Festival Kuliner Sajikan 10 Bahan Pendamping Beras

KBRN, Jakarta: Sebanyak 10 bahan makanan pendamping beras ditampilkan dalam Festival Kuliner Nusantara di Sekolah Partai PDIP di Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Jumat (7/1/2021).

Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto mengungkapkan, bahwa festival kuliner ini menjadi penting karena sesuai dengan tema perayaan HUT PDIP ke-49, yakni ‘Bangunlah Jiwa dan Badannya untuk Indonesia Raya’, maka dalam HUT ke-49 yang terjadi di masa pandemi tahun ketiga, PDIP ingin terus menggelorakan semangat optimisme, membangun jiwa dan badan yang sehat.

"Membangun badannya itu kan diperlukan asupan makanan yang bergizi. Karena itulah ada 10 makanan pendamping beras yang dilombakan pada hari ini. Dengan mengundang para juri dari chef profesional yang diharapkan dapat menggerakkan semangat Indonesia Raya yang berdiri di atas kaki sendiri di bidang pangan," ungkapnya saat ditemui di Sekolah Partai PDIP di Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Jumat (7/1/2021).

Hasto menjelaskan, bahwa Festival Kuliner Pendamping Beras itu digelar sebagai rangkaian perayaan HUT ke-49 PDIP yang puncak acaranya akan digelar pada 10 Januari 2022 mendatang

Hasto mengatakan, bahwa Festival Kuliner Pendamping Beras itu diikuti oleh ratusan peserta dari seluruh Indonesia. Menurut Hasto, para peserta akan memamerkan langsung kreativitasnya mengolah bahan makanan pendamping beras.

Dalam kompetisi yang digelar hingga Sabtu (8/1/2021) esok itu, para peserta dibagi dalam lima kategori. Yakni kreasi appetizer, kreasi main course, kreasi dessert, kreasi snack dan kreasi soup. Dewan Juri perlombaan itu dipimpin oleh Samuel Wattimena.

Adapun 10 bahan makanan pendamping beras itu diantaranya adalah singkong, ubi jalar, jagung, sorgum, sukun, porang, pisang, sagu dan talas.

Ketua DPP PDIP, Wiryanti Sukamdani menyebutkan, bahwa ada 305 orang peserta dalam festival kuliner tersebut. Hari ini akan dipilih para pemenangnya. Sementara esok hari, akan diadakan pameran kuliner dari seluruh Indonesia, yang dibuat dari bahan 10 pendamping beras. Acara ini pun diikuti dari 34 provinsi.

"Kita juga menulis buku khusus kuliner non beras atau makanan pendamping beras yang jumlahnya di atas 550 menu dan itu tidak hanya enak, tapi harus murah, dan harus bergizi. Gizinya kita ukur juga. Buku ini meneruskan karya buku Bung Karno yang berjudul Mustika Rasa, dan buku kali ini khusus pendamping beras. Itu semua kita lakukan dalam HUT ke-49," ujarnya.

Hasto mengatakan, lewat kegiatan ini, pihaknya juga ingin mengingatkan rakyat Indonesia bahwa Indonesia adalah negara kaya. Sehingga berbagai bahan makanan yang tersedia bisa diolah dan dikonsumsi selain beras. Ada talas, pisang, sukun, sagu, dan lain-lain.

"Yang didorong adalah semangat untuk berdiri di atas kaki sendiri di bidang pangan, untuk kita lebih percaya kepada sumber pangan yang bisa didapatkan dari lingkungan sekitar kita, daripada pangan impor," katanya.

PDIP juga mendorong bahwa 10 bahan pendamping beras ini memiliki nilai keekonomian yang tinggi. Sehingga masyarakat bisa memanfaatkannya untuk dikomersialkan. Apalagi d tengah pandemi, hal ini menjadi potensi bagi masyarakat dari sisi nilai ekonominya.

"Kembali kepada makanan yang ramah lingkungan, yang bisa kita produksi sendiri dan di dalam makanan mengandung science, visi, dan seni bagi kita untuk mencicipi dan berkreasi atas makanan nusantara yang begitu luar bisa. Agar kita juga tidak sedikit-sedikit impor beras," ungkap Hasto.

"Dengan makan pendamping beras ini kita punya banyak alternatif memenuhi kebutuhan karbohidrat. Ada porang, sagu, talas, ada umbi-umbian, jagung, pisang, bahkan lebih dari 10 makanan pendamping beras itu. Dan semua ini bisa ditanam di dalam negeri," ujar Hasto melanjutkan.

Lebih jauh, Hasto juga mengatakan bahwa pihaknya akan mendorong Pemerintah, lewat Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk memperbanyak riset-riset pangan untuk memperkuat kedaulatan pangan. Sebab bagi PDIP, kedaulatan pangan berbeda dengan ketahanan pangan. PDIP lebih memilih kedaulatan pangan, yang berarti Indonesia harus bisa memproduksi sendiri bahan pangan, tak melulu impor.

"Dan itu harus didukung oleh riset yang banyak dan kuat," katanya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar