Akhirnya Tesla Pilih Australia

Akhirnya Tesla Pilih Australia
foto
Penulis: Tjuk Suwarsono

Nikel Indonesia jadi rebutan dunia. Sebaliknya perusahaan industri baterei berbahan baku nikel, juga diperebutkan negara-negara penghasil. Tesla, pabrik mobil listrik (baterei) di Amerika Serikat (AS) salah satu yang diincar, termasuk oleh Indonesia. Padahal yang sudah memulai mobil baterei bukan hanya Tesla. Ada Volkswagen, Mercedes Benz, BMW, Audi, di Jerman. Dari Jepang hampir semua pabrik mobil menyiapkan strategi perangnya.  Tetapi hanya Tesla, milik milyuner Elon Musk, yang paling fkus mengarahkan industrinya ke kendaraan baterei.

Pemerintah Indonesia sudah mempromosikan kerjasama dengan Tesla sejak 2019. Pada Februari lalu Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi mengklaim mengantongi proposal dari Tesla. Kementerian Perindustrian pada pekan lalu menyatakan Indonesia telah siap menjadi produsen baterai kendaraan listrik, salah satunya didukung cadangan nikel yang terbesar di dunia.  Tesla pun mengabarkan janji-janji menawan karena sangat mengincer nikel Indonesia.

Pada akhirnya Tesla memutuskan memilih perusahaan BHP, penambang nikel terbesar di dunia yang berada di Australia. Langkah Tesla ini merupakan strategi agar suplai nikel tidak dikontrol China, seperti di Indonesia. Kerjasama dengan BHP merupakan kesepakatan ketiga yang dilakukan Tesla pada tahun ini, setelah Vale dan Goro.

Laporan Financial Times, Elon Musk, CEO Tesla, mengatakan dia akan menawarkan ‘kontrak besar dalam jangka waktu lama’ pada perusahaan yang menambang nikel secara ‘efisien dan peka pada lingkungan’. Tesla akan membeli nikel dari pabrik BHP, Nickel West, di Australia, yang merupakan salah satu produsen logam baterai dengan emisi karbon terendah.

Peduli Lingkungan

Tesla dan BHP juga berjanji melakukan kerja sama pengembangan ‘energy storage’ yang ramah lingkungan. Padahal, kerja sama yang dibuat dengan Australia tersebut pernah dijanjikan oleh Tesla sebelumnya di Indonesia yang merupakan penghasil nikel terbesar di dunia.

Mengapa Tesla memutuskan untuk beli dari Australia? Mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar mengungkap analisis pribadinya mengenai alasan Tesla pilih Australia.

Arcandra Tahar menjelaskan bahwa pemegang saham Tesla meminta perusahaan tersebut untuk berkontribusi dalam dampak perubahan iklim. BHP adalah salah satu perusahaan tambang yang sangat peduli dengan lingkungan dan berhasil menjadi penambang nikel dengan emisi CO2 terkecil. Mereka punya komitmen mengelola tambang yang ramah lingkungan dengan menggunakan energi terbarukan.

Tesla dan BHP memiliki kesamaan visi soal kerusakan lingkungan, yang disebabkan kegiatan bisnis tidak ramah lingkungan. Tesla dan BHP berkomitmen untuk punya usaha yang berkelanjutan (sustainable) dan handal, sehingga kegiatan bisnis mereka bisa bertahan lama. Kedua perusahaan ini akan saling menguatkan posisi mereka di mata investor.

Nilai saham  kerjasama keduanya berpotensi menaikkan nilai saham mereka. Dapat dibayangkan bagaimana reaksi investor apabila Tesla bekerjasama dengan penambang nikel yang tidak ramah lingkungan. Tesla bisa jadi mendapatkan harga nikel yang lebih murah, tapi kalau nilai sahamnya turun maka kerugian besar bagi Tesla, kata Arcandra Tahar . BHP pun akan jatuh jika menjual nikel kepada perusahaan yang ternyata tidak peduli lingkungan. Inilah pilihan logis perusahaan dunia yang sudah go publik.

Australia bersungguh-sungguh sebelum kerja sama dengan Tesla ini terealisasi.Semua perusahaan tambang yang ada di Australia disokong oleh pemerintah untuk bisa berpartisipasi aktif dalam mengurangi dampak perubahan iklim. Pemerintah hadir lewat insentif  fiskal yang bisa meringankan beban perusahaan.

Nikel merupakan material kunci buat Tesla menciptakan mobil listrik yang mampu menempuh jarak perjalanan lebih jauh. Nikel membuat baterai bisa memiliki lebih banyak kerapatan energi. Setiap mobil listrik membutuhkan setidaknya 40 kg baterai.

Dikontrol Cina

Reuters menjelaskan produsen otomotif dunia saat ini mencari penyuplai alternatif agar mengurangi ketergantungan dari China. Indonesia adalah salah satu penyuplai besar nikel, kira-kira mewakili 30 persen di dunia menurut Nickel Study Group, dominasinya juga diperkirakan bakal mencapai 50 persen pada 2025. Sebagian besar produksi nikel di Indonesia menggunakan batu bara dan produsennya dikontrol China.

