Eliza asal Lambelu Sulawesi Tengah terkesan cerdas karena lulus S1 Pedalangan dan S2 Psikologi. 

Di kalangan dagelan berkibar nama Kirun, Percil, Kuntet, Yudho Bakiak, Joklithik-Jokluthuk.  Jangan abaikan penampilan kenes duo-sinden Mimien dan Apri.  Mereka telah ternobatkan sebagai pesohor baru di jagat pakeliran.  Mereka itu pula ‘show window’ pertunjukan, dan memborong hiburan pada babak Limbukan. Masing-masing membangun karakter yang berbeda, sehingga memiliki diferensiasi personalitas yang beragam.

Di kalangan dalang, dua nama kokoh sebagai generasi penerus para dalang superstar. Ada Bayu Aji Pamungkas, putra Ki Anom Suroto, yang kental dengan gaya Surakarta dan bermodal sabetan hebat. Ketrampilan Bayu memainkan wayangnya, terutama adekan perang tanding dan perang kembang, menyihir penonton manca negara. Seperti ayahnya, Bayu mewarisi kemampuan melagukan suluk yang indah. Ia juga pandai membawakan lakon klasik maupun carangan (kontemporer).

Ketika memulai karier publiknya, Bayu magang dulu di pentas Ki Anom. Dalam waktu tak lama, Bayu cepat berkembang didukung  tim pengrawit yang sudah jadi, seperangkat gamelan dan sekotak wayang.

Ki Sigit Aryanto

Bersamaan dengan Bayu muncul dalang asal Rembang, Ki Sigit Aryanto SSn di pentas wayang climen (pakeliran ringkas) Wargo Laras. Dikutip dari Tribunjogja.com, banyak penggemar Ki Seno Nugroho dan grup kesenian Wargo Laras menganggap “Bagongan” gaya Ki Seno Nugroho “hidup” lagi di tangan Ki Sigit Aryanto.

Beberapa kali saat memainkan sosok punokawan Bagong, Ki Sigit berhasil menirukan nyaris persis apa yang selama ini jadi citra keunggulan Ki Seno. Baik suara Bagong yang serak-serak khas, serta celetukan dan banyolan yang kerap diucapkan putra Semar Bodronoyo itu. Bahkan, Ki Sigit juga mampu memainkan sosok Raja Mandura, Prabu Baladewa, hampir persis seperti yang dulu dibawakan almarhum Ki Seno.

Memainkan lakon “Seno Swarga”, pentas wayang climennya  ditonton sekira 16 ribu viewers.

Pentas semalam selama 3,5 jam itu diiringkan pesinden Tatin Lestari Handayani, Ika Suhesti, Elisha Orcarus Alasso, Ayu, Neti Wulandari, dan Prastiwi.

Sejak awal pertunjukan, penampilan Ki Sigit Aryanto memang sangat memikat.

Permainan tiga gunungan (kayon) secara bersamaan di babak pembukaan, menggambarkan secara kuat sosok Werkudoro atau Bimaseno yang bertubuh besar hitam. Ki Seno Nugroho pun menamai kediaman baru keluarganya di Gayam sebagai Dalem Jodhipati, identik daerah kekuasaan Werkudoro atau Bimasena di pewayangan.

Persis Ki Seno

Bagian inilah yang mengawali banjir pujian para penonton wayang secara daring, selain keandalan Ki Sigit Aryanto menyabetkan wayang (adegan perang tanding). Lewat sosok Petruk, di babak goro-goro ini, Ki Sigit Aryanto menceritakan seberapa dalam kedekatan dan persaudaraan dirinya dengan Ki Seno Nugroho. “Sejak masa susah sengsara. Mas Seno masih pakai mobil Kijang kotak, motornya Shogun biru,” kata Ki Sigit.

Waktu itu Ki Sigit masih sekolah pedalangan di Solo (ISI), dan kerap mondar-mandir Solo-Yogya.

“Kalau tak punya uang ya pinjam sama Gendut,” kenang Ki Sigit. Gendut yang dimaksud Ki Sigit adalah sosok yang dijuluki Ki Gendut dalang berijazah, yang belakangan membimbing Gadhing Pawukir dan Gadang Prasetyo, belajar mendalang.

 “Kowe nek pingin laris, ayo Git tak ajak kungkum (Kalau kamu pingin laris (jadi dalang), ayo Git, aku ajak tirakat,” kata Ki Seno waktu itu. Sigit akhirnya benar-benar diajak kungkum atau tirakat lewat cara berendam di air. Biasanya di sendang, atau mata air, atau tempuran sungai. Waktu itu belum ada You Tube, jadi ia merekam pake kamera besar kaset VHS, dan mencatatnya di buku.

Ki Sigit menempatkan dirinya sebagai murid yang “nyantrik” pada Ki Seno Nugroho.

Lakon dan cerita berikut gaya yang ditampilkan Ki Seno Nugroho itu ia adopsi, ditirunya sebisa mungkin. Ternyata sambutan penonton, terutama di Rembang dan sekitarnya, luar biasa.

Antara lain yang ditirunya adegan pisowanan di Keraton Dwarawati, yang unik karena menghadirkan punokawan. Bagi penonton wayang kulit di pantura Jawa,  ini tontonan baru dan segar.

Cengkok dan gaya yang dipakai ala Yogyakarta. Ia benar-benar mirip Ki Seno mampu memainkan gagrak Surokarta maupun Yogyakarta.

Ia lalu memperagakan dialog seru penuh banyolan di lakon itu, antara Bagong dan Prabu Kresna, maupun dialog antara Bagong dan Prabu Bolodewo. Bagi yang sering menyaksikan adegan ini di pentas wayang Ki Seno pasti akan merasakan tingkat kemiripan cara penyajian antara Ki Seno dan Ki Sigit ini nyaris sempurna.

“Suaranya flat Pak Seno. Serasa Pak Seno ada di situ,” tulis penonton berakun Jion Prastiyo.

Suara Bagong mirip banget. Muantap Pak Sigit dan Wargo Laras,” tulis Cak Pai Gress.

Sinden Elisha Orcarus Alasso, yang tampil perdana menembang, juga menyampaikan pujian dan rasa gembiranya menyaksikan pentas Ki Sigit Aryanto.

Dalang Jakarta

Dari  Kabupaten Kebumen lahir Prama Reza Fadlansyah (13) dan Raffi Ramadhan (11). Dua dalang cilik asal Jakarta yang memiliki darah keturunan Kebumen itu kian populer. Ketrampilannya mendalang pun kini mendunia setelah menjadi Duta Budaya Internasional.

 Saat Prama-Raffi mendalang bareng di Desa Pekunden, Banyumas, mantan Gubernur Jawa Tengah Heru Sujatmoko secara khusus hadir menyaksikan.  Heru termasuk yang terpesona dengan performa dua dalang cucu Rektor Universitas Indraprasta (Unindra) Jakarta, Prof H Sumaryoto itu. Prama dan Raffi adalah dua sosok yang unik. Keduanya berasal dari Jakarta, namun akrab dengan budaya Jawa. Sehari-hari mereka berbahasa ngepop Jakartaan, tetapi menguasai bahasa Jawa halus, krama inggil bahkan bahasa Kawi.

Keduanya dalang cilik yang belajar otodidak. Mereka sudah tampil di New Delhi India, Moskow Rusia, dan  Seoul Korea Selatan. Pentas wayang kulit ini  juga disiarkan langsung di 5 stasiun TVRI daerah lainnya yakni Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan.

Penampilan tiga dalang Wargo Laras lainnya juga beroleh pujian ribuan penonton siaran langsung di sejumlah kanal You Tube. Pentas ini dibawakan bergantian oleh Ki Geter Pramudji Widodo, Ni Elisha Orcarus, dan Ki Kiswan Dwi Nawaeka. Penonton menikmati pertunjukan terpisah di sekurangnya empat  kanal You Tube, yakni kanal Dalang Seno, Ki Seno Nugroho, PWKS Live, dan Gatot Jatayu.

Kanal-kanal video You Tube ini merelai siaran dari joglo kecil keluarga Ki Seno Nugroho di Dusun Gayam, Desa Argosari, Sedayu, Bantul.

Ki Geter Pramudji membuka pertunjukan secara apik, diteruskan dalang Ni Elisha Orcarus yang mengisi goro-goro. Gojekan khas Elisha Orcarus, mengundang pujian. Penampilan tiga dalang Wargo Laras ini mengundang berbagai komentar di media sosial, terutama aksi panggung sinden dan dalang Nyi Elisha Orcarus Allaso, ditunggu banyak kalangan. Perempuan dalang asal Lambelu, Morowali, Sulawesi Tengah, ini dikenal pesinden milenial, digemari banyak orang.

Sedangkan Ki Geter Pramudji Widodo dan Ki Kiswan Dwi Nawaeka, selama ini ikut Ki Seno Nugroho sebagai pengrawit. Namun keduanya memiliki kemampuan mendalang, dan sudah pernah pentas. Bahkan Ki Geter pernah meneruskan pementasan wayang kulit Ki Seno Nugroho di Jakarta, saat almarhum mendadak sakit dan tidak mampu melanjutkan mendalang.

 

Penerjemah Hebat

Adalah Kathryn Emerson, wanita asal Kalamazoo, Michigan, Amerika Serikat, yang telah menetap di Indonesia sejak 1992 menjadi  satu-satunya penerjemah bahasa Jawa pewayangan ke dalam bahasa Inggris dan sebaliknya. Berkat Kathryn inilah penonton wayang warga asing menikmati terjemahan cerita persis aslinya. Ia sudah 10 tahun mengabdikan dirinya dalam setiap pentas wayang yang biasa dihadiri orang-orang asing.

Ia sering mendampingi  dalang Ki Purbo Asmoro pentas di Eropa dan Amerika. Ia mengaku sangat mencintai budaya Jawa mulai karawitan hingga wayang. Hal itulah yang membawa dirinya pergi ke Indonesia. Pada awalnya ia belajar karawitan di Jawa. Lalu setelah mengenal wayang yang dibawakan langsung dengan gaya klasik dan kontemporer oleh Pak Purbo Asmoro. Ia kemudian tertarik memperlajarinya dan berniat untuk membuat program terjemahan yang dirasa bermanfaat.

Sebelumnya, wanita lulusan Cornell University dan Queens College ini telah mempelajari gamelan secara intensif. Pada tahun 2004 ia memutuskan untuk lebih fokus dalam studinya wayang kulit purwa jawa dengan mengembangkan teknik penerjemahan wayang kulit secara langsung dari bahasa Jawa ke dalam bahasa Inggris, dan bekerja sebagai penerjemah pementasan Ki Purbo Asmoro.

Selain sebagai penerjemah, Kathy, juga berprofesi sebagai guru karawitan di Indonesia International School Gamelan Club di Jakarta, dan sudah memilik puluhan siswa dari 14 negara termasuk Indonesia. Saat bekerja, wanita tengah baya berambut pirang dengan kuncir sederhana  ini terlihat sibuk dengan laptop yang disambungkan langsung dengan dua layar besar. Jemarinya lincah merangkai kata demi kata, mengejar dialog epik yang dibawakan langsung oleh dalang.

Penulis : Tjuk Suwarsono

Editor : Widhie Kurniawan

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00