Diakui, Sulit Atur Penonton Reyog Jaga Jarak

KBRN, Ponorogo: Seni pertunjukan Reyog Ponorogo kembali menggeliat setelah sekian lama ditiadakan akibat adanya pandemi Covid-19. Utamanya setelah dilaunching oleh Pemkab Ponorogo satu bulan lalu, dengan nama Reyog New Normal Atau Reyog Adaptasi Kebiasaan Baru.

Namun Reyog yang diperbolehkan masih sebatas pertunjukan Reyog rutin bulanan setiap tanggal sebelas. Seperti halnya pagelaran Reyog yang diselenggarakan Pemerintah Desa Lembah, Kecamatan Babadan Kabupaten Ponorogo, pada Selasa, (11/8/2020) sore.

“Karena Camat Babadan melihat Desa Lembah yang paling siap, karena merupakan daerah yang banyak mengadakan latihan maka dinilai paling siap dan kemudian ditunjuk. Dan Akhirnya digelar bertepatan tanggal 11 yang merupakan hari jadi Ponoroogo hari ini ,” sebagaimana diungkapkan Kepala Desa Lembah Heri Setyo Kurniawan, Rabu (12/8/2020).

Pantauan di lokasi, sejumlah protokol kesehatan memang ketat diterapkan, semisal para penari Jathil yang wajib mengenakan faceshield dan pergantian gigitan dadak merak (barongan utama reyog) bagi para pembarong. 

Meski demikian, tidak semua protokol kesehatan diterapkan pada acara tersebut.

Semisal para pemain musik yang belum bisa menerapkan jaga jarak, penggunaan masker baik pemain maupun penonton dan jumlah masa yang berdesakan sehingga tidak dapat menerapkan physical distancing.  

Pemerintah Kabupaten Ponorogo sendiri sebetulnya telah mengeluarkan SOP terkait pertunjukan Reyog Adaptasi Kebiasaan Baru diantaranya tidak boleh dilakukan diruang terbuka namun wajib di halaman Desa/Kelurahan sehingga mampu membatasi penonton. Namun kenyataan di lapangan berkata lain.

“Ya yang paling sulit itu jaga jarak terutama kalau ada pertunjukan seperti ini. Kecuali pertunjukan diruang tertutup,” sambungnya.

Begitu pula protokol kesehatan bagi para pemain. Padahal Heri mengaku telah melakukan sosialisasi sejak jauh-jauh hari, baik kepada para pemain maupun masyarakat yang menonton.

Meskipun demikian, sejumlah upaya telah dilakukan panitia penyelenggara pertunjukan. Hal ini nampak dari penyediaan tempat cuci tangan, cek suhu badan dengan thermo gun dan setiap penonton wajib melewati bilik sterilisasi.

Pertunjukan Seni Reyog Ponorogo Manggolo Mudo Desa Lembah Babadan seolah menjadi pengobat rindu masyarakat atas tradisi kebanggaan mereka yang telah lama vakum karena Covid-19. Pertunjukan demi pertunjukan mulai tarian Jathil, Atraksi Lincah Bujang Ganong yang diperagakan anak-anak hingga Remaja, Prabu Kelana Sewandono hingga munculnya Ikon Dadak Merak menyedot ratusan pengunjung.

Untuk sementara waktu pertunjukan Reyog digelar secara bertahap dalam masa adaptasi kebiasaan baru ini. Yang dulunya pertunjukan Reyog digelar diseluruh desa secara serentak tiap bulan, namun saat ini hanya satu desa secara bergantian per bulannya pada tiap kecamatan. Namun karena kebijakan inilah yang juga dikhawatirkan malah memicu masyarakat desa lain untuk berbondong-bondong. Sehingga usaha mengunci kerumunan secara lokal tetap sulit dilakukan.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00