Soal Persediaan Vaksin, IDI: Contoh Inggris

KBRN, Jakarta: Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Profesor Zubairi Djoerban memuji langkah yang ditempuh Perdana Menteri Inggris Boris Johnson dalam persediaan vaksin Covid-19.

"Menurut saya, @BorisJohnson pintar. Dia coba memperluas persediaan vaksin yang terbatas dengan menunda suntikan kedua hingga 12 minggu," kata Zubairi di akun Twitternya yang dilihatr rri.co.id, Rabu (24/2/2021). 

Dasarnya, kata dia, adalah studi yang mendapati penerima vaksin itu akan memiliki kekebalan bagus hanya dengan satu dosis. "Ini menjanjikan," ujarnya.

Ia menjelaskan, hasil dua penelitan terpisah yang diterbitkan di Inggris dan Skotlandia itu menarik. "Keduanya menunjukkan kalau vaksin Covid-19 (Pfizer) itu efektif dalam mengurangi penularan penyakit dan rawat inap—mulai dari dosis pertama," terangnya.

Data penelitian yang di Inggris mendapati bahwa Pfizer dapat mengurangi risiko tertular Covid-19 hingga 70 persen setelah satu dosis. Kemudian, angka itu meningkat menjadi 85 persen setelah dosis kedua. 

Sebelumnya, Pemerintah Inggris mengumumkan bahwa dari target 52,5 juta warga divaksin per 1 September 2021, sepertiga di antaranya (17,5 juta) telah dicapai. Dengan kata lain, target yang Inggris tetapkan berpotensi tercapai lebih awal.

Dikutip dari kantor berita Al Jazeera, Pemerintah Inggris telah merevisi target kampanye vaksinasi COVID-19nya. Dari yang aslinya ditargetkan tercapai per 1 September, Inggris memajukannya menjadi tercapai per 31 Juli. Pemerintah Inggris optimistis itu tidak mustahil melihat perkembangan vaksinasi sejauh ini plus ketersediaan suplai yang stabil.

"Kami menyakini ada cukup suplai untuk mempercepat kampanye vaksinasi COVID-19," ujar Menteri Kesehatan Inggris Matt Hancock, Minggu, 21 Februari 2021 seperti dikutip dari tempo.co.

Keputusan untuk mempercepat kampanye vaksinasi tersebut secara tidak langsung mengubah agenda penyuntikan vaksin COVID-19 secara nasional. Sebagai contoh, Inggris mengubah target vaksinasi dosis kedua untuk mereka yang lansia dan punya penyakit kronis dari 1 Mei ke 15 April 2021. (Foto: Apnews)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00