Pelaku Fetish, Psikolog: Gangguan Penyimpangan

KBRN, Palangka Raya: Kasus fetish kain jarik yang menyeret terduga mahasiswa asal Kalimantan Tengah mencuat setelah viral di media sosial.

Salah seorang Psikolog Klinis di Kalimantan Tengah, Rensi, mengatakan untuk menyatakan terduga memang memiliki penyimpangan seksual harus dilakukan pemeriksaan psikologis.

“Kalau fetishnya itu sendiri memang kalau secara psikologis termasuk salah satu gangguan penyimpangan seksual. Untuk memastikan ini memang fetish itu juga tentunya harus melalui pemeriksaan oleh pemeriksa yang juga kompeten yang untuk menyatakan ini gangguan seksual,” ujar Rensi kepada RRI, Senin ( 10/8/2020). 

Menurut Rensi penyebab penyimpangan seksual yang memiliki berbagai macam jenis tidak bisa disebutkan secara pasti. Namun biasanya penyimpangan seksual dapat berkaitan dengan peristiwa di masa kanak-kanak atau sesuatu yang berkaitan dengan masa pubertas seseorang.

Gilang, terduga pelaku fetish kain jarik yang ditangkap di Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah, ditangani pihak Poltabes Surabaya. Kabid Humas Polda Kalteng, Kombes Pol Hendra Rochmawan, mengatakan Polres Kapuas dan Polda Kalteng hanya membantu memfasilitasi penyelidikan pencarian terduga. Sementara seluruh proses hukumnya ditangani Poltabes Surabaya.

“Kemarin sih ada pembicaraan perlu utk dilakukan tes kejiwaan yg bersangkutan. Apakah yang bersangkutan ini punya orientasi seksual apa, kemana, tapi itu kan kewenangan penyidik di Poltabes kita hanya sebatas informasi, mendengarkan saja, jadi kapasitas kita tidak untuk menyampaikan itu sebenarnya,” ujarnya.

Lewat kasus fetish kain jarik, Kabid Humas Polda Kalteng mengingatkan masyarakat khususnya mahasiswa untuk memelihara sikap kritis dan skeptis khususnya menyangkut hal-hal yang tidak wajar sehingga tidak mudah diperdaya oleh orang yang kemungkinan punya niat jahat.

Selain itu, Kabid Humas Polda Kalteng juga mendorong masyarakat untuk berani melapor agar pelaku kejahatan atau penyimpangan dapat dihentikan dan tidak menambah daftar korban.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00