Reog Ponorogo Berhak Diakui Sebagai Warisan Dunia

Foto: ( dok ist )

KBRN, Ponorogo: Upaya mendaftarkan Reog Ponorogo sebagai warisan budaya dunia ke UNESCO terus diupayakan, seperti mematangkan penyusunan naskah akademis.

Peneliti Reog dan Dosen pengajar di Universitas Muhammadiyah Ponorogo Rido Kurnianto mengatakan, Reog Ponorogo adalah warisan nenek moyang yang sangat mahal nilainya, sehingga perlu dilestarikan dan dikembangkan, agar mendapat pengakuan dari dunia.

“Salah satu keunikannya di Ponorogo Reog itu sudah menjadi jati diri, mulai anak kecil hingga orang dewasa. Tanpa disuruh mereka sudah belajar karena kecintaannya,” kata Rido dalam Dialog Lintas Madiun Pagi Programa 1 RRI Madiun dengan topik “Reog Ponorogo Menuju Warisan Budaya UNESCO” Kamis (13/1/2022).

Rido yang terlibat aktif dalam mendorong Reog Ponorogo diakui UNESCO menyebut, Reog secara sosial telah menjadi jati diri dan identitas masyarakat Ponorogo.

Hal itu telah memenuhi apa yang disyaratkan UNESCO, namun perlu narasi yang lebih mudah diterima.

“Dari aspek ini maka transmisi seni reog sebagai satu indikator atau deskriptor yang disyaratkan UNESCO sudah sangat layak. Wong ini sudah menjadi jati diri,” tegasnya.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kabupaten Ponorogo Judha Slamet Sarwo Edi mengatakan, sesuai yang disyaratkan UNESCO pemerintah daerah tidak boleh mengintervensi langsung dalam bentuk regulasi karena kesenian dan kebudayaan harus lahir dari tengah masyarakat, dan kabar baiknya Ponorogo telah memenuhi itu.

Namun dalam hal ini Pemerintah Daerah dalam posisi fasilitator dan menggiatkan kebudayaan diantaranya dengan berbagai festival yang digelar.

Karena secara otomatis hal ini akan mendorong masyarakat, terutama pelajar yang ikut bergairah sebagaimana perlombaan atau festival Reog yang selama ini digelar oleh Pemda.

“Andaikan kita membuat aturan itu kita masukkan dalam program kegiatan seperti halnya Festival. Karena UNESCO menyaratkan tidak boleh ada keharusan. Jadi pendekatannya yang berbeda dan otomatis mereka terlibat secara mandiri,” kata Judha.

Sementara itu, Koordinator Tim Asistensi ICH UNESCO Hamy Wahjunianto mengatakan, Reog Ponorogo bukan hanya layak namun sangat berhak untuk menjadi warisan budaya Indonesia dan dunia dengan daya dukung dan instumen yang ada.

“Kesimpulan kami sebenarnya Reog Ponorogo ini bukan hanya layak, tapi sangat berhak menjadi warisan budaya tak benda Indonesia dan bahkan dunia oleh UNESCO. Valuenya yakni mewarisi dan mewariskan, dan ini menjadi prestasi besar kita sebagai tanggung jawab kepada leluhur dengan mencatatkannya ke UNESCO sehingga tidak akan diklaim pihak manapun,” papar Hamy.

Lebih jauh Hamy mengungkapkan, dukungan besar dari komunitas masyarakat dan diaspora Ponorogo yang tergabung dalam Persatuan Warga Ponorogo (PAWARGO) juga menjadi bagian tak kalah penting dalam upaya pelestarian dan pengembengan Reog Ponorogo secara khusus dan Kabupaten Ponorogo secara umum kedepannya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar