Rekam Jejak Al-Zahrawi Dalam Ilmu Kedokteran

Tidak dapat dipungkiri ilmu pengetahuan adalah salah satu aspek yang sangat penting dalam kehidupan manusia. 

Ilmu pengetahuan  tidak dapat dipisahkan dari ilmu agama islam.

Islam sangat menjunjung tinggi ilmu pengetahuan. Islam adalah sebuah agama yang menjadikan dirinya sebagai sebuah ilmu, sehingga dikenal istilah ilmu-ilmu agama (ulum ad-din).

Saat Islam berada di masa keemasannya ilmu pengetahuan mengalami perkembangan yang cukup pesat. Pada masa keemasan Islam, bangsa barat lebih percaya terhadap hal-hal yang berbau tahayul, mistis, tidak menjunjung tinggi bukti empiris, dan lebih memprioritaskan kepercayaan-kepercayaan yang diyakini masyarakat Eropa pada masa itu, sedangkan Islam saat itu sudah mengalami kemajuan yang signifikan dalam berbagai aspek kehidupan. 

Semangat mengembangkan ilmu sudah tumbuh sejak lama di kalangan umat Islam. Pada masa keemasan Islam banyak para ilmuwan muslim yang dengan giat dan sungguh-sungguh mempelajari dan mengembangkan ilmu-ilmu yang telah diteliti dan ditulis oleh peradaban Yunani sebelumnya. 

Para ilmuwan Muslim mempelajari karya yang telah ada sebelumnya untuk membuktikan kebenarannya dan tidak sedikit yang memiliki pendapat yang berbeda dan membenarkan pernyataan ilmuwan sebelumnya, jika mereka menemukan hal yang lebih tepat selama penelitiannya.

Karya-karya inilah yang menjadi sebuah langkah maju dalam berbagai teknologi yang ada hingga sekarang ini. Salah satunya adalah kemajuan dalam bidang ilmu kedokteran gigi. 

Sakit gigi yang sudah terinfeksi bisa menghantar seseorang pada kematian, karna kesehatan gigi dan mulut memiliki kaitan yang erat dengan sistem kesehatan seluruh tubuh, sehingga apabila ada infeksi pada gusi atau gigi, jelas akan berpengaruh pada keseimbangan dan ketahanan tubuh seseorang. 

Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) menyatakan bahwa lebih dari 70% penduduk Indonesia menderita sakit gigi, terutama masalah gigi berlubang. Karna tingginya jumlah masyarakat Indonesia yang menderita sakit gigi maka tinggi pula tuntutan kebutuhan pelayanan tenaga medis oleh para ahli di Indonesia.

Sebenarnya praktik pengobatan gigi sudah diterapkan manusia jauh sebelum Nabi Musa AS dilahirkan. Tetapi, pada saat itu ilmu kedokteran gigi belum berkembang pesat. Ilmu kedokteran gigi berkembang pesat di masa keemasan Islam. 

Anehnya, Peradaban barat mengklaim bahwa Pierre Fauchard, seorang ilmuwan berkebangsaan Prancis yang hidup pada abad ke-17 sebagai "Bapak ilmu kedokteran gigi modern". 

Karna mayoritas masyarakat barat mengenalnya sebagai penulis deskripsi ilmiah lengkap pertama tentang kedokteran gigi, yang diterbitkan pada abad ke-18. 

Padahal jauh sebelum Pierre dilahirkan, Pemilik nama lengkap Abu al-Qasim Khalaf ibnu Al-Abbas Al-Zahrawi telah melakukan banyak penelitian dan menuliskan pengembangan tentang berbagai ilmu kedokteran, termasuk ilmu kedokteran gigi.

Dalam bukunya, Dr. Jafar Khadem Yamani (Kedokteran Islam : Sejarah dan Perkembangannya) dan Henry W Noble (History of Dentistry Research Group) mengakui bahwa ilmu kedokteran gigi modern yang ada hingga saat ini, merupakan hasil rintisan para dokter muslim pada zaman kekhalifahan di Andalusia (Spanyol).

Al-Zahrawi atau yang lebih dikenal dengan Albucasis di dunia barat adalah salah satu cendekiawan Muslim yang menyumbang peran besar terhadap perkembangan banyak ilmu kedokteran. 

Salah satunya adalah ilmu kedokteran gigi yang terus berkembang hingga saat ini. Al-Zahrawi lahir di kota Zahra, yaitu sebuah kota yang terletak di sekitar Cordova, Spanyol. 

