Hari Buku Sedunia Bangkitkan Budaya Membaca

KBRN, Jakarta: Gerakan Literasi Sekolah (GLS)  yang telah digulir beberapa tahun lalu telah membawa dampak bagi tumbuh kembang peserta didik dalam budaya membaca di sekolah dan masyarakat pada umumnya. 

"Remaja sangat menyenangi budaya baca dan tulis baik di sekolah maupun di luar sekolah, bukan saja buku pelajaran tapi ragam buku fiksi dan non fiksi juga di gemari," Yoyon Pujo Utomo 

Penggiat Komunitas Menulis Yuuk! kepada rri.co.id, Kamis (23/4/2020) menanggapai Hari Buku Se-dunia. 

Menurut Yoyon, usia remaja, menjadikan sasaran dalam tumbuh kembang budaya literasi. Generasi Milenial memiliki pandangan yang menarik dalam menerapkan budaya literasi. 

"Kegiatan pembiasaan baca tulis yang diterapkan setiap pagi hari di sekolah tentunya menjadi habit atau pembiasaan positif, mereka asyik dengan gadget menulis dalam beragam aplikasi dunia maya, seperti wadpad, story.id dan sebagainya," jelasnya.  

Meski demikian, lanjutnya ada pula beberapa generasi Milenial ini bergabung kepada komunitas tertentu seperti Komunitas Menulis Yuuk!  Hanya untuk menyalurkan bakat minat menulisnya. 

"Mereka dalam budaya literasi sangat haus akan wadah yang bisa menampung bakat minat, bukan saja literasi baca tulis tapi juga literasi visual dan audio," ungkapnya. 

Disisi lain, ia optimistis dengan Gerakan Literasi Sekolah dapat mengontrol kosa kata yang biasa diucapkan oleh generasi muda saat ini. 

"Bila tidak ada kontrol, para remaja akan larut dalam kosa kata yang dianggap gaul atau tren namun merusak budaya literasi. Tapi bila ada bimbingan tentu nenjadi kontrol bagi mereka dan akan menghasilkan prestasi," tandasnya. 

Selain itu, ia melihat ragam karya generasi Milenial sangat menarik bila dikembangkan. Namun hal ini sangat ditentukan oleh peran orang tua,  guru dan masyarakat sangat penting. 

"Stakeholder penentu kebijakan yang mengatur  aturan kebijakan harus turun tangan agar budaya literasi bisa tersalurkan," tutupnya. 

Dikutip kominfo.go.id, dalam budaya membaca UNESCO menyebutkan Indonesia urutan kedua dari bawah soal literasi dunia, artinya minat baca sangat rendah. Menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001 persen. Artinya, dari 1,000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca!

Riset berbeda bertajuk World’s Most Literate Nations Ranked yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca, persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61). Padahal, dari segi penilaian infrastuktur untuk mendukung membaca, peringkat Indonesia berada di atas negara-negara Eropa.

(foto: Instagram/komunitasyukmenulis)

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00