Kenangan Kim Chang-beom Tentang Indonesia

Dubes Korea Selatan untuk Indonesia, Kim Chang-beom (kiri) bersama Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi (Dok. Pribadi/IG Kim Chang-beom)

KBRN, Jakarta: 2020 menjadi tahun terakhir untuk Kim Chang-beom, mengemban tugas sebagai Duta Besar Korea Selatan di Indonesia.

Kim Chang-beom sendiri sebelumnya pernah menjabat sebagai Konselor Politik Kedutaan Besar Korea Selatan di Jakarta pada 2003 – 2005, yang kemudian pada awal 2018 kembali bertugas di Indonesia namun kali ini sebagai Duta Besar (Dubes).

Indonesia memiliki tempat tersendiri di hati diplomat yang sukses menggelar program “Teko Nang Jawa”, dengan melintasi sejumlah kota di pulau Jawa pada tahun lalu itu.

Menurut Kim, ketika mengawali tugas sebagai Konselor Politik ia memiliki kesempatan untuk menyaksikan Pemilu Presiden secara langsung yang diterapkan pertama kalinya di Indonesia pada 2004.

“2004 adalah tahun sangat bersejarah karena saya bisa melihat Pilpres secara langsung pertama kali di Indonesia. Artinya, saya melihat proses perkembangan demokrasi di Indonesia di tahun 2004,” ungkap Kim saat “Ngobrol Bareng Dubes Kim Chang-beom”, Rabu (24/6/2020) sore secara daring.

Meski, di tahun yang sama menurut Kim, tsunami terjadi di Aceh membawa pengalaman tersendiri baginya dan terutama ketika menyaksikan perubahan di Aceh saat ini.

Dubes Korea Selatan untuk Indonesia Kim Chang-beom saat acara "teko nang Jawa" (Dok. Pribadi/IG Kim Chang-beom)

“Saya tidak bisa melupakan kejadian itu pada 26 Desember 2004 saya berada di rumah dan melihat breaking news di TV, saya maisih ingat betul sampai sekarang. Saya juga ikut ambil bagian untuk menyalurkan bantuan darurat kemanusiaan kepada Indonesia, bahkan saya terjun ke Banda Aceh. Tahun lalu saya ke Aceh menghadiri peringatan 15 tahun tsunami. Jadi, itu merupakan momentum yang sangat mengharukan setelah 15 tahun tsunami terjadi di Aceh dan saya melihat Aceh yang damai. Saya ingin kembali ke sana lagi mungkin saat peringatan 20 tahun tsunami di Aceh,” ucapnya.

Dikatakan Kim, secara khusus ia memiliki keinginan untuk terus menjembatani hubungan bilateral yang telah terjalin antara Indonesia-Korea, seperti dengan rencana membentuk suatu Lembaga Think Tank dengan fokus pada studi strategi dan kebudayaan.

“Saya sebagai diplomat sudah mau selesai, saya sebentar lagi kembali ke Korea. Saya ada beberapa rencana dari dulu. Membangun sebuah Think Tank atau small research centre atau pusat riset yang merupakan cita-cita sederhana, tapi menurut saya ini adalah sebuah impian. Think Tank-nya mungkin akan saya namai sebagai Pusat Studi Strategi dan Budaya” dan saat ini masih direncanakan di Korea,” terang Diplomat yang akan memasuki masa purna tugas pada tahun depan itu.

Kim menjelaskan melalui Lembaga Think Tank yang akan dibentuknya itu, ia berharap bisa menjadi perantara hubungan baik kedua negara melalui berbagai program nantinya.

“Saya akan menjadikan Think Tank ini sebagai platform tentang solusi tantangan global dan melakukan riset. Saya juga ingin menjadi seorang perantara antara Indonesia dan Korea, supaya kedua negara terus menjalin persahabatan yang baik. Saya ingin terus berkontribusi untuk memperluas wadah berbagi antara generasi muda Indonesia dan Korea. Saya ingin memperbanyak kegiatan interaktif pemuda pemudi dalam seni budaya, pendidikan dan lain-lain,” imbuh Kim.

Selanjutnya : Asian Games 2018 Mempersatukan Korea

Halaman 1 dari 2

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00