12 Penderita Komorbid yang Belum Layak Divaksin

KBRN, Jakarta: Sedikitnya ada 12 jenis penderita Komorbid (penyakit bawaan) yang tidak bisa atau belum layak menjalani vaksinasi Covid-19. Belasan penyakit tersebut dibahas dalam webinar Bincang Bincang Seputar Covid (Bibir Covid), Kamis (14/1/2021).

Webinar bertajuk "Vaksin Covid-19 – Tak Kenal Maka Tak Kebal: Komorbid, Bolehkah?" ini menyebutkan: 

1. Penyakit autoimun sistemik (SLE, Sjogren, vaskulitis, dan autoimun lainnya). Pasien tidak dianjurkan untuk diberikan vaksin Covid-19 sampai hasil penelitian yang lebih jelas telah dipublikasikan.

2. Sindrom Hiper IgE Pasien, penyakit ini tidak dianjurkan untuk diberikan vaksin Covid-19 sampai hasil penelitian yang lebih jelas telah dipublikasi.

3. Pasien dengan infeksi akut. Pasien dengan kondisi penyakit infeksi akut yang ditandai dengan demam menjadi kontraindikasi vaksinasi.

4. PGK (penyakit ginjal kronis) non dialisis, PGK dialisis, transplantasi ginjal, sindroma nefrotik dengan imunosupresan/kortikosteroid. Pemberian vaksin belum direkomendasikan pada pasien penyakit ini karena belum ada uji klinis mengenai efikasi dan keamanan vaksin tersebut terhadap populasi ini.

5. Hipertensi (tekanan darah tinggi). Beberapa uji klinis dari sejumlah vaksin Covid-19 telah meneliti pasien dengan hipertensi. Sayangnya, penderita penyakit ini belum direkomendasikan mendapat vaksin Covid-19 karena belum ada rekomendasi.Rekomendasi menunggu hasil uji klinis di Bandung.

6. Gagal jantung. Belum ada data mengenai keamanan vaksin pada pasien ini.

7. Penyakit jantung koroner. Belum ada data mengenai keamanan vaksin Covid-19 pada penyakit ini.

8. Reumatik autoimun (autoimun sistemik). Hingga saat ini belum ada data. Pemberian vaksin Covid untuk pasien ini harus mempertimbangkan risiko dan keuntungan kasus per kasus secara individual, dan membutuhkan informed decision dari pasien.

9. Penyakit-penyakit gastrointestinal. Penyakit-penyakit gastrointestinal yang menggunakan obat-obat imunosupresan, sebetulnya tak masalah diberikan vaksinasi Covid-19. Hanya saja respons imun yang terjadi tidak seperti yang diharapkan.

10. Hipertiroid/hipotiroid karena autoimun, tidak dianjurkan diberikan vaksin Covid-19 sampai ada hasil penelitian jelas.

11. Kanker. Studi klinis Sinovac tidak melibatkan pasien dengan kondisi tersebut. Belum ada data pada kelompok tersebut, sehingga belum dapat dibuat rekomendasi terkait pemberian vaksin.

12. Pasien hematologi onkologi. Studi klinis Sinovac juga tidak melibatkan pasien dengan kondisi ini, jadi belum dapat dibuat rekomendasi terkait pemberian vaksin Sinovac pada kelompok ini.

Menurut Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kemenkes RI, Siti Nadia Tarmizi, bukan berarti pasien komorbid tidak bisa mendapat vaksinasi. Masyarakat golongan ini tetap bisa mendapatkannya, karena Kemenkes telah menyiapkan Peraturan, SDM, administrasi, logistik, jaringan fasyankes dan sistem monev untuk pelakanaan vaksinasi Covid-19

"Salah satu upaya pemerintah dalam memenuhi kebutuhan vaksin covid-19 melakukan penjajakan kerjasama dengan badan internasional (CEPI dan Gavi)-multilateral," jelasnya.

Kemenkes juga sudah menentukan kelompok sasaran sesuai kajian ilmiah dan rekomendasi para ahli, selain itu kekebalan kelompok dapat tercapai apabila target cakupan tinggi dan dilaksanakan dalam waktu singkat dan cepat.

"Imunisasi covid-19 penting namun penerapan protokol kesehatan yaitu 3 M (Memakai masker, Mencuci Tangan dan Menjaga Jarak) dan 3 T (Tes, Telusur, Tindak lanjut) tetap terus dijalankan,’’ tegasnya dalam kegiatan yang digelar Indonesia Healthcare Forum (IndoHCF) dan Komunitas Relawan Emergensi Kesehatan Indonesia (KREKI) bekerja sama dengan Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI), Persit Kartika Chandra Kirana (Persit KCK), Yayasan Onkologi Anak Indonesia (YOAI) dan Universitas Prima Indonesia (UNPRI), serta didukung oleh IdsMED System Indonesia ini. 

Sementara itu, Pendiri dan Ketua Yayasan Kangker Payudara Indonesia (YKPI), Linda Agum Gumelar mengajak seluruh stakeholder untuk mendukung program vaksinasi nasional ini.

"Kami yakin bahwa pemerintah tidak mungkin bekerja sendiri tentu peranserta masyarakat/LSM/organisasi perempuan dan swasta harus turut berpartisipasi dalam upaya menekan dan memutus rantai penyebaran Covid-19 ini,’’ ungkap Linda Agum Gumelar. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00