Kopi Kintamani "Diserbu" Delegasi Asing GPDRR

Sejumlah delegasi asing GPDRR ke-7 tampak mengantre untuk mencicipi kenikmatan kopi kintamani yang dibagikan secara gratis, berlokasi di depan Media Center, Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC). (Foto: RRI/RetnoMandasari)

KBRN, Nusa Dua: Sajian kopi kintamani menjadi salah satu kuliner khas Bali yang disuguhkan di ajang penyelenggaraan Platform Global untuk Pengurangan Risiko Bencana (GPDRR) ke-7 pada 23-28 Mei dan dibagikan secara gratis untuk para delegasi. 

Animo para delegasi pada kopi ini juga luar biasa, ditunjukkan dengan antrean mengular yang disaksikan RRI pada Kamis (26/5/2022) penyelenggaraan GPDRR di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC). 

Pemilik outlet kopi, Tri Wahyudi Purnomo mengatakan pada awalnya pihaknya menyediakan 200 cangkir kopi per hari. Namun, mereka mengalami peningkatan permintaan hingga 400 cangkir pada hari keempat penyelenggaraan GPDRR ke-7.

“Target awalnya 1.000 cup (cangkir) untuk empat hari dan membludak menjadi 4.000-an peserta,” ungkap Tri Wahyudi Purnomo kepada RRI.co.id, Jumat (27/05/2022). 

Di hari keempat pelaksanaan GPDRR, kopi gratis olahan Tri Wahyudi yang dibagikan kepada para delegasi telah melebihi target.

“Jadi, kita sudah lewat 1.000 bahkan di pukul 15.00 WITA,” tambahnya. 

Dijelaskan Tri Wahyudi pihaknya sengaja turut menyertakan atraksi pengolahan biji kopi, yang disebutnya sebagai bentuk edukasi dan atraksi kepada para delegasi.

“Kopi saya roasting sendiri. Kopi kintamani kami ambil dari Desa Belantih. Ini bagian dari Kemenparekraf. Ini bagian dari edukasi dan atraksi. Made by order supaya karakter beda. Kalau commercial bean dan prosesnya pada umumnya,” papar pengusaha kopi yang telah memulai bisnis sejak 2017 ini. 

Menurut Tri selama penyelenggaraan GPDRR ke-7, tidak jarang beberapa delegasi yang menanyakan kesiapan kopi bahkan sejak pagi hari.

“Dari jam 7 WITA sudah ada yang minta, saya bilang buka jam 9 WITA untuk persiapan,” terangnya. 

Kenikmatan kopi olahan Tri Wahyudi Purnomo diakui oleh seorang jurnalis asal Bahama, Amerika Serikat, Ally.

Ally menyebut, meski dinikmati tanpa gula, namun cita rasa kopi olahan tersebut tetap terasa enak.

“Saya tidak menambahkan gula ke dalam kopi saya, hanya minum kopi yang rasanya polos. Yang ini saya mencoba cappuccino. Saya pecinta Starbucks dan saya membandingkannya dengan kopi ini, rasanya tidak buruk sama sekali,” ucap Ally.

Pujian serupa juga disampaikan Natasha, yang merupakan perwakilan dari UNDRR.

Ia rela mengantre hingga 10 menit demi merasakan kenikmatan kopi Kintamani jenis Arabica yang diolah Tri Wahyudi dan tim.

“Saya sudah tahu bahwa kopi -kopi di Bali itu istimewa dan saya hari ini mengantre di sini selama 10 menit dan hasilnya sepadan. Rasa kopi ini sangat enak spektakular. Hari ini saya mencoba kopi dengan susu, saya rasa kopi Bali itu bisa dinikmati dengan cara apapun,” ujar perempuan asal Inggris ini. 

Natasha juga tertarik untuk membeli kopi serupa dalam kemasan instan, untuk dibawa sebagai oleh-oleh ketika kembali ke negaranya.

“Saya tadi bertanya kepada seorang karyawan di situ apakah saya bisa membeli sebungkus kopi ini? Ia mengatakan tidak dijual dan kopi-kopi ini gratis. Jadi, saya sudah memotret bungkus kopi yang mereka pajang dan berharap bisa menemukannnya di supermarket. Karena, kopi ini bisa menjadi oleh-oleh yang tepat untuk teman-teman saya di Inggris,” tandasnya. 

Sementara, untuk menyajikan kopi nikmat ini, Tri Wahyudi Purnomo dibantu oleh dua orang barista yang juga bekerja di “Trico Café” miliknya di Kabupaten Tabanan, Bali.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar