Tesla Akan Dikeroyok

(RRI)
foto
Penulis: Tjuk Suwarsono

KBRN, Jakarta: Gelombang mobil senyap (listrik) agaknya berhasil mengubah peta industri otomotif dunia. Pabrikan lama yang sudah lama menguasai pasar, terutama Jepang, Korea, Jerman, Swedia, Prancis, tiba-tiba harus menghadapi sejumlah pendatang dan pemain baru dari Amerika dan Tiongkok. Tesla sebagai unggulan akan ‘’dikeroyok’’ pabrikan baru yang tak kalah inovatif.

Hebatnya para newcomer ini tidak lagi menempuh pertumbuhan industri ‘urut kacang’ alias memulai dari skala terkecil. Industriawan baru ini langsung melompat ke zaman paling mutakhir  yakni listrik/baterai. Mereka tidak pernah membuat mobil bensin, solar, maupun hibrida sebagai jejak industri ‘yang normal’.

Lompatan kuantum mereka lakukan didukung kekuatan finansial yang hebat, bahkan kapitalisasinya melebihi nilai perusahaan legendaris sekalipun.  Nama besar Elon Musk, orang terkaya di dunia, mendirikan pabrik paling modern di gurun Nevada untuk menghasilkan Tesla.  Dari Amerika pula pemain lama Ford digandeng Amazon bertekat menyaingi Tesla melalui merk Rivian.

Agaknya industri mobil Detroit yang telah lama surut, menemukan momentum bangkit kembali di mobil listrik. Pasar di Amerika dan Kanada sendiri amatlah menggiurkan, sehingga populasi akan melesat. Rivian merk baru yang juga berkiprah, menambah investasi Rp 37 triliun untuk mulai memproduksi pikup dan SUV (Sport Utility Vehicle) berkemampuan off-road. Rivian yang berbasis di Michigan akan  mengombinasikan  listrik dan baterai yang dihasilkan dari hidrogen  terkompresi, memungkinkan mobil mampu menempuh 600 km sekali mengisi dayanya.

Masih ada pesaing lagi dari Amerika. Fisker yang berbasis di Los Angeles berencana untuk mulai menjual mobil listrik SUV crossover Ocean pada tahun 2022 dengan harga setara Rp 592 juta atau lebih murah Rp 148 juta dari Tesla Model Y yang sangat laris dan dijual sekitar Rp 742 juta.

Bersama Fisker tampil pula merk Nikola.  Pemilik  Nikola Corp,  Trevor Milton, berani sesumbar perusahaannya lebih cepat berkembang melebihi Tesla. Dikutip dari CNBC, Nikola yang go public pada awal Juni 2020 masih melakukan penelitian dan pengembangan dan belum menghasilkan pendapatan. Nikola  berencana membuat truk bertenaga baterai dan hidrogen . Ia juga memroduksi  semi sel bahan bakar hidrogen tahun depan dan kemitraan manufaktur dengan pembuat mobil pikap Badger serba listrik.

Lawan tangguh Amerika mungkin akan lahir dari raksasa seperti Mercedes Benz, Audi, BMW, atau Volkswagen. Sementara Jepang dan Korea juga menyiapkan diri dengan kolaborasi. Toyota misalnya membeli saham Tesla dan sejak 2010 sudah menjalin kerjasama. Toyota RAV 4 EV yang bentuk dan dimensinya mirip Toyota Rush model lama, dikembangkan bertenaga baterai lithium dan beberapa tenaga penggerak buatan Tesla

Bloomberg News  memberitakan kerjasama Tesla- Toyota berakhir diwarnai sengketa para insinyurnya. Tim Toyota menolak rancangan Tesla yang melindungi baterai RAV4 untuk digunakan secara mirip pada sedan Model S. Akibatnya sejak 5 Juni 2017 Toyota menjual seluruh sahamnya di Tesla dan bertekat mengembangkan sendiri mobil listriknya.

Dengan Daimler AG kerjasama Tesla dibangun sejak 2007. Dua tahun kemudian Daimler membeli 10% saham Tesla sebagai bagian kolaborasi mereka.

Tesla membangun motor penggerak untuk Mercedes Benz A-class yang sanggup menempuh 200 km. Baterai yang dipasangkan memiliki hampir 4.000 sel ion lithium untuk memperkuat pasar Mercedes di Eropa.

Kolaborasi paling kuat tentu dengan perusahaan elektrik terkemuka Jepang, Panasonic yang diandalkan Tesla menyiapkan baterai andalannya. Keunggulan mobil listrik ini selain ditentukan oleh ketangguhan motor penggeraknya, juga terlebih ditentukan unjuk kerja baterai pendukungnya. Revolusi pembuatan baterai juga terus berlangsung hingga hari ini, bagaimana membuatnya tahan menyimpan listrik, bentuknya kecil dan ringan, serta bisa diisi ulang dalam waktu pendek, menggunakan segala jenis dan mutu sumber daya listrik.

Kepak sayap Tesla dalam waktu hanya 10 tahun telah mencakup seluruh penjuru dunia. Ruang pamer dan bengkelnya ada di Hongkong, Beijing, Shanghai sejak 2013. Ia juga merambah Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan. Pemerintah Cina bahkan  mendukung dibukanya pabrik besar Gigafactory di Shanghai  bulan Juli 2018 dan rampung dibangun Agustus 2019.

Di Bangalore India juga dijalin kerjasama dan dibangun Tesla India Motors and Energy Private Limited.  Benua Australia juga dirambah melalui Sydney dan Melbourne. Di Kanada kota yang dibidik adalah Montreal, Calgary, Toronto, dan Calgary. Ekspansi yang agresif juga berkembang di Timur Tengah, Dubai di Uni Emirat Arab, Amman di Jordania, dan Tel Aviv Israel. Sebanyak 200 sedan tipe S dan X sudah dipesan Departemen Perhubungan untuk memperkuat perusahaan taksi Dubai. Sebuah pabrik gigantic lainnya dibangun di Brasil untuk melayani konsumen di Argentina, Cile, Paraguay, Uruguay, Colombia, dan Meksiko.

 Tesla juga mengembangkan teknologi maju autopilot untuk menciptakan mobil yang efisien dan aman di segala medan. Berbagai perangkat lunak sensor disematkan, dilengkapi delapan kamera, 12 sensor ultrasonik, dan radar depan-belakang. Dashboard mobilnya tidak lagi berisi banyak indikator. pengemudi cukup menghadap kamera dan mengoperasikan layar komputer , seperti halnya pilot yang tak perlu melihat jalan di depannya.   

Selanjutnya : Menghadapi Alibaba

Halaman 1 dari 2

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00