Geblek Trempos, Makanan Khas Kulon Progo

KBRN, Kulon Progo: Warga Kulon Progo hampir dipastikan mengenal geblek yang memang menjadi makanan khas wilayahnya. Makanan ini, enak dijadikan camilan dan dimakan bersama dengan tempe besengek atau tempe bacem.

Salah satu yang bisa jadi pilihan adalah geblek trempos, yang berasal dari Pedukuhan Sonyo, Kalurahan Jatimulyo, Kapanewon Girimulyo, Kulon Progo.

Pemilik usaha geblek Trempos, Sutinah (51) mengatakan, usaha geblek Trempos sudah ditekuni sejak tahun 2007 bersama dengan orang tuanya. Geblek trempos Geblek dibuat dari ampas singkong. Perbedaan dengan geblek biasa, yaitu dari segi warna dan rasa. Jika geblek biasa berwarna lebih putih, namun untuk geblek trempos berwarna coklat kalau sudah mateng. Dari segi rasa pun juga berbeda, dimana geblek putih yang terbuat dari pathi biasanya agak kenyal. Sementara geblek trempos lebih ke empuk dan tahan lama.

Dalam proses pembuatannya, lanjut Sutinah, hampir sama dengan geblek biasa. Hanya saja untuk geblek trempos, pada awalnya singkong diparut dan setelahnya di uleni untuk mendapatkan sarinya atau disebut pathinya. Untuk ampasnya (trempos) tadi dipisahkan dan diperas untuk menghilangkan airnya. 

Jika sudah kering, ampas (trempos) singkong tadi di kukus sampai matang. Setelahnya di campurkan dengan pathi dan diuleni sampai benar-benaf kalis. Selanjutnya dipipihkan atau ditipiskan dan diiris membentuk seperti stik. Proses setelahnya kemudian digulung dan dibentuk jadi geblek.

"Kami memakai kayu bakar agar menghasilkan rasa yang lebih enak. Jika memakai kompor juga tidak akan kuat untuk menahan wajan," ungkap Sutinah, di Kulon Progo, Kamis (28/02/2021).

Untuk sekali produksi, bisa menghabiskan bahan singkong sekitr 40 Kg. Dari jumlah itu mampu dibuat jadi 6 gorengan dengan wajan besar, dimana setiap gorengannya antara 50-70 biji geblek. Setelah jadi, geblek trempos kemudian dijual di pasar cublak desa jatimulyo.

"Tidak tiap hari produksi. Hanya seminggu dua kali yaitu malam rabu sama malam sabtu. Kecuali ada pesanan, bisa buat tiap hari. Untuk gebleknya, dijual per biji Rp 250,- ," tuturnya.

Sutinah menambahkan, saat dijual ke pasar, makanan ini tidak di packing dan bisa dibeli dengan harga murah. Pelanggan bisa membeli dengan harga Rp 2000 bahkan harga Rp 1000. Namun dengan harga merakyat ini, justru banyak dicari oleh pelanggan.

"Mulai jualan jam 4.30 WIB, nah jam 6 sudah habis," tuturnya.

Menurut Sutinah, ada keunikan dari cara membuat dan bentuk geblek trempos. Jika geblek biasa hanya berbentuk seperti angka delapan, geblek trempos berbentuk seperti lembaran kertas yg dibuat lingkaran tapi tidak putus. Cara membuatnya pun hanya mengandalkan tiga jari untuk membentuk geblek.

Salah seorang pelanggan, Yuniasih, (25) warga Jatimulyo mengatakan, dirinya sering membeli geblek trempos. 

"Biasanya saya makan dengan tempe bacem," ujarnya.(hrn/yyw)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00