Hari Bumi dan Kedigdayaan Manusia

KBRN, Jakarta: Dalam kolom bicara kali ini akan mengangkat tema hari bumi dan kedigdayaan manusia. Sebelumnya perkenankan saya menyampaikan ucapan selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan di tahun ini. Tanggal 22 April diperingati secara internasional sebagai hari bumi yang ke-50. Peringatan pada tahun ini menjadi istimewa karena bumi menghadapi dua krisis sekaligus yaitu perubahan iklim dan pandemi virus corona.

Walaupun banyak yang melaporkan kualitas udara yang membaik beberapa hari ini akibat pengurangan laju transportasi, dan konsumsi di berbagai belahan dunia akibat lock down, namun tampaknya banyak pertanyaan besar yang perlu diurai bagaimana masa depan relasi bumi dan manusia seharusnya dikembangkan pasca pandemi corona?

Dalam masa pandemi corona orang di berbagai belahan dunia melaporkan kondisi-kondisi istimewa yang tak pernah lagi mereka dapati atau jarang dinikmati dalam 50 tahun terakhir muncul kembali dan memberi harapan baru. Kota-kota turisme dunia ataupun kota-kota besar di dunia melaporkan lingkungan yang lebih bersih, polusi udara yang berkurang sangat jauh, bunga-bunga yang sempurna mekar karena tak terinjak pengunjung di wilayah turisme. Pandemi ini seolah mengingatkan lingkungan yang dirindukan dengan kualitas optimal yang lebih baik untuk kehidupan manusia.

Bencana perubahan iklim yang terus digaungkan dan dikampanyekan dalam lebih dari 20 tahun terakhir kurang menunjukkan dampak yang kuat, sampai akhirnya manusia harus dihentikan oleh wabah yang karakternya mengharuskan berbagai aktifitas “normal” yang dijalani oleh manusia modern. Relasi manusia dan alam memiliki siklus kesejarahan yang panjang. Saat ini disebutkan bahwa kita berada pada zaman antroposen yaitu saat di mana manusia paling digdaya dan paling mempengaruhi ekosistem lingkungan hidup bumi.

Manusia terbukti menjadi elemen yang sangat berpengaruh dalam rantai makanan. Antroposen adalah masa ketika aktivitas manusia memiliki pengaruhnya yang signifikan secara global terhadap kondisi ekosistem dan geologi bumi. Masa ini kemungkinan besar diawali sejak abad ke-18 pasca Revolusi Industri. Masa saat manusia merayakan penemuan-penemuan yang mempermudah hidupnya namun pelan tetapi pasti justru semakin menjauhkannya dari alam.

Telah banyak studi menunjukkan bahwa saat manusia mencapai puncak kedigdayaannya muncul beragam permasalahan yang dituai akibat perilaku yang dilakukannya. Kebijakan kebijakan pembangunan yang lebih memenangkan kepentingan ekonomi di atas segalanya merupakan bukti kuat yang mengindikasikan kecenderungan ini. Apabila masalah-masalah ini tidak ditangani dengan tepat dan secepat mungkin, manusia harus bersiap menanggung segala dampak buruk yang akan dialami tersebut. Perubahan iklim dan menyebarnya pandemic akibat virus corona ini juga berupaya dijelaskan melalui perspektif antroposen ini. Pertanyaan-pertanyaan apa yang telah dilakukan manusia? Atau sebaliknya apa yang dapat dilakukan oleh manusia untuk mencegah terjadinya kembali menjalarnya pandemic yang mengglobal seperti saat ini.

Dalam dinamika ini, setiap elemen dalam ekosistem mungkin memiliki kemampuan untuk bertahan, terdapat juga kemungkinan beberapa spesies mati dalam proses ini, bermutasi, ataupun bertahan. Tetapi ekosistem kehidupan alam ini akan sangat tergantung pada manusia yang menjadi penguasa di abad antroposen ini. Sikap manusia yang kooperatif dan bersedia berkomitmen untuk perlindungan ekosistem sangat dibutuhkan agar rantai siklus alami ini tidak justru membawa bencana bagi manusia sendiri beserta seluruh elemen lainnya.

Penulis: Prof. Dr.phil Hermin Indah Wahyuni, M.si, Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi Fisipol UGM, Direktur Pusat Unggulan IPTEKS, Pusat Studi Sosial Asia Tenggara, Universitas Gadjah Mada.

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00