Satu Pasien Terduga Hepatitis Akut Berstatus Penderita

Konferensi Pers Kementerian Kesehatan RI terkait perkembangan kasus dugaan Hepatitis Akut di Indonesia, Rabu (18/5/2022). Juru Bicara Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) Mohammad Syahril (ujung kanan) mengatakan, perkembangan jumlah kasus Hepatitis Akut bersifat dinamis lantaran hingga saat ini masih dilakukan pemeriksaan terhadap penyebab dari dugaan kasus tersebut. (Lukman Tara/RRI)

KBRN, Jakarta: Hingga 17 Mei 2022, total dugaan Hepatitis Akut di Indonesia yang belum diketahui penyebabnya sebanyak 14 kasus, dimana 13 pasien masuk status pending classification atau masih menunggu hasil pemeriksaan dan satu lagi berstatus probable atau si pasien mulai diyakini sebagai suspek atau penderita.

Juru Bicara Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) Mohammad Syahril mengatakan, perkembangan jumlah kasus Hepatitis Akut bersifat dinamis lantaran hingga saat ini masih dilakukan pemeriksaan terhadap penyebab dari dugaan kasus tersebut.

"Ada pengurangan kasus di status probable, karena setelah dilakukan pemeriksaan ada sepsis bakteri, jadi dia dikeluarkan. Sementara pengurangan status pending karena yang bersangkutan ternