Galakkan Deteksi Dini, YKPI Sasar Generasi Milenial

KBRN, Jakarta: Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) menyosialisasikan kesadaran deteksi dini di kalangan milenial, dalam webinar bertajuk "Millennials Sadar Sadari" pada Sabtu (16/1/2021) siang.

Ketua Umum YKPI Linda Agum Gumelar mengatakan, disasarnya generasi milenial ini dengan pertimbangan bahwa kasus kanker payudara kerap kali terjadi pada usia 20-40 tahun.

"Jumlah generasi milenial sekitar 33 persen dari jumlah penduduk, atau sekitar 80 juta. Ini adalah suatu kekuatan besar bagaimana kita menyiapkan generasi milenial yang sadar dengan masalah kesehatan, dan secara spesifik kanker payudara," kata Linda saat membuka webinar yang dihadiri 800 peserta.

Selain itu, Linda memperkirakan kasus baru kanker payudara di seluruh dunia akan mengalami peningkatan, termasuk di Indonesia. Di Indonesia sendiri, kanker payudara berada di posisi pertama dari seluruh kasus kanker.

"Maka sesuai visi kami untuk menekan angka kejadian kanker payudara stadium lanjut, kami juga melakukan edukasi dan sosialisasi kepada organisasi wanita di seluruh Indonesia melalui badan kerja sama organisasi wanita tingkat provinsi, gabungan organisasi wanita kabupaten/kota, dan komunitas-komunitas lain," sambung Linda.

Ahli bedah onkologi, dr. Iskandar, SpB(K)Onk mengatakan, kehadiran organisasi masyarakat dan LSM yang peduli dengan kanker payudara dan deteksi dini, sangat berkontribusi dalam meningkatkan kesadaran tentang kanker payudara.

Kendati demikian, masih ada jalan panjang untuk dilalui karena banyak masyarakat yang lebih memilih memeriksakan diri ke rumah sakit, setelah berada di stadium tiga atau empat.

Padahal, menurut dr. Iskandar, apabila kanker payudara diperiksakan ketika masih dalam stadium awal, peluang sembuhnya jutsru semakin tinggi.

"Ada tiga cara deteksi dini, yaitu periksa payudara sendiri atau SADARI, periksa payudara secara medis atau SADANIS, dan mammografi," terang dr. Iskandar.

Ia menyebut terdapat sejumlah faktor yang menjadi faktor risiko kanker payudara, antara lain usia reproduksi, genetik, hormon, pola makan, dan radiasi.

"Tapi ada dua faktor yang paling tinggi, pertama kalau ibunya positif kanker kemungkinan anaknya akan terkena tiga kali lebih tinggi," jelas dr. Iskandar.

"Kedua, estrogen tinggi. Terutama ibu-ibu yang tidak pernah hamil. Kemudian yang hamilnya telat. Atau yang menstruasi-nya dapatnya lebih mudah, tapi menopausenya lama," tandas dia.

Webinar "Millennials Sadar Sadari" terlaksana berkat kerja sama YKPI dengan Universitas Prima Indonesia (Unpri), Women Beyond, dan Rumah Millennials. Kegiatan ini dipandu oleh tim komunikasi Satgas Covid-19, Amel Sannie.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00