Desa Kanekes Baduy, Keteguhan Adat Budaya Lokal di Alam Modernisasi

KBRN, Jakarta : Dengan menempuh jarak 38-40 km dari Kota Rangkasbitung, Chacha tiba di kampung halamannya, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, Indonesia. Chacha atau karib disapa Ari, adalah perempuan lokal Suku Baduy yang sehari-harinya tinggal di kawasan Depok, Jawa Barat. Urang Kanekes, begitulah sebutan penduduk asli dari desa tersebut.  

Dengan populasi sekitar 26.000 orang, mereka merupakan salah satu suku yang mengisolasi diri dari dunia luar. Selain itu, mereka juga memiliki keyakinan tabu untuk didokumentasikan, khususnya penduduk wilayah Baduy Dalam.

Wilayah Kanekes secara geografis terletak pada koordinat 6°27’27” – 6°30’0” LS dan 108°3’9” – 106°4’55” BT (Permana, 2001). Mereka bermukim tepat di kaki pegunungan Kendeng, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Rangkasbitung, Banten. Wilayah yang merupakan bagian dari Pegunungan Kendeng dengan ketinggian 300 – 600 m di atas permukaan laut (DPL) tersebut mempunyai topografi berbukit dan bergelombang dengan kemiringan tanah rata-rata mencapai 45%, yang merupakan tanah vulkanik (di bagian utara), tanah endapan (di bagian tengah), dan tanah campuran (di bagian selatan). suhu rata-rata 20 °C.

Chacha sangat mencintai kampung halamannya. Baginya, semua aturan adat yang berlaku adalah sesuatu yang harus dipatuhi karena sudah berlaku sejak turun temurun. Dari tidak bisa bermain handphone di dalam desa, tidak bisa mendokumentasikan diri maupun keadaan desa, semua itu sudah biasa buat Ari.

Ari mengakui, dirinya tak menutup diri jika ada rekan-rekan kerja atau sahabatnya di luar desa mengagumi keindahan serta keaslian kampung halamannya. Namun ia kerap mengingatkan dengan lembut bahwa tidak bisa diambil foto. Dan kalaupun ada yang merengek minta foto, Ari pastinya akan memberikan, tapi sebatas di gerbang desa saja.

Bahkan kepada RRI, Chacha mengutarakan, di desanya ini, satu rumah itu satu lampu, dan sisanya, sudah jelas menggunakan obor. Jadi memang masih terjaga orisinalitas dan keasriannya. Dan obor yang menjadi alat penerangan masyarakat desa saat malam hari, kata Ari, merupakan hal unik yang membuat banyak orang penasaran.

Selain obor, ada lagi yang menjadi keunikan Desa Kanekes, yakni Mustika. Untuk diketahui, dalam literaturnya, Mustika disebutkan sebagai makhluk yang berasal dari alam Ghoib yang berwujud menjadi sebuah batu mustika, karena ia ingin dirawat atau memiliki tuan/teman. Mustika juga bisa berwujud batu akik, batu kristal, fossil, tanaman langka, batu yang berasal dari tanaman atau hewan, serta benda lain semisal Keris.

Akan tetapi menurut Ari, Mustika di desanya ini lebih berwujud mahkota atau batu bertuah, yang konon diyakini masyarakat setempat bisa membawa junjung derajat. Percaya tidak percaya, tapi hal ini memang terjadi, kata Ari kepada RRI, sambil memperlihatkan Mustika junjung derajat berwarna putih susu miliknya. Memang sekarang masih seperti kanvas alias tanpa gambar dan guratan warna, akan tetapi nantinya, seiring waktu, akan muncul gambar atau guratan warna dengan sendirinya.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, penduduk Desa Kanekes Baduy memiliki usaha kecil-kecilan seperti produksi madu dan sepatu kulit. Tapi untuk sepatu kulit, Ari meminta jangan dikonotasikan dengan bahan kulit yang mahal, akan tetapi ini dari bahan yang murah meriah, namun mutu serta daya tahan sepatu tersebut dijamin tidak kalah dengan produk lokal lainnya di luar wilayah Baduy.

Satu lagi yang menjadi sandaran hidup masyarakat lokal di sana adalah dengan menjual madu hutan asli/orisinil. Biasanya penduduk mengambilnya dari sarang lebah yang ada di hutan kawasan lereng pegunungan Kendeng, dan membawa hasilnya untuk disuling di rumah sampai akhirnya ditempatkan ke wadah-wadah botol yang siap jual.

Terakhir, kisah Ari mengenai Desa Kanekes, kampung halamannya ini berujung pada hal menarik lainnya. Apa itu?

"Di sini ada petualangan menarik, mencari Keris. Lalu ada juga Kampung 'nyeker'," kata Ari yang kemudian hilang kontak akibat kesulitan sinyal handphone saat berkomunikasi dengan RRI dari pintu gerbang desa.

Waduh, ending-nya menggantung begini yah. Gimana sih fenomena mencari Keris yang kata Ari menarik itu? Lalu bagaimana pula Kampung nyeker yang dikatakan sebelumnya? Sepertinya jawaban itu bisa didapatkan dengan kunjungan langsung ke lokasi. (Foto: Chacha)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00