Kiai Azaim Meminta Masyarakat Tidak Menghina Bangsa Lain Terkait Merebaknya Virus Corona

KBRN, Situbondo: Kiai Haji Raden (KHR) Achmad Azaim Ibrahimy meminta masyarakat untuk tidak mendiskreditkan bangsa atau negara tertentu terkait merebaknya virus corona yang episentrumnya berasal dari Kota Wuhan, Hubei, China.

Menurut Kiai Azaim, tidak ada yang bisa disalahkan dalam kasus ini. Karena jika kasus ini merupakan kecelakaan medis, maka setiap perbuatan akan ada konsekuensinya atau pertanggungjawabannya.

Namun jika ini merupakan peristiwa alam yang memang menjadi musibah bagi umat manusia, maka seluruh umat harus saling menguatkan, mengokohkan, menjaga, dan berikhtiar terus menerus mencari obat penyebabnya, sembari mendekatkan diri kepada Allah SWT.

"Tidak perlu kita mendiskreditkan suatu bangsa, menghina dan mencaci maki," ujar lulusan Ma'had Rusyaifah, Mekkah Al-Mukarromah ini, kepada RRI, Selasa (18/2/2020).

Baca juga : Mendag Sebut Virus Corona Bikin Neraca Perdagangan Indonesia Januari 2020 Defisit

Cucu Pahlawan Nasional KHR As'ad ini, mengemukakan, ditinjau dari sisi agama Islam, bahwa setiap penyakit merupakan ujian dari Allah SWT. Dan sebenarnya, Allah telah mempersiapkan obatnya.

"Maka kita sebagai manusia, dituntut untuk berikhtiar, terus mencari obat penyembuhnya. Salah satu ikhtiar meminta kesembuhan adalah dengan berdoa," terang Kiai Azaim.

Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, Situbondo, ini meminta agar seluruh umat manusia meningkatkan ibadah spiritual kepada Allah SWT, pascamerebaknya virus yang telah menelan korban meninggal dunia mencapai kurang lebih 1.770 orang.

"Ini merupakan signal agar umat manusia semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT," imbuhnya.

Baca juga : WNI Lolos Observasi, Keluarga Bersyukur Anaknya Kembali dengan Sehat

Diberitakan RRI sebelumnya, pemerintah China mencatat ada sekitar 1.770 orang meninggal dunia akibat virus corona, dan ribuan orang dinyatakan terinfeksi. Mayoritas berasal dari kota Wuhan, provinsi Hubei, yang merupakan pusat konsentrasi wabah.

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00