Tien Soeharto, Ibu Negara Pemersatu Pencak Silat Indonesia

KBRN, Jakarta : Akhirnya setelah didorong secara profesional pada 1997, United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) menetapkan Pencak Silat sebagai Warisan Budaya Tak Benda (Intangible Cultural Heritage) melalui sidang Intergovernmental Committee for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage ke 14 yang berlangsung di Bogota, Kolombia, 9-14 Desember 2019.

Informasi penetapan pencak silat sebagai warisan budaya tak benda dipublikasikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui akun Instagram (IG) Direktorat Warisan Diplomasi Budaya, Jumat (13/12/2019) dini hari.

Tak banyak yang menyadari, Indonesia sebenarnya sudah berkomitmen memajukan Pencak Silat sejak era pemerintahan Presiden Ke-2 RI, Soeharto. Ibu Negara kala itu, Siti Fatimah Suhartinah Soeharto atau karib disapa Tien Soeharto memiliki konsep sentralisasi pembinaan pencak silat, kemudian menghibahkan tanah seluas 53.656 meter persegi untuk pembangunan Padepokan Pencak Silat Indonesia yang berada di Jalan Raya Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur, tepat bersebelahan dengan kawasan wisata Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Sejarah Pendirian Padepokan Pencak Silat Indonesia TMII

Padepokan Pencak Silat Indonesia diresmikan Presiden Soeharto pada 20 April 1997. Di dalamnya, terdapat museum yang menyimpan informasi sejarah pencak silat mulai awal ditemukan berdasarkan kajian mendalam sejak zaman prasejarah sampai perkembangan pencak silat menembus dunia Internasional. Untuk mempromosikan pencak silat ke dunia Internasional, museum di Padepokan Pencak Silat Indonesia mencatat terbentuknya PERSILAT atau Persekutuan Pencak Silat Antar Bangsa yang diinisiasi Indonesia.

Ibu Negara Ke-2 RI, Almarhumah Tien Soeharto adalah sosok pertama yang menelurkan konsep sentralisasi pembinaan pencak silat Indonesia. Dirinya mempersatukan semua perguruan pencak silat nusantara untuk berada dalam satu wadah pembinaan, pengembangan, pelestarian, serta promosi mancanegara lewat Padepokan Pencak Silat Indonesia. Oleh karena itu, padepokan dibangun dengan fasilitas skala Internasional. 

Pendopo utama merupakan kawah candradimuka pembentukan serta pematangan teknis para pesilat dengan program latihan yang dipantau langsung oleh pengurus perguruan maupun pengurus wilayah dibawah naungan Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (PB IPSI).

Pondok Gedeh, merupakan gelanggang unjuk kekuatan para pesilat dalam menuai prestasi, yang dilengkapi tribun 3.000 tempat duduk permanen, dua set kursi panggung VIP, toilet, serta sistem pengolahan audio dalam ruangan berikut lampu penerangan, dimana semua disesuaikan standar Internasional. Untuk mengenang jasa dan sumbangsih Ibu Tien Soeharto terhadap pengembangan pencak silat Indonesia, tepat di depan Pondok Gedeh, berdiri monumen yang dipersembahkan oleh warga pencak silat dunia, sebagai kenangan serta penghargaan tertinggi atas semua jasa dan pengorbanan yang diberikan.

Pondok Pustaka, yang berada tepat di sisi kanan pintu masuk utama padepokan adalah perpustakaan dan museum pencak silat Indonesia yang menyimpan sejarah perkembangan bela diri asli Indonesia tersebut hingga ke penjuru dunia, berbagai senjata khas pencak silat dari semua suku nusantara, serta beragam buku mengenai pencak silat. 

Untuk keperluan terkait acara seremonial, diskusi organisasi maupun acara tertentu lain, Padepokan Pencak Silat Indonesia dilengkapi Pondok Serbaguna. Ruangan seluas 784 meter persegi berkapasitas maksimal 1.500 orang ini dilengkapi sistem pendingin ruangan, dua kamar rias, dua toilet, dua meja penerima tamu, karpet merah selamat datang, kursi tamu elegan, dapur higienis, serta penataan audio dan pencahayaan berstandar Internasional.

BACA JUGA: Sejak 1997 Didorong Mendunia, Baru 2019 Pencak Silat Diakui UNESCO

Pondok Penginapan, adalah fasilitas yang dimiliki padepokan untuk mewadahi acara-acara yang berlangsung dalam durasi panjang alias beberapa hari, pekan sampai berbulan-bulan juga pastinya bisa. Bangunan berlantai empat ini memiliki daya tampung 564 orang, ditambah ruang kebugaran dan dua ruang pertemuan kecil berkapasitas 20-70 orang. Selain itu, fasilitas ini juga dilengkapi dengan restoran.

Padepokan dikepalai Kepala Personalia dan Pengawasan Padepokan berikut staf-staf terkaitnya, sementara untuk Museum dan Perpustakaan dikepalai seorang Staf Koordinator, yang berada di bawah Kepala Peronalia dan Pengawasan Padepokan tersebut. Total karyawan menurut data 2016 adalah 115 orang, dengan sistem tanpa menggunakan outsourcing yang dianggap merugikan tenaga kerja.

Warga Pencak Silat Indonesia dan Dunia Mengenang Tien Soeharto

Ada satu tempat yang menarik perhatian di dalam museum, yakni foto besar Almarhumah Tien Soeharto, Ibu Pemersatu Pencak Silat Indonesia. Di bawah foto tersebut, terdapat untaian puisi yang menggambarkan betapa warga pencak silat nusantara dan dunia sangat sedih ketika beliau meninggal dunia pada 28 April 1996. Semua bersedih, karena Tien Soeharto begitu cepat pergi tanpa sempat menyaksikan betapa pemikiran atau karsa yang dibuahkannya telah menjadi kenyataan, yakni Padepokan Pencak Silat Indonesia nan megah.

Berikut tulisan puisi di bawah foto Ibu Tien Soeharto, Sosok Pemersatu Pencak Silat Indonesia dan Dunia:

PADEPOKAN PENCAK SILAT INDONESIA

Tanpa Ibu, Padepokan ini takkan pernah ada.

Tanpa Ibu, tempat ini hanyalah mimpi pesilat Indonesia.

Kini diujung pembangunannya, Ibu pergi meninggalkan kami.

Tapi, yakinlah Ibu, Padepokan ini akan menjadi saksi, 

Betapa besarnya sumbangsih ibu, yang kami takkan pernah mampu membalasnya.

Ibu, kami hanya dapat janji, untuk memancarkan sinar keagungan ibu, melalui karya dan karsa.

Melestarikan, membina, dan mengembangkan Pencak Silat 

Warisan budaya bangsa kita   

Raden Ayu Siti Hartinah Soeharto merupakan sosok pahlawan nasional, yang meninggal dunia akibat penyakit jantung yang menimpanya pada Minggu, 28 April 1996, di RS Gatot Subroto, Jakarta. 

Berawal dari saat Siti Hartinah terbangun akibat sakit jantung yang menimpanya, lalu dilarikan ke RS Gatot Subroto. Walau tim dokter telah berusaha maksimal, takdir berkata lain. Siti Hartinah meninggal dunia pada Minggu, 28 April 1996, pukul 05.10 WIB. Kepergian Ibu Negara membuat Presiden Soeharto sangat terpukul untuk waktu yang cukup lama, bahkan hingga saat terakhir dirinya meletakkan jabatan sebagai Presiden Ke-2 Republik Indonesia pada 1998.

Siti Hartinah dimakamkan di Astana Giri Bangun, Jawa Tengah, pada 29 April 1996 sekitar pukul 14.30 WIB. Upacara pemakaman dilakukan secara militer, dipimpin inspektur upacara yaitu Ketua DPR/MPR saat itu, Wahono dengan Komandan upacara Kolonel Inf G. Manurung, Komandan Brigif 6 Kostrad kala itu.

Sedangkan sebelumnya saat pelepasan almarhumah, bertindak sebagai inspektur upacara, Letjen TNI (Purn) Achmad Tahir dan Komandan Upacara Kolonel Inf Sriyanto, Komandan Grup 2 Kopassus Kartasura.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00