Hari Buku Se-dunia, Malas Membaca Melahirkan Hoaks

KBRN, Jakarta: Tanggal 23 April diperingati sebagai Hari Buku Se-dunia. Sebuah buku selalu dikaitkan dengan minat baca. Kolumnis yang juga Penulis Novel Biografi,  IzHarry Agusjaya Moenzir mengungkapkan minat baca orang Indonesia tidak ada kenaikan dan dari dulu minat bacanya rendah.  

" Tidak banyak orang menghabiskan waktu dengan membaca buku, banyak orang hanya mau menonton televisi. Ada yang perlu diingat minat baca yang kurang itu bukan hanya melemahkan pengetahuan kita tetapi juga ini bisa menimbulkan gagal fokus dan kemudian itu melahirkan hoaks," kata IzHarry saat berbincang dengan rri.co.id, Kamis (23/4/2020).

Saat ini, ia mensinyalir para penyebar hoaks juga tidak tahu bahwa yang disebarnya itu adalah berita hoaks. Hal ini karena si penyebar hoaks memiliki limitasi pemikiran yang kurang. 

IzHarry melihat dalam kondisi aktual saat ini terkait kasus virus corona baru (COVID_19) banyak orang menyebarkan berita hoaks meski minim pengetahuan tentang virus COVID-19 dan mempostingnya di media sosial. 

" Ini sesuatu yang menarik dan membikin kita miris adalah ini setiap orang menjadi pemberita sekarang, setiap orang menjadi wartawan sekarang, semua yang dia tahu dia buat dia taruh di media sosial seperti Facebook, penyebaran di media sosial untuk penyebaran hoaks itu luar biasa," terangnya. 

" Itu karenanya kita kurang membaca sehingga percaya dengan hoaks," tambah IzHarry yang juga pengarang novel biografi Rinto Harahap, Gelas-Gelas kaca. 

Di sisi lain, Izharry mencermati seputar perkembangan buku-buku yang diterbitkan di tanah air belakangan ini yang jumlahnya banyak. 

" Banyak terjemahan-terjemahan sekarang dari buku-buku internasional yang dijual di toko-toko tetapi sayangnya buku-buku itu diterjemahkan secara terburu-buru sehingga dari kadar bahasa, penyajian, redaksinya semua tidak begit baik," tandasnya. 

Salah satu alasan terburu-buru menerbitkan buku, menurut IzHarry karena ingin mengejar tayang secepatnya. " Orang yang menerjemahkannya itu terburu-buru dan itu disayangkan, bahkan penerbit menerima saja itu, tidak melakukan editing ulang," sebut IzHarry yang juga penulis novel biografi Gesang Mengalir Meluap Sampai Jauh ini. 

Menurut IzHarry banyak buku asing bagus.  Namun sayangnya ketika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi salah makna. 

" Saya tidak bilang bahwa buku itu salah, tetapi sering pengertian orang tentang terhadap konten buku itu menjadi rancu, akhirnya kita mislead kita tidak lagi melihat bahwa buku itu tepat sasaran," jelasnya. 

Untuk itu, ia menyarankan untuk sebaiknya membaca buku aslinya berbahasa  Inggris tanpa langsung diterjemahkan. " Sebaiknya membaca dari buku yang asli, itu lebih baik. Kalau terjemahannya tidak bagus maka buku itu pun tidak enak dibaca dan gagal mencapai pasar," pungkasnya.   

(foto: Facebook/IzHarry Agusjaya Moenzir)

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00