"Sambal RoaRia", Lidah Bersukaria UMKM Menjelajah Dunia

Aktivitas di salah satu tempat pengiriman barang JNE. (RRI)

Tantangan Pandemi dan Membangun Jaringan

Dua tahun pandemi yang melanda dunia dengan pembatasan-pembatasan ketat di berbagai tempat merupakan tantangan tersendiri bagi para pelaku UMKM nasional. Di sisi lain, tantangan teknologi mendorong UMKM nasional harus mau beradaptasi dengan berbagai platform media sosial dan 'marketplace' untuk membangun pasar mereka.

Iskandar Zulkarnain mengatakan dampak pandemi yang dirasakan pelaku UMKM Kota Depok beragam, namun mayoritas mampu bertahan. Salah satunya dengan berganti jenis produk yang digelutinya.

"Kan uniknya pelaku usaha mikro itu mas. Kalau misalnya dia mati, dia nambah lagi usahanya, muncul baru lagi. Dia selalu berganti-ganti usahanya, walaupun orangnya sama," katanya.

Syelvi mengakui sejumlah UMKM yang masuk Pesona JNE ikut terdampak. Salah satunya terlihat dengan produksi mereka yang menjadi tersendat atau berhenti produksi sementara. Meski demikian, pengelola Pesona JNE tidak mengeluarkan mereka dari platform.

Syelvi juga mengakui angka pendapatan Pesona JNE yang diterima di awal-awal pandemi cukup terdampak.

"Tapi sekarang sih ya alhamdulillah di quarter kedua tahun lalu sih sudah mulai isi sampai dengan sekarang. Apalagi kami bersyukur di akhir tahun lalu, quarter terakhir tahun lalu, itu sudah mulai di beberapa perusahaan-perusahaan juga sudah memulai mempercayakan."

Pengiriman Sambal RoaRia dengan ekspedisi JNE. (Sumber: Instagram @roaria_titin)

Dalam salah satu sesi pertemuan daring Investor Academy Indonesia yang diunggah di kanal Youtube pada 6 Mei 2021, Presiden Direktur PT JNE Mohamad Feriadi menyatakan bahwa perusahaan JNE Express kini tidak lagi sekadar perusahaan logistik yang mengantarkan barang, namun telah berevolusi menjadi "network company", perusahaan yang membangun jaringan.

Dengan total penduduk Indonesia yang mencapai 270 juta, sementara keberadaan jaringan JNE hanya 8.000, menurutnya menunjukkan perlunya penambahan jaringan yang lebih luas. Ini sekaligus mendekatkan pelaku-pelaku penggerak ekonomi di daerah-daerah ke dalam putaran ekonomi yang lebih besar.

"Ada inovasi lain misalnya. Kita juga bisa membantu UKM-UKM, produsen-produsen makanan kecil di daerah. Karena kita lihat selama ini biasanya mereka hanya berjualan di tempat makanan ini diproduksi," jelas Mohamad Feriadi.

"Contoh misalnya pempek. Sekarang pempek itu banyak ada di mana-mana. Kita bilang nih, JNE nih bisa bantu. Mau gak order pempek dari dapurnya yang asli di Palembang, dari dapurnya yang asli di Bangka. Kita bisa kirimkan itu. Kue bika ambon. Kemudian pia yang ada di Bali, atau pun makanan-makanan yang lain. Karena yang kita jual itu sebetulnya originalitasnya gitu lho. Ini makanan yang asli. Makanan yang memang kita datangkan langsung dari dapurnya."

Menurut Mohamad Feriadi apa pun bentuk penjualan barang yang dilakukan secara daring di masa kini dan mendatang, tenaga pendistribusian melalui jasa kurir masih menjadi hal yang penting dan akan tetap diperlukan.

"Buat JNE, bagaimana JNE itu harus fokus. Jadi katanya kalau winner itu focus on winning. Kalau loser, focus on winner. Jadi kita itu fokus, bagaimana caranya kita tetap bisa menang. Bagaimana kita tetap melakukan improvement-improvement," ungkap Mohamad Feriadi tentang tekad yang dikembangkan di perusahaannya.

Winner itu focus on winning. Kalau loser, focus on winner.

Halaman 4 dari 4

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar