Kue Basah Spesial Khas Palembang yang Lezat

Kue basah Khas Palembang yang dijual di Dapur Bunda Raya.

KBRN, Palembang: Selain terkenal dengan Pempek, Tekwan, Model dan makanan lainnya, Kota Palembang juga mempunyai kue basah yang hanya terdapat di Sumatera Selatan (Sumsel) saja dan tidak dapat ditemukan di daerah lainnya.

Kue basah khas Palembang ini, sering ditemui saat ada acara besar seperti Hari Raya Idul Fitri, Idul Adha, Hari Raya Natal, Imlek, hingga acara pernikahan.

Beberapa kue basah yang jadi primadona antara lain, Maksuba, Engkak Ketan, Lapis Kojo, Lapis Nanas, Kue 8 Jam, Lapis Legit, Lapis Keju, Lapis Prunes, Kue Makjola dan Kojo Ketan Hitam.

Salah satu pembuat dan penjual kue khas Palembang, yaitu Dapur Bunda Raya yang menyediakan beragam makanan khas Palembang kekinian. Lokasinya terletak di Jalan Letnan Jaimas Cinde Sebelah SMEA I Palembang atau ke lantai 3 Le Garden Palembang Indah Mal (PIM).

"Orang dari luar kota banyak sekali yang order dengan, termasuk orang Sumsel, khususnya untuk acara pernikahan maupun kantoran," kata Yus Iwan, Owner Dapur Bunda Raya saat dibincangi belum lama ini.

Keistimewaan makanan khas dari Dapur Bunda Raya ini dari ragam aneka kue basah yang berinovasi, seperti kue basah Makjo, singkatan dari Maksuba Kojo, Makjola (Maksuba Kojo Lapis), Jola jola (Kojo Lapis Kojo Lapis), Maksuba dan Dodol Agar. Kue basah ini disediakan setiap harinya di toko dan gerai. Biasanya ada yang pesan per loyang untuk oleh-oleh atau irisan juga bisa.

“Setiap hari kita bisa buat kue basah inovasi ini hingga 10 loyang dan ini semua biasanya habis terjual,” katanya.

Lanjut dia, kue basah memiliki ciri khas masing-masing, seperti Maksuba merupakan kue basah yang masuk dalam deretan makanan Warisan Budaya Tak Benda Provinsi Sumatera Selatan tercatat sejak 2013. Kue ini berstruktur lembut, terasa manis pekat, dan basah.

Kemudian kembaran Maksuba, yaitu kue Lapis Legit tak kalah enaknya. Dengan dipanggang per lapis yang menghasilkan bentuk lapisan saat dipotong. Bahan yang digunakan serupa dengan Maksuba, hanya saja saat membuat lapis legit diperlukan tepung terigu.

Hal inilah yang membuat tekstur Lapis Legit dan Maksuba berbeda. Lapis Legit tidak sebasah Maksuba. Walaupun bentuk sama berlapis, Namun testurnya lebih mirip kue Bolu dan lebih kering dari Maksuba.

Kemudian kue Delapan Jam. Sesuai dengan namanya, kue ini dibuat dengan memerlukan kesabaran dalam membuatnya. Karena butuh waktu delapan jam untuk dikukus. Apabila kurang dari 8 jam, kue akan berwarna kuning tua kecoklatan sedangkan kalau terlalu matang akan berwarna cokelat yang lebih.

Kue delapan jam juga terkenal dengan filosofi keseimbangan hidup yaitu membagi 24 jam menjadi 8 jam untuk bekerja, 8 jam untuk beristriahat, dan 8 jam untuk beribadah.

"Rasa khas dan tekstur yang lembut tapi padat membedakan kuliner tradisional sumsel ini dengan kota lain," tambah dia.

Sebelumnya, Gubernur Sumsel Herman Deru selalu giat dan rajin mempromosikan beragam kuliner tradisional pada setiap kegiatan, bahkan di akun Instagram pribadinya.

“Jangan sampai kita mengabaikan makanan tradisional kita, nanti anak-anak kita tidak tahu dan makanan itu malah tergerus zaman,” katanya.

Deru mengajak semua pihak untuk peduli terhadap makanan tradisional Sumsel yang beraneka ragam ini. Baik mempertahankannya dari rumah, lingkungan keluarga, maupun menjadi produk kuliner yang diperjualbelikan.

“Semua pihak harus konsen dengan kondisi terdesaknya kuliner tradisional Sumsel. Dengan begitu Sumsel tetap menjadi satu daerah yang berusaha meningkatkan kuliner tradisionalnya,” ungkapnya.

Ia mengingatkan pentingnya mempertahankan makanan tradisional agar makanan modern tidak masuk bahkan membuat bangkrut makanan tradisional.     

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00