Makna Nafas

Penanganan pasien dengan fentilator di Vergata Hospital, Roma, Italia (Dok. Istimewa/EPA)

KBRN, Jakarta : Untuk sementara ini sampai dengan saat naskah ini ditulis, saya bersyukur belum terpapar virus yang disebut sebagai Corona. Saya tidak tahu sampai kapan bisa bersyukur, sebab usia saya sudah di atas 70 tahun maka rentan terpapar Covid-19. 

Sepenuhnya saya dapat memahfumi betapa berat beban derita seorang pasien positif Corona yang bengis menyerang saluran pernafasan manusia. Saya sendiri pernah merasakan betapa parah derita akibat tidak bisa bernafas pada bulan Desember tahun 1998.

GUNDUL

Tragedi Mei 1998 menyebabkan saya cemas akan masa depan Tanah Air Udara saya. Kecemasan yang beralasan sebab dengan mata di kepala sendiri saya menyaksikan bagaimana kota Jakarta dihancur-leburkan oleh para huruharawan. Maka saya memohon Yang Maha Kuasa berkenan menyelamatkan negara saya. 

Sebagai ungkap rasa syukur apabila sampai bulan Desember 1998 negara saya masih eksis maka saya akan menggunduli kepala saya yang pada masa itu masih gondrong. Tenyata sampai bulan Desember 1998 negeri saya masih eksis bahkan mulai bangkit kembali dari reruntuhan ekonomi, maka saya segera berangkat ke Tibet. 

Kenapa Tibet? Karena saya belum pernah ke Tibet dan di Tibet saya bisa menggunduli kepala saya bersama para bhiku dan bhiksuni .

AIRPORT

Sesampai di airport Tibet, saya turun dari pesawat terbang sambil menghirup udara luar biasa segar dan bersih akibat bebas polusi industri dengan panorama latar belakang pegunungan Himalaya nan kolosal monumental megah mencakar langit. Maka saya mulai mengayunkan langkah menuju ke lokasi pengambilan bagasi di bandara Tibet. 

Sampai pada langkah ke dua belas, mendadak saya merasakan sesuatu yang tidak beres pada nafas saya. Ternyata saya mengalami kesulitan bernafas akibat udara di bandara Tibet terlalu tipis pada ketinggian sekitar empat ribu meter di atas permukaan laut. 

Pada saat itu saya baru sadar bahwa sebenarnya yang paling berharga bagi manusia bukan duit, bukan jabatan, bukan kekuasaan, bukan apa pun namun yang sehari-hari kita anggap sama sekali tidak berharga yaitu apa yang disebut sebagai nafas.

NAFAS

Pada saat itu saya dapat merasakan betapa berharga nilai tarikan dan hembusan nafas. Pada saat itu segenap harta benda duniawi sama sekali tidak berharga bagi diri saya yang sedang gawat-darurat membutuhkan sesuatu yang paling berharga di alam semesta yaitu nafas. 

Pada saat itu saya tersadar betapa seluruh umat manusia mulai mereka yang dianggap paling cendekia, paling maha kaya raya, paling bijak, paling berkuasa sampai ke yang paling sakti atau paling apa pun, sebenarnya sama sekali tidak berdaya pada saat tidak bisa bernafas. Pada saat itu saya sadar bahwa diri saya hanya sesosok mahluk hidup yang sangat lemah daya sebab sepenuhnya tergantung pada kemampuan menarik nafas ke dalam paru-paru dan menghembuskan nafas ke luar dari paru-paru. 

Pada saat itu saya sadar atas kebenaran makna kalimat “menghembuskan nafas terakhir” sebagai saat akhir kehadiran saya di dunia fana ini. Pada saat itu saya sadar bahwa tanpa nafas mustahil saya hidup.

COVID-19

Maka lebih dari dua puluh tahun kemudian pada belahan awal tahun 2020, saya dapat merasakan betapa berat beban derita para pasien positif Corona ketika menghadapi kesulitan bernafas apalagi apabila tidak ada dukungan peralatan medis yang memungkinkan manusia bernafas. 

Menyadari ketidak-berdayaan diri saya sendiri sekaligus juga menyadari keganasan daya virus Corona merusak saluran pernafasan manusia maka dengan penuh kerendahan hati, saya bersujud memanjatkan doa memohon Yang Maha Kuasa berkenan melimpahkan Anugrah Berkah Kekuatan Lahir dan Batin kepada umat manusia agar mampu berjaya menanggulangi angkara murka COVID-19. 

Oleh : Jaya Suprana

(Penulis adalah pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan)

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00