Pernikahan Dini Masih Tinggi di Bali

KBRN, Denpasar: Praktik pernikahan dini tetap marak, meskipun pemerintah sudah merevisi batas usia minimal perkawinan di Indonesia menjadi 19 tahun melalui Undang-undang Nomor 19 tahun 2019. 

Wakil Ketua (Komisi Pengawasan dan Penyelenggaraan Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Bali Eka Santi Indra Dewi tidak memungkiri kasus pernikahan anak usia dini di wilayahnya masih ditemukan. Salah satu penyebabnya menurut dia adalah karena minimnya pemahaman orang tua terkait perkawinan yang ideal dan kurangnya pendidikan sex terhadap anak remaja. Padahal pendidikan itu penting agar si anak tidak terjerumus ke dalam pergaulan bebas.

“Kesadaran dari orang tua  bahwa komunikasi  itu penting sekali dalam mendidik anak, jangan dianggap sex itu tabu, tapi ajarkan anak dari sejak dini tentang sex sehingga anak-anak paham apa resikonya jika melakukan sex di luar pernihakan,"  jelasnya saat dihubungi RRI, Jumat (14/8/2020). 

Hal senada diungkapkan Ketua Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Provinsi Bali, Dyah Pradnyaparamita Duarsa. Menurut Dyah, ada banyak faktor penyebab terjadinya pernihakan dini. Mulai dari masalah ekonomi, tradisi dan nilai budaya. Hal ini menurutnya harus dibongkar untuk menyamakan persepsi  agar dapat menekan angka pernihakan dini.

“Kita harus menyamakan persepsi  bahwa kita semua memberikan kekuatan kepada anak kita untuk bisa meningkatkan kematangannya jika akan melakukan perkawinan  baik dari fisik, phsykis dan sosial,” jelasnya.

Wanita yang akrab disapa Mita Duarsa ini menekankan, perkawinan usai anak berdampak masif, di antaranya meningkatnya risiko putus sekolah, pendapatan rendah, kesehatan fisik akibat anak perempuan belum siap hamil dan melahirkan, ketidaksiapan mental membangun rumah tangga yang memicu kekerasan, pola asuh tidak benar hingga perceraian.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00