Tradisi Meugang Aceh Menyambut Hari Besar Islam

Foto : RRI/Fadil Tarmizi

KBRN, Banda Aceh : Hari Meugang merupakan tradisi sakral bagi masyarakat Aceh yang sudah dilakukan sejak masa kerajaan.

Pada momentum hari meugang tersebut, masyarakat Aceh melakukan penyembelihan hewan baik itu sapi, kerbau atau kambing.

Di Aceh dalam satu tahun ada tiga kali tradisi meugang dilaksanakan, yaitu menyambut bulan suci Ramadhan, menyambut lebaran Idul Fitri dan Ildul Adha. Berikut penjelasan Ramli Yus selaku budayawan Aceh tentang tradisi meugang.

“Meugang di aceh satu budaya yang turun temurun, dari dulu sejak masa kejayaan Sultan sudah ada, hari meugang di Aceh ini sebagai pertanda bahwa besok puasa, atau lebaran, ini bukan hukum tapi adat, tradisi yang tidak berlawanan dengan agama, kenapa ? di Aceh ini dianggap setahun sekali ada perbaikan gizi, karena besok itu puasa, maka banyak-banyak makan daging masyarakat Aceh,” kata Ramli Yus kepada rri.co.id, Sabtu (16/10/2021).

Setiap perayaan Meugang, seluruh keluarga memasak daging dan disantap secara bersama-sama. Ramli Yus menuturukan, pantang bagi masyarakat Aceh jika tidak memasak daging pada hari Meugang tersebut.

“Kita lihat begini, walau bagaimana pun kondisi ekonomi, miskin, pokoknya bagaimana pun kerja, hari Meugang itu harus ada beli daging, rasanya sangat sedih kalau tidak makan daging. Itu budaya ini tidak ada beda bagi masyarakat mampu atau masyarakat kurang mamp,” ungkap Ramli.

“Jadi bagi orang yang mampu lebih banyak lagi membeli dagingnya. Ada yang dibuat atau diolah dalam bentuk makanan khas Aceh sie reuboh, sie balu atau lainya. Pokonya sepanjang bulan puasa makan daging masyarakat Aceh,” tambahnya.

Hari meugang di Aceh dirayakan dua hari menjelang penyambutan bulan Suci Ramdhan, lebaran Idul Fitri dan lebaran Idul Adha. Saat itu lah, pasar daging diserbu oleh masyarkat dari berbagai kalangan.

“Meugang itu, kenapa ada pada saat menyambut lebaran, karena pada momen lebaran itu banyak keluarga-keluarga jauh yang berkumpul  untuk silaturahmi, hari raya di Aceh itu dikasih makan, beda kalau budaya di kota itu, kalau di kampong-kampung itu siapa yang datang dikasih makan,” ungkapnya.

“Jadi seorang mamak kalau tidak di bawa pulang daging sama anaknya rasanya sedih sekali, yang mamak beli ada, tapi yang anak beli mana? Kita pun harus usahakan satu tumpuk atau sekilo paling tidak harus kita bawa pulang ke rumah, rasanya seperti wajib,” tutur Ramli.

Meugang memiliki nilai religius karena dilakukan di hari-hari suci umat Islam. Masyarakat Aceh percaya bahwa nafkah yang dicari selama 11 bulan wajib disyukuri dalam bentuk tradisi Meugang.

Pelaksanaan hari meugang secara jelas menunjukan bagaimana masyarakat Aceh menyambut hari besar Islam. Dalam perkembangannya, tradisi ini masih terus dilakukan oleh masyarakat di Aceh disetiap tahunnya.

Selain itu, tradisi Meugang ini juga difungsikan sebagai sarana bagi masyarakat untuk saling bersosialisasi, berbagi, dan merayakan bersama. Hal inilah yang membuat tradisi Meugang selalu ditunggu-tunggu masyarakat tanah rencong.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00