Pemerintah Indonesia sudah mempromosikan kerjasama dengan Tesla sejak 2019. Pada Februari lalu Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi mengklaim telah mengantongi proposal dari Tesla. Kementerian Perindustrian pada pekan lalu menyatakan Indonesia telah siap menjadi produsen baterai kendaraan listrik, salah satunya didukung cadangan nikel yang terbesar di dunia.

Menurut Kemenperin saat ini sudah ada lima perusahaan pemasok bahan baku baterai di Indonesia, yakni Huayue Nickel Cobalt, QMB New Energy Material, Weda Bay Nickel, Halmahera Persada Lygend, dan Smelter Nikel Indonesia.

Selain itu sudah ada empat produsen baterai di dalam negeri, yaitu International Chemical Industry, ABC Everbright, Panasonic Gobel, dan Energizer. Steve Brown, konsultan independen di Australia, mengatakan kepada Reuters, strategi Tesla menggaet BHP logis, sebab peluang mendapatkan nikel di dunia saat ini tidak banyak. Jejak karbon di pabrik Nickel West dikatakan setengah dari para produsen nikel top di Indonesia, yang menggunakan teknologi berenergi besar untuk mengekstraksi nikel dari bijih laterit.

Nikel kini jadi topik hangat. Nikel menjadi pendorong perubahan dalam pemanfaatan energi. Diperkirakan ada 3.269.671 unit kendaraan listrik di pasar kendaraan listrik global pada tahun 2019 dan jumlahnya akan mencapai 26.951.318 unit pada tahun 2030. Makin tingginya permintaan kendaraan listrik secara otomatis akan membuat industri kendaraan listrik menjadi salah satu yang paling populer.

Indonesia akan ikut menyongsong tren kendaraan listrik ini dengan mempromosikan mobil hemat energi dan mempercepat produksi baterai kendaraan listrik. Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle) untuk Transportasi Jalan mendukung percepatan produksi tersebut. Berdasarkan data yang dihimpun Investor Daily, Kementerian Perindustrian menyebutkan target jumlah mobil listrik di Indonesia mencapai 400.000 unit pada tahun 2025, lalu meningkat jadi 5,7 juta unit pada tahun 2035.

Baterai ESS

Sistem Penyimpanan Energi (Energy Storage System/ESS) menjadi keinginan  AS berinvestasi di sektor ESS di Indonesia. Dengan kapasitas penyimpanan 100 MW, ESS memiliki kapasitas yang jauh lebih besar dari baterai listrik. ESS dapat berfungsi sebagai penstabil atau sebagai pengganti, yaitu sebagai pembangkit peaker (untuk memenuhi permintaan listrik tinggi).

ESS merupakan bagian dari energi baru dan terbarukan. Menurut skenario International Renewable Energy Agency (IRENA), sumber energi untuk pembangkit listrik dari energi terbarukan akan mencapai 38% pada tahun 2030. Persentase ini akan meningkat hingga 55% pada tahun 2050. Target untuk mencapai bauran energi baru terbarukan sebesar 23% pada tahun 2025.

Indonesia memiliki cadangan nikel melimpah. Nikel dapat ditemukan di berbagai wilayah, seperti Halmahera Timur di Maluku Utara, Morowali di Sulawesi Tengah, Pulau Obi di Maluku Utara, dan Pulau Gag di Kepulauan Raja Ampat. Bijih nikel laterit (limonit dan saprolit) merupakan komoditas umum di industri nikel di Indonesia.  Bahan baku ini di Indonesia sangat berlimpah. Inilah yang menjadi alasan dibangunnya industri baterai kendaraan listrik berjenis NCA (nikel kobalt alumunium oksida) dan NMC (nikel mangan kobalt oksida).

Empat badan usaha milik negara, yaitu PLN, Antam, Inalum, dan Pertamina membentuk Indonesia Battery Corporation (IBC) untuk mendukung upaya pemerintah meningkatkan nilai tambah komoditas mineral yang lebih strategis. IBC turut serta dalam upaya hilirisasi nikel dengan membangun smelter feronikel di Halmahera Timur bernama Haltim. Smelter ini memiliki kapasitas produksi 13.500 ton nikel dalam feronikel (TNi) per tahun.

LG Energy Solution juga resmi menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan pemerintah terkait proyek pabrik baterai kendaraan listrik. Pada akhir tahun 2020, perusahaan tersebut berkomitmen untuk berinvestasi di industri baterai dari hulu hingga hilir dengan nilai investasi sebesar 9,8 miliar dolar AS atau sekitar Rp142 triliun.

Pabrik tersebut direncanakan akan mengintegrasikan seluruh rantai pasok baterainya, dari penambangan, smelter, prekursor, katoda, mobil, hingga fasilitas daur ulang. Semua fasilitasnya akan dibangun di Indonesia. Dalam MoU antara pemerintah dan LG tersebut disepakati bahwa 70% nikel yang digunakan untuk memproduksi baterai mobil listrik harus diolah di Indonesia.

Investor lain yang berencana berinvestasi adalah Contemporary Amperex Technology (CATL), sebanyak 5 miliar dolar AS atau setara Rp 70 triliun. Pemerintah mewajibkan CATL mengolah 60% nikel yang digunakan untuk memproduksi baterai kendaraan listrik di Indonesia.

Penulis : Tjuk Suwarsono

Editor : Widhie Kurniawan

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00