Mampukah Indonesia Menarik Investasi Sesuai Target 2020

KBRN, Jakarta: Apakah target investasi apakah bisa tercapai dalam tahun 2020 di tengah kita fokus pada penanggulangan pandemi covid-19? Jika kita melihat data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) bahwa realisasi investasi pada Triwulan Pertama Tahun 2020 total mencapai Rp 210,7 triliun atau mengalami kenaikan delapan persen dibanding periode yang sama tahun 2019 sebesar Rp 195,1 triliun.

Kenaikan yang besar dialami dari investasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) yang meningkat 29,3 persen, sedangkan investasi Penanaman Modal Asing (PMA) justru turun 9,2 persen. Bersyukur tercapai target dalam periode tiga bulan ini, namun yang menjadi tantangan ke depan di tengah wabah covid-19 ini adalah bagaimana menarik PMA dan PMDN di tengah melemahnya perekonomian global.

Sebab, usaha memacu investasi di Indonesia tentunya menghadapi tantangan, akibat antara lain dengan adanya kebijakan pembatasan sosial berskala besar dan pemangkasan anggaran promosi dan operasional. Oleh karenanya sangat tepat apabila Pemerintah merevisi target investasi tahun 2020 yang sebelumnya telah ditetapkan Rp 886,1 triliun. 

Sejumlah ekonom memprediksi bahwa target investasi tahun ini dengan angka tersebut akan sulit dicapai akibat dampak wabah Covid-19 yang telah melemahkan aktivitas ekonomi global. Aktifitas sejumlah sektor seperti manufaktur dan perdagangan menghadapi resiko dari resesi ekonomi global, sehingga pergerakan PMA maupun PMDN akan tertunda, meskipun pertumbuhan ekonomi kita masih cukup positif.

Bagi para investor baik asing maupun domestik dalam jangka pendek ini nampaknya belum memikirkan untuk melakukan ekspansi bisnisnya, karena mereka fokus untuk bertahan menjaga kelancaran arus kas dan kondisi likuiditasnya. Realisasi investasi dalam tiga bulan pertama tahun ini memang sangat positif, karena masih tingginya komitmen para investor pada awal tahun ini yang optimis pada ekspektasi perbaikan ekonomi global dan domestik, termasuk harapan pelaku usaha pada pembahasan RUU Omnibus Law dan adanya insentif fiskal.

Saya yakin bahwa para investor saat ini sedang menunda sementara keputusannya dan kita harus optimistis bahwa ke depan seiring dengan pemulihan ekonomi Indonesia pasca Covid-19, maka realisasi investasi keseluruhan diperkirakan akan semakin membaik pula.

Apalagi kita ketahui bahwa Presiden Joko Widodo telah mendorong para menteri ekonominya agar mengakselerasi peringkat indeks kemudahan berusaha di Indonesia yang berada di peringkat 73 menuju level  40 besar, sehingga lebih mendorong semakin tingginya para investor untuk menanamkan modalnya di tanah air kita.

Penulis:

Wartawan Senior RRI

Ida Bagus Alit Wiratmaja

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00