Atasi Covid-19, Indonesia Bisa Contoh Thailand

Foto: ist

KBRN, Jakarta: Melihat perkembangan kasus yang terus mengalami kenaikan, Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito menyatakan Indonesia dapat mencontoh Thailand dalam penanganan Covid-19.

Hingga kini, Thailand hanya mencatatkan 4.053 kasus, dengan penambahan 14 kasus sehingga jumlah kasus aktifnya pun hanya 154 orang, dan angka kematian 60 orang. 

"Thailand ini negara pertama di Asia Tenggara yang kena kasus di luar China, tetapi kasusnya relatif sedikit. Memang bukan berarti dia selamanya begitu, tetapi mereka bisa begitu karena sistem kesehatannya mengakar sampai ke masyarakat," kata Wiku, Sabtu (5/12/2020).

Menurut Wiku, Pemerintah Thailand telah lama menjadikan kesehatan sebagai prioritas dalam kehidupan. 

"Jadi, mindsetnya sudah berbeda, pimpinan negaranya juga sangat perduli dengan kesehatan sejak dulu. Jadi investasi kesehatan dan SDM, seluruhnya berfungsi," ujarnya.

"Indonesia memang sudah telat, tapi bukan berarti tidak bisa mengejar. Justru karena sudah disrupsi saatnya kita mengejar sistem kesehatan di Indonesia supaya lebih preventif daripadi kuratif," sambungnya.

Menurutnya, hal tersebut harus dilakukan karena jumlah dokter dan tenaga kesehatan di Indonesia masih sedikit, begitu juga dengan fasilitas kesehatan. Sehingga harus dilakukan sosialisasi dalam pencegahan penyebaran penyakit, dan membuat masyarakat mengerti posisinya sebagai garda terdepan.

"Karena kondisinya sekarang ini berbahaya sekali untuk tenaga kesehatan, karena masyarakatnya tidak peduli," ungkapnya.

Dia menegaskan semuanya bisa dimulai dari kepemimpinan, bagaimana pemerintah daerah bisa menyentuh warganya untuk mematuhi protokol kesehatan. 

Dan tidak kalah penting adalah, mematahkan stigma negatif masyarakat untuk melancarkan 3T, yakni pengetesan untuk mencari pasien positif, tracing untuk mencari kontak erat, dan perawatan untuk mencegah fatalitas penyakit ini.

"Investasi kesehatan melalui kepemimpinan yang kolektif, kalau pemimpin bisa menggerakan semuanya dan masyarakat patuh bisa menjadi kekuatan besar. Kita harus bisa desentralisasi pola itu, kan pemimpin daerah tidak perlu menjadi penderita seperti Walikota Bogor, atau Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta, semua bisa kena," pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00