Ia adalah seorang dokter kerajaan yang legendaris pada masa Khalifah Al-Hakam II dari kekhalifahan Umayyah. Meski Hingga kini, namanya masih diabadikan menjadi nama sebuah jalan di Cordova, sebagai salah satu bentuk penghormatan untuk mengenang jasa-jasanya selama masa hidupnya. 

Di jalan tersebut terdapat sebuah rumah bernomor 6 yang diyakini sebagai tempat tinggal al-Zahrawi. Saat ini rumah tersebut menjadi sebuah cagar budaya yang dilindungi Badan Kepariwisataan Spanyol.

Al-Zahrawi mewariskan sebuah karya berjudul al-Tasrif, sebuah ensiklopedia tertua dan pertama yang ditulis pada abad ke-10 dan membahas secara rinci tentang berbagai teknik pengobatan yang belum dikenal di Eropa pada masa itu. Al-Tasrif merupakan warisan paling berharga bagi kemajuan ilmu kedokteran di dunia, khususnya di Eropa. 

Karyanya diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa dan menjadi bacaan para dokter di banyak sekolah kedokteran Eropa selama berabad-abad setelah peninggalannya. 

Dalam buku History of Arab Medicine Dr. Campbell mengatakan bahwa karya-karya dan hasil pemikiran al-Zahrawi banyak diadopsi oleh banyak tokoh di dunia barat. 

Beberapa tokoh barat yang mengutip kitab al-Tasrif diantaranya adalah Serefeddin Sabuncuoglu (1385-1468), seorang penulis inggris yang bernama William Hunter (1717-1783), seorang ahli bedah berkebangsaan  Prancis bernama Guy de Chauliac tercatat mengutip Kitab al-Tasrif lebih dari 200 kali sebagai referensi dalam memahami berbagai ilmu kedokteran, dan Pietro Argallata, seorang tokoh terkemuka yang hidup pada abad ke-15 menobatkan al-Zahrawi sebagai, "Kepala semua ahli bedah yang sangat andal dan tidak diragukan kemampuannya".

Karna karya al-Zahrawi yang memiliki manfaat dan pengaruh yang luas untuk dunia kedokteran hingga saat ini, untuk menghargai karya al-Zahrawi didirikan sebuah museum bernama Calla  Hurra Museum yang berada di seberang sungai Wadi Al-Kabir, Spanyol.

Disana terdapat peralatan bedah sebanyak 200 buah yang direproduksi oleh Fuat Sezgin dan dijadikan sebuah pameran pada tahun 1992 di Museum Arkeologi Madrid, Spanyol. 

Beberapa inovasi al-Zahrawi dalam ilmu kedokteran gigi adalah penggunaan kawat gigi yang terbuat dari emas atau perak untuk gigi yang longgar, penanaman kembali gigi yang sudah tanggal (sekarang lebih dikenal dengan istilah implan gigi), metode pencegahan penyakit periodontal, cara memutihkan gigi dengan menggunakan pemutih gigi dan penggunaan tulang sapi untuk menggantikan gigi yang hilang. 

Al-Zahrawi juga memberikan metode yang rinci dan jelas untuk pencabutan dan pengoperasian gigi lalu menggantinya dengan gigi palsu yang baru.

Untuk mempermudah pemahaman para pembaca bukunya, al-Zahrawi menjelaskan pembahasannya dengan jelas dan detail dalam salah satu jilid buku al-Tasrif, baik melalui gambar ataupun tulisan. 

Pengaruh dan manfaat yang luas dari karya-karya yang ditorehkan al-Zahrawi untuk ilmu kedokteran gigi menjadikan alasan yang kuat dan layak untuk menobatkannya sebagai “Bapak Kedokteran Gigi Modern” dibanding Pierre Fauchard. Karna jauh sebelum Pierre menuliskan karya ilmiahnya tentang kedokteran gigi, al-Zahrawi telah lebih dulu mengembangkan dan menjelaskan berbagai metode perawatan dan pengobatan gigi secara detail dalam bukunya al-Tasrif.

Semenjak runtuhnya masa keemasan Islam, dunia Islam mulai mengalami kemunduran yang cukup signifikan di berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam aspek ilmu pengetahuan. 

Peradaban umat Islam tertinggal jauh dari peradaban Eropa dan Barat. Hal itu jelas berpengaruh pada perkembangan ilmu pengetahuan di kalangan umat Islam. 

Sedikitnya orang-orang yang menceritakan peran para ilmuwan Muslim, dan banyaknya sejarah yang hanya mengisahkan peran para ilmuwan Barat menjadi salah satu penyebab ketidaktahuan dunia tentang warisan yang diberikan para tokoh Muslim kepada kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada hingga saat ini.

Penulis:

Ratu Rifqo Thohiroh dan Zhafarina Fildzah

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00