Menyoroti Teknologi dan Interaksi Sosial di Tengah Wabah Pandemi

KBRN, Jakarta: Hari ini bertepatan dengan hari besar keagamaan Paskah yang dirayakan oleh umat kristiani di seluruh dunia.

Yang menjadi semakin istimewa pada perayaan kali ini adalah bagaimana prosesi perayaan kali ini harus berlangsung dalam suasana keprihatinan karena tidak memungkinkan perayaan dilangsungkan secara tatap muka secara langsung.

Hal inipun sudah terjadi pada berbagai ritual keagamaan dalam agama lain yang secara pelan tetapi pasti telah berpindah pada dunia maya berbasis pada teknologi.

Kondisi saat ini mungkin menjadi istimewa karena memberikan jawaban pada perdebatan awal yang cenderung menjadi kepanikan moral atau kerisauan  pada menurunnya kualitas kebersamaan yang seringkali diarahkan penyebabnya pada kehadiran teknologi.

Sebelumnya bahasan mengenai media sosial seringkali dibahas dalam tone yang negative misalnya bahwa teknologi media baru khususnya media sosial melahirkan banyak penyimpangan misalnya kecenderungan bullying yang melahirkan berbagai kebijakan untuk keberpihakan pada privacy. 

Dalam suasana special merebaknya pandemic sangat terasa teknologi media baru menguatkan sense kebersamaan online yang sebaliknya menunjukkan kekuatan komunalnya.

Media baru dengan berbagai platformnya justru mampu menunjukkan penguatan kebersamaan atau “togetherness.”

Jika sosiolog Emile Durkheim pernah menyatakan bahwa masyarakat modern menunjukkan gejala diferensiasi solidaritas yang semakin tajam, saat ini sedang terjadi pula yang disebut sebagai solidaritas yang termediasi (mediated solidarity). 

Teknologi sangat terasa memfasilitasi masyarakat untuk tetap terhubung dan mulai menjadi fasilitator utama untuk tetap menguatkan kehidupan sosial.

Pengalaman baru dalam pemanfaatan teknologi juga menyebabkan saat ini banyak eksplorasi baru pada bagaimana teknologi dapat menggantikan berbagai momen ataupun perayaan yang melibatkan komunitas.

Demikian pula di hampir semua sektor formal perayaan pemanfaatan teknologi sangat terasa, melalui work from home yang telah kita jalani dalam 1 bulan terakhir, sangat berpotensi pada kondisi teknologi membentuk perubahan budaya (budaya komunitas, budaya kerja, dan budaya sosial lainnya).

Ke depan sangat kuat kita melihat lahirnya potensi-potensi yang sangat menjanjikan dari teknologi, teknologi telah terbukti mendorong penguatan solidaritas sosial yang membawa pada situasi kebersamaan online yang lebih visual, lebih sering, lebih padat, dan bahkan juga memiliki potensi untuk cenderung menyeragamkan kehidupan sosial yang pada dasarnya sangat beragam.

Tentu saja ini menjadi tantangan bagi manusia untuk terus merespon segala perubahan dan tantangan yang terjadi, untuk membentuk masa depan kehidupan dan kemanusiaannya yang lebih baik.

Naskah disusun oleh Prof. Dr.phil Hermin Indah Wahyuni, M.si , Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi Fisipol UGM, Direktur Pusat Studi Sosial Asia Tenggara, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

(Foto:istimewa)

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00