Didi Kempot: Apakah Musik Saya Campursari?

KBRN, Jakarta: Dua tahun sebelum hari ini,  sekira jam 21.00  WIB  saya ngobrol dengan Didi Kempot. Wawancara berlangsung tidak lama setelah Didi Kempot pulang dari Suriname.

Berita duka kembali menyelimuti dunia musik Indonesia. Kali ini, ketika ramadhan tahun 2020 yang sepi karena pandemi Corona, berita duka itu datang dari musisi legendaris, Dionisius Prasetyo atau yang lebih populer dengan nama Didi Kempot. 

Sepintas musisi yang dicintai berbagai kalangan dan lagu lagunya juga tenar di kalangan komunitas Jawa di Suriname ini menceritakan pengalamannya diminta menyanyikan lagu "Lobi Suriname" oleh Presiden Bouterse. Kedekatan Didi dengan negeri di Amerika Selatan itu  menyebut ibu kota Suriname dalam lagu “Angin Paramaribo”.

Lagu-lagu Didi membuat musik campursari “naik kelas” meski  dalam wawancara lama berdurasi 15 menit itu Didi Kempot menyebut kalau dirinya memainkan musik Keroncong Dangdut karena dia menyanyikan keroncong dengan iringan gendang Dangdut. Konser-konsernya dipenuhi anak-anak muda yang merasa lagu-lagu Didi mewakili perasaan mereka. Berikut petikan wawancara itu:

Bagaimana awal mulai perjalanan berkesenian anda?

Sebelum saya masuk dunia rekaman saya dulu sempat menjadi pengamen jalanan di kota Solo dan Jogya. Terus tahun '84-'85 saya coba mengadu nasib ke Jakarta. Di Jakarta saya menemui komunitas di Slipi. Anak anak Komunitas di sana suka ngarang ngarang lagu juga. Saya juga ikut menulis lagu lagu Jawa. Sambil ngamen kesana kesini saya menyanyikan lagu karya saya sendiri hingga akhirnya ketemu sama produser. Saya coba tawar tawarkan lagu ternyata dipercaya untuk merekam suara saya. Begitu mas ceritanya.

Apakah masa kecil anda suka mendengar jenis lagu lagu yang sering anda nyanyikan ini ?

Saya dari keluarga seniman tradisional Jawa. Bapak saya seorang pemain Ketoprak dan ibu saya seorang penyanyi keroncong. Dan kakak kakak saya juga bersentuhan dengan seni  tradisional. Berangkat dari situ saya sangat mencintai budaya Jawa. Jadi memang sudah akrab dengan lagu lagu tradisi ya Kurang lebih begitu mas. Inggih,

Tadi anda bilang setiba di Jakarta untuk ngadu nasib, Di Slipi nya, persisnya di mana mas ?

Di Bunderan Slipi mas. Disana ada warung Tegal tempat saya nongkrong dulu disitu. Disana ada jembatan, nah kita nongkrong di bawah jembatan itu. 

Warung Tegalnya masih ada ga mas ?

Kayaknya masih ada 

Apakah anda masih ingat nama yang punya Warteg itu ?

Waduh lupa mas. Tapi anak anak pengamen generasi sekarang masih suka nongkrong disitu. Cari  aja disana ada warteg didekat jembatan disampingnya ada Apartemen. 

Kami memang berniat menelusuri perjalanan bermusik anda dari Slipi mas.

Silahkan mas. Kita sering nongkrong disana karena tempat kos kita di Palmerah di dekat kuburan Kemanggisan. Disana saya ngekos dan banyak kos kosan. Anak anak pengamen banyak disana.

Bagaimana ceritanya bisa 'terdampar' dari Solo ke Slipi di Jakarta Barat?

Bukan terdampar. Setelah mengamen Solo di Keprabon  Jogya saya sering dengar komentar orang orang yang sedang makan  di lesehan tentang suara saya yang bagus katanya. Kenapa tidak enggak ngadu nasib ke Jakarta ? Dari situ Kita tertantang berangkat ke Jakarta

Berapa orang yang berangkat ke Jakarta ?

Saya waktu itu saya bertiga.

Siapa saja mas ?

Ada saya terus Fauzi sama Gembong tapi yang dua nya tidak melanjutkan langsung balik kampung waktu itu.

Setelah Fauzi sama Gembong pulang Kampung, lantas siapa yang menemani anda di Jakarta ?

Wah banyak sekali mas yang nemenin saya di Slipi. Ada mas Fahat. Dia masih tinggal di Palmerah situ. 

Sekarang dari teman teman ngamen dulu  yang masing ikut Mas Didi  siapa saja ? 

Yang masih ikut saya sampai sekarang ada mas Yani.Terus yang mantan mantan pengamen dari Solo sebagian ikut kita 

Kebetulan waktu ngamen di Solo waktu itu tengah malem di warung di dekat stasiun itu. Jadi dari situ saja  nulis nulis tentang Stasiun Balapan. Saya lihat banyak orang yang hilir mudik berpergian lewat stasiun itu. Moga moga kemanapun pergi, jangan lupa dengan orang orang yang ditinggalkan.

Didi Kempot adalah nama panggung Dionisius Prasetyo. Didi adalah nama panggilannya, dan Kempot adalah “Kelompok Penyanyi Trotoar”, sebab Didi mengawali karier bermusiknya dari jalanan. Ini sosok yang membuat nama Didi begitu populer di Suriname.

Nah sekarang bagaimana ceritanya bisa terkenal di Suriname ?

Saya waktu itu pertama kali rekaman di Musica Studio saya menyanyikan lagu lagu Jawa salah satunya yang berjudul "Cidro". Nah  ceritanya ada orang Suriname vacancy ke Indonesia. Dia pada beli kaset saya  terus diputarlah lagu lagu itu ke radio bangsa Jawa di Amsterdam Belanda kalau enggak salah. Dari situ orang orang baru kenal suara Didi Kempot tapi belum tahu seperti apa orangnya. Akhirnya begitu orang itu datang kemari (ke Indonesia,red)  lagi kemudian nawarin saya. Apakah mau menyanyi di negeri Belanda dan Suriname ? Terus saya jawab Saya naik pesawat saja belum pernah. Dari negeri saya Indonesia ke Belanda pasti naik pesawat lama sekali, bagaimana nanti ? Ya namanya belum pernah naik pesawat. Terus Tuhan kasih jodoh akhirnya saya terbang juga ke Belanda. Waktu itu tahun 93 saya ingat. 

Kabarnya mau ke Suriname lagi tahun depan ya mas ?

Iya dan kemarin baru pulang dari Suriname mengambil penghargaan. Terima kasih sudah berkarya dengan lagu lagu Jawa. Disana saya menghibur orang orang Jawa yang ada di Surimame. Koser itu juga dihadiri Presiden Surinama dan para menteri menterinya.

Pulangnya bawa apa mas dari Suriname ?

Pulangnya bawa senang saja membawa Merah Putih di sana mas. Waktu bernyanyi membawakan lagu dan penontonya ikut nyanyi bareng misalnya waktu saya nyanyi lagu "Layang Kangen" mereka pada ikut nyanyi semuanya saya merasa terharu. Ini kok ada orang Jawa jauh jauh tinggal di Suriname di Amerika Selatan. Disana saya begitu bangganya sebagai seniman Jawa dengan karya karya kita yang dinyanyikan disana. 

Luar biasa memang mas. Karena katanya 15 persen penduduk Surimane adalah orang Jawa ya mas.

Ini kebetulan saya bersama orang orang Suriname yang sedang vacancy ke Indonesia nih. Sebentar saya komunikasi dulu sama mereka ya ...

(Terdengar suara Didi Kempot menanyakan populasi orang jawa di Suriname ke orang orang Suriname dimana ikut nongkrong bersama dia saat wawancara jarak jauh ini berlangsung) 

Ada 30 persen penduduk Surimane adalah orang Jawa mas kata mereka. Kalau mas mau nanya langsung ke orangnya monggo, kalau mas bisa bahas Belanda ngobrol sama mereka langsung.

Wah saya tidak bisa bahasa Belanda mas. Tapi ngomong ngomong ke Surname kemarin itu penampilan yang ke berapa mas ?

Itu penampilan saya yang ke- 10. Dan perlu diketahui mas ya, saya pertama kali show itu bukan di Surineme tapi di Negeri Belanda tahun 1993. Nah pertama kalinya show di Suriname tahun 1996.

Nah yang kemarin itu adalah yang ke 10 ya mas. Berati anda begitu sering tampil di Suriname?

Ya betul... dan seharusnya orang orang sana kan mestinya bosen ya tapi ternyata ndak.

Kenapa ya mas ?

Ya mungkin mereka merasa terhibur dengan kehadiran kita disana mendengarkan lagu lagu jawa dan yang membanggakan saya orang orang di parlemen ada yang keturunan jawa loh. Dan  menteri dalam negerinya adalah  orang jawa juga kebetulan dia temen baik saya juga.

(kembali terdengar suara Didi Kempot bertanya ke orang orang Suriname tentang sosok orang jawa yang menjadi menteri ? )

Owh maaf mas tadi salah, ternyata bukan menteri dalam negeri tapi menteri tenaga kerja suriname. Namanya Suwarto  Moestadja.

Jawanya darimana dia mas ?

Wah keturunan aslinya saya enggak tahu mas apakah embah embahnya orang Kebumen atau dari daerah mana di Jawa. tapi yang pasti mas saya kenal baik sama dia karena pertama lagu lagu saya dikenal di Belanda dan Suriname waktu di Belanda itu dia lah yang menyiarkan lagu lagu saya mas. Dulu waktu dia menjadi penyiar radio dan sekarang menjadi menteri ketiga kalinya di Suriname.

(Kami menelusuri siapa sosok yang dimaksud Didi Kempot, ternyata menurut Wikipedia  Soewarto juga seorang politisi  yang berkali kali menjadi menteri di Suriname. Masih ditulis Wikipedia Soewarto Moestadja adalah generasi kedua dari buruh kontrak asal Kalirancang, Alian, Kebumen.  Dia adalah seorang penyiar radio yang jadi politisi di Suriname. Dan diketahui pada tahun 2004 menjadi salah satu pemilik stasiun radio dan televisi mustika)

Lagu apa yang suka diputar Mas Soewarto ?

Lagu Cidro dan lagu Layang Kangen. 

Wah seru mas, Ga kebayang bagaimana dia ikut nyanyi waktu mas Didi perform ya ?

Kemarin itu Presidennya saja ikut nyanyi mas. Kebetulan kita dititipkan satu lagu yang ditulis orang Suriname dan saya baca sedikit kemudian saya nyanyikan, dia senang sekali dan ikut menyanyi. Lantas isteri presiden tadi juga sangat menikmati  lagu lagu saya.

Baik mas. Ternyata itu yang membanggakan anda ketika berkali kali tampil di Suriname.

Iya mas. itulah yang membanggakan saya bisa membawa seni tradisi Jawa ke sana. Jadi dalam berkesenian, apapun bentuk dan seni budaya dari manapun itu semuanya indah luar biasa kalau kita suguhnya dengan pengemasan yang bagus ke bangsa manapun. 

Tapi sambutan dari dalam negeri atas karya anda juga lebih meriah mas ?

Meriah mas. Bahkan setelah pulang dari Semarang dalam konser kebangsaan RRI saya langsung mengisi ke beberapa show dan sampai sekarang belum istirahat. Ke Bali, ke Wonosari dan di Ngingrong Gunung Kidul, tadi malem di Karang anyar mengisi acara hari jadi kotanya. Dan lagu lagu saya dibikin orkestra sama teman teman Jogya sangat luar biasa. 

Menurut mas Didi, kenapa lagu lagu anda sangat disukai orang orang, mungkin anda pernah mendengar analisanya  ?

Wah saya enggak tahu, yang terpenting bagi saya adalah bagaimana saya membuat karya karena kita sadar karya itu akan didengarkan lewat radio atau media apapun. Bahkan ditonton. Nah tugas saya adalah bagaimana tetap menjaga budaya tradisi orang orang Timur seperti kita kita ini.

Didi Kempot 1966-2020. Lagu-lagu Didi Kempot menjadi ikon patah hati dan dia dijuluki “godfather of broken heart”. Warga kelas menengah tidak malu-malu lagi mengakui menikmati lagu-lagunya. Sobat ambyar menjadi sebutan yang populer kemudian.

Kembali jauh ke belakang mas. Saat kali pertama anda ke Jakarta. Disebutkan lagu pertama anda adalah lagu "Modal Dengkul" ya mas ?

Lagu itu ada di album saya yang kedua mas. Waktu itu produsernya juga Musica Studio. Album saya pertama kali adalah album yang judulnya "Waiting You" Nah di dalam album itu ada  lagu Cidro yang kemudian menjadi terkenal.

Lagu Modal Dengkul itu berkisah tentang apa mas ?

Ya kalau orang yang ngadu nasib kan modalnya modal dengkul sama kumis mas. Tapi kalau yang namanya nasib, kalau Tuhan mengijinkan dan keseriusan kita, Tuhan tentu akan mengabulkan.

Jadi anda akan  terus bernyanyi ya mas Didi.

Saya akan terus bernyanyi. Dan karya saya yang baru disukai masyarakat luas adalah lagu yang judulnya Banyu Langit. 

Lagu ini berkisah tentang apa mas ?

Yang jelas masih bertema soal cinta mas. Tapi saya selalu membicarakan percintaan di tempat wisata. Pasti itu. Saya suka mencipta lagu yang isinya tentang tempat wisata sambil ikut mempromosikan tempat tempat wisata yang ada di Indonesia. (Didi menyebut lagu lagu yang berbau pesona wisata)

Dari 700-an lagu karya anda apakah sebagian besar tentang pariwisata ?

Iya tentang pariwisata. Dan rata rata lagu yang tentang wisata meledak. Ada juga lagu tentang sejarah yang meledak juga semacam lagu "Stasiun Balapan" atau lagu tentang "Pelabuhan Tanjung Mas" 

Kalau "Stasiun Balapan" ada inspirasi apa sehingga anda menghasilkan lagu itu ?

Seinget saya engga ada momen spesial. Kebetulan waktu ngamen di Solo waktu itu tengah malem di warung di dekat stasiun itu. Jadi dari situ saja  nulis nulis tentang Stasiun Balapan. Saya lihat banyak orang yang hilir mudik berpergian lewat stasiun itu. MOga moga kemanapun pergi, jangan lupa dengan orang orang yang ditinggalkan.

Kini pelantun  orang-orang patah hati itu benar benar telah pergi dalam usia 53 tahun. Jelang kepergiannya, peraih Lifetime Achievement Awards Billboard Indonesia Music Awards 2020 ini aktif menginisiasi konser musik amal untuk membantu penanganan virus corona.  

Selamat jalan Mas Didi Kempot. Orang orang yang anda  tinggalkan pergi tidak akan lupa dengan karya anda.

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00