Mahasiswa Doktoral Jalani Puasa di Taiwan

Muhammad Muslih, mahasiswa studi doktoral di Taiwan, sudah lima tahun menjalani puasa di negeri orang.

KBRN, Malang: Menjalankan puasa Ramadan di negeri orang memiliki cerita tersendiri. Salah satunya yang dialami Muhammad Muslih, dosen Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang sudah lima tahun menjalani ibadah puasa di Taiwan. 

“Kalau Bang Toyib tiga kali puasa tiga kali Lebaran, saya sudah lima kali puasa lima kali Lebaran disini,” ungkap Muslih, pada Minggu (30/4/2022).

Muslih sedang menempuh studi doktoral di Taiwan, menjadi mahasiswa Taipei Medical University, Ph.D. program in Nursing. Selama lima tahun ini, Muslih sudah terbiasa dengan suasana Ramadan di Taiwan.

“Suasana bulan Ramadan di luar negeri tentu memiliki perbedaan dibanding di Indonesia. Tidak ada yang namanya budaya membangunkan sahur hingga berburu takjil,” katanya. 

Tak hanya itu, kondisi musim di Taiwan juga diakuinya menjadi kendala saat pertama kali datang ke Taiwan, karena berdampak pada rentang waktu berpuasa yang bertambah dua jam.

“Satu-satunya yang mengingatkan kita adalah jam dan aplikasi muslim yang ada di gawai. Lamanya waktu puasa juga tergantung musimnya. Kalau April, biasanya pukul 4.15 sudah subuh dan magrib sekitar pukul 18.24. Jadi berpuasa 14 jam, bahkan kalau summer, mahgrib  bisa hampir pukul 7 malam,” ujarnya.

Agar bisa merasakan suasana Ramadan, Muslih biasanya jalan ke masjid-masjid untuk bertemu dengan saudara muslim dari berbagai negara. Selain itu, Muslih yang tinggal bersama anak dan istrinya di Taiwan juga lebih sering menyiapkan makanan berbuka. Apalagi mengingat tidak ada festival Ramadan atau pasar takjil seperti di Indonesia.

 “Selama 30 hari Ramadan ini, saya biasanya main ke masjid sekalin iftar dan tarawih. Kalau ke tempat lain, rasanya sama saja seperti hari biasa. Paling seru ya ketika main ke masjid, bertemu saudara muslim dari berbagai negara, berbagi cerita dan makanan,” tambah Muslih.

Ia juga merasa senang karena mahasiswa muslim di Taiwan seringkali mengadakan acara buka bersama kemudian dilanjutkan dengan tarawih. Acara seperti itu ia nilai bisa mempererat silaturahmi di bulan Ramadan.

“Salat tarawih biasanya dilakukan di masjid yang tersebar di beberapa kota. Kalau di Taipei, ada di Taipei Grand Mosque dan Taipei Cultural Mosque. Selain itu, biasanya mayoritas komunitas mahasiswa muslim di tiap kampus juga mengadakan acara buka bersama dan tarawih bersama selama Ramadan,” kata dia. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar