Bogor Belum Aman, RS Hampir Penuh

Pengunjung mendaftar untuk pemeriksaan tes cepat atau rapid test yang diadakan Dinas Kesehatan Kota Bogor di Kebun Raya Bogor, Jawa Barat, Minggu (1/11/2020). Rapid test yang dilakukan secara acak pengunjung Kebun Raya Bogor tersebut sebagai upaya memutus mata rantai penularan COVID-19 di saat libur panjang akhir pekan. (ANTARA)

KBRN, Jakarta: Wali Kota Bogor Bima Arya menyatakan hingga saat ini tingkat keterisian tempat tidur (Bed Occupancy Ratio/BOR) telah mencapai 83%. Padahal biasanya dapat ditekan di bawah 60%.

"Kota Bogor masih jauh dari aman, bahkan kita sedang mengalami fase tertinggi. Kami telah menyiapkan RS darurat dan menyiapkan satu hotel untuk tempat isolasi pasien OTG (orang tanpa gejala)," kata Bima dalam diskusi di gedung BNPB, Jumat (04/12/2020).

Dia mengakui selama ini surveilance yang dilakukan masih lemah dan masih kurang dipersiapkan. Tingginya BOR di RS, menurut Bima, membuat klaster keluarga tidak ada habisnya. Sebab, pasien jadi dengan mudah dipulangkan meski belum ada jaminan tidak menularkan anggota keluarga lainnya.

"Belum tentu mereka disiplin sehingga kemudian menularkan anggota keluarganya," ujar Bima.

Masalah keterisian tempat tidur di RS pun menjadi fokusnya saat ini. Apalagi banyak pasien dari kabupaten Bogor dan Jakarta yang masuk ke Kota Bogor. Bima menyatakan akan membenahi sistem rujukannya, agar bisa mengetahui secara tepat kapasitas rumah sakit.

"Jadi misalnya kalau RS di kabupaten masih kosong, kita bisa geser-geser ke sana asalkan ada datanya. Kami juga pererat dengan kabupaten," ujarnya.

Selain itu, Bima mengingatkan kepada kepala daerah lainnya kegagalan di banyak tempat dalam penanganan Covid-19 adalah kegagalan kolaborasi. Penting kepala daerah untuk mendengarkan saran dari ahli yang disesuaikan kebutuhan daerahnya.

"Saya bilang dengan kepala dinas, jangan sok tahu, harus ada kolaborasi, misalnya saat ini dengan epidiomolog. Tidak bisa menyamakan dengan kondisi biasa, APBD misalnya kan harus diarahkan dengan asumsi yang kita miliki dan asumsi ini harus disusun dengan mendengarkan ahlinya," kata dia.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00