Wayang Purwa Sudah Milenial

(RRI)
foto
Penulis: Tjuk Suwarsono

Jagat pewayangan Tanah Air sedang bergerak ke arah modern dan milenial. Ini menjadi buah inovasi para pegiat seni pewayangan purwa (ringgit purwa),  yang berhasil menghadirkan suguhan pentas yang menghibur. Sebuah evolusi dari tradisional menuju modernisasi pertunjukan yang tersambung dengan generasi milenial.

Sebagian besar penonton wayang purwa ini secara fisik hadir di setiap pentas, rata-rata generasi dewasa dan sepuh. Tetapi wayang melahirkan ‘kerumunan penonton maya’ yang lebih besar. Mereka ini kental berjiwa digital, yang menikmati wayang tanpa hadir fisik.  

Jumlah penonton maya yang tak kasat mata inilah, yang memberikan dukungan ‘like & subscribe’ melalui channel You Tube. Kerumunan intangible ini justru dihuni banyak anak muda yang boleh jadi tidak dilahirkan dari lingkungan budaya wayang. Seperti gemuruh musik pop, wayang pun riuh-rendah dengan sentuhan pop. Mulai dari gending-gending baru, tata musik karawitan modern, wardrobe menarik, ditunjang  penampilan dalang berikut sinden-sinden rupawan yang memukau.

Almarhum Seno Nugroho dan Enthus Susmono dinilai berhasil menyatukan gaya pedalangan Jogjakarta dan Surakarta begitu halusnya. Enthus bahkan menambahkan sentuhan wayang dan dialog Sunda, Cirebonan, dan Banyumasan. Di jajaran Seno Nugroho terdapat dalang-dalang laris dan nge-pop yang berpentas di panggung internet, antara lain Sun Gondrong, Rudi Gareng,  Ki Purbo Asmoro,  

Tidaklah berlebihan untuk mengakui Seno Nugroho piawai memanfaatkan internet sebagai medium wayangnya. Pemerhati Seno setia mengikuti pentasnya melalui video streaming. Mereka berinteraksi dari  Suriname, Belanda, Inggris, Amerika, dan Asia.  Para penggemarnya acapkali pula mengirimkan uang untuk dalang maupun sinden favorit mereka.  Wayang benar-benar melanglang jagat di tangan Seno.

Hal ini berbeda dengan dalang kondang pendahulu Seno, yaitu Ki Anom Suroto, Ki Manteb Soedharsono Alm, Ki Hadi Sugito yang juga berpentas ke berbagai negara. Gaya tradisional klasiknya justru menjadi kekuatan pentas keduanya. Pentas keduanya menarik karena  dibalut narasi filosofis yang dalam dari falsafah Jawa. Wayang berhasil dihadirkan sebagai cermin kehidupan.  Ki Manteb menambah atraksi dan sabetan wayang yang indah dan tangkas-sigrak, sehingga dikenal juga dengan sebutan ‘dalang edan’. Maksudnya edan sabetannya.

Terjawab Dalang Muda

Begitu lama penggemar wayang merindukan penerus Ki Manteb, khususnya dalam ketrampilan mengolah wayang. Banyak dalang bagus, tetapi sedikit yang lengkap seperti Ki Narto Sabdho dan Ki Manteb. Seorang dalang piawai tak hanya menguasai cerita, variabel antawacana (gaya percakapan tokoh-tokoh wayang), menguasai gending dan suluk, tetapi juga harus trampil memainkan wayangnya. Gesture (bahasa tubuh) wayang saling berbeda satu sama lain, begitu pula warna suaranya.

Beruntung kerinduan itu lekas terjawab. Pasca Ki Manteb dan Ki Anom Suroto, lahir dalang muda fenomenal yang langsung menggebrak. Rupanya kaderisasi pedalangan kita tak ubahnya regenerasi di bulu tangkis. Tak pernah putus dan selalu kompetitif. Dalang muda itu bernama Bayu Pamungkas, putra Ki Anom Suroto. Sewaktu masih remaja, Bayu hanya mendampingi ayahnya. Ia kebagian adekan perang saja. Maklum sabetan anak muda juara nasional dalang cilik ini, semanteb Ki Manteb, gurunya juga.

Kini Bayu sudah menjadi dalang sejati. Pentasnya mandiri dan otonom. Boleh saja disebut dialah dalang muda terbaik saat ini. Di belakang Bayu banyak lahir juga dalang muda piawai. Namun baru satu yang kemahirannya bisa mengimbangi Bayu, dialah Sigit Aryanto dari Rembang. Sigit menjuarai lomba dalang nasional berkat ketrampilannya memainkan wayang dan kemiripan membawakan tokoh punakawan Bagong seperti Ki Seno Nugroho.

Ternyata habitat kelahiran dalang unggul tidak didominasi wilayah Mataraman, alias Solo-Jogja dan sekitarnya. Dari pantai utara Jawa pun yang dikenal sebagai ‘wilayah Pesisiran’ di luar Mataraman, terlahir Ki Enthus Susmono dari Tegal dan Sigit dari Rembang. Masih ada nama lain di wilayah pantai utara Jawa ini. Tidak termasuk Semarang, karena Semarang masih dianggap punya keterkaitan erat dengan Solo-Jogja. (Ki Narto Sabdho kelahiran Semarang).

Dari kota ini pula Mochamad Fajri Fadhilah, siswa SMA Negeri 16 Semarang menunjukkan bakatnya.

Anak muda yang tinggal di Sampangan, Kota Semarang, ini diuntungkan dengan banyaknya pentas wayang kulit di lingkungannya. Pada usia  2 tahun, Fajri mulai belajar mengenal wayang, menari dan karawitan. Proses belajarnya otodidak melalui video. Eksistensinya mulai terlihat ketika masuk ke SMA negeri 16 Semarang, sebuah sekolah negeri yang terletak di Ngadirgo Tengah Kecematan Mijen. Kebetulan sekolah itu memang berkomitmen mengembangkan bakat seni siswa dengan jargon “Sekolah Berbasis Budaya dan Lingkungan”.

Fajri pernah menjadi 10 dalang terbaik tingkat Jawa Tengah. Pada tahun 2017 ia menjadi juara 3 pada hari tari dunia. Selain itu sumbangsihnya pernah  mengisi acara Beswan Djarum di Kota Kudus untuk memperkenalkan kebudayaan. Ketika itu  ia menampilkan karawitan dengan pertunjukan tari . Ketika ulang tahun yang ke-17, Fajri bersama tim karawitan SMA Negeri 16 Semarang menampilkan pertunjukan wayang  kulit di depan guru, karyawan, dan komite serta orang tua siswa. Pernah juga ia diminta untuk menjadi dalang pada pesta pernikahan ataupun acara lainnya. Ia termasuk siswa yang lolos masuk perguruan tinggi tanpa tes, masuk Universitas Negeri Semarang, Fakultas Bahasa dan Seni jurusan Seni drama Tari dan Musik.

Kulon Progo

Setelah maestro dalang almarhum Ki Hadi Sugito mengharumkan nama Kulon Progo, kini muncul dalang muda potensial, Ki Guntoro. Ada juga dalang muda asal Seworan, Triharjo.  Kulon Progo memiliki sekitar 150 dalang yang tergabung dalam Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI) baik dalang senior maupun dalang muda. Termasuk dalang cilik asal Lendah, Irfan Hasyim.

Dalang muda Kulon Progo selalu mendapat support dan tuntunan dari seniornya. Beberapa dalang senior Kulon Progo seperti Ki Suparman Cermo, Ki Sutono Hadi Sugito, Ki Totok Hadi Sugito, Ki Rusmadi, Ki Anom Sucondro, Ki Wisnu Hadi Sugito, Ki Sumana, Ki Suranto, Ki Hadi Sunyoto, Ki Joko Sumitro dan sang maestro dalang gagrak Yogyakarta yang terkenal itu, alm Ki Hadi Sugito tak sungkan memberi masukan bagi juniornya. Merekalah dalang senior Kulon Progo yang telah malang melintang di dunia pedalangan tanah air.

Pemerintah Kulon Progo pada 2010 lalu menjadikan nama Ki Hadi Sugito sebagai nama ruas jalan dari Perempatan Nagung ke arah selatan menuju daerah Bugel, sepanjang kurang lebih 6 kilometer.

Meskipun beliau telah tiada, diharapkan dengan adanya nama di plakat ujung jalan dan karya-karya yang selalu dikenang, nama Ki Hadi Sugito akan selalu diingat. Hadi Sugito adalah guru, pembimbing dan teladan yang sosoknya diteladani para muda.

Memiliki nama asli Guntoro Prajoko, pemuda 32 tahun ini serius menggeluti dunia pewayangan, kerawitan bahkan pembuatan wayang kulit. Tumbuh di keluarga seniman membuat darah seni begitu kental dalam diri Ki Guntoro. Sang Ayah, Sugati, menjadi mentor sekaligus motivatornya dalam dunia pewayangan. Sang Ibu, Rubi, berprofesi sebagai sinden. Keluarga Ki Guntoro masih memiliki ikatan trah dengan alm Ki Hadi Sugito, sehingga saat beliau masih sugeng Ki Hadi Sugito sering memberikan saran dan masukan bagi Ki Guntoro. Oleh karena itu ia memilih mendalang sebagai panggilan hidup.

Ki Guntoro, malah menamatkan sekolah di jurusan otomotif SMK Ma’arif 1 Wates. Ia pernah menyabet Juara 1 Lomba Dalang tingkat SMP se DIY, juara 1 Lomba Dalang tingkat SMA se DIY, juara II Lomba Dalang Tingkat Nasional di Candi Borobudur. Guntoro termasuk dalang gagrag Yogyakarta, meskipun kerap kali menyelipkan gagrag Solo saat pementasan. Gagrag Yogyakarta sangat familiar bagi masyarakat Kulon Progo. Hampir semua dalang Kulonprogo menggunakan gagrag jenis ini.

Penulis : Tjuk Suwarsono

Editor : Widhie Kurniawan

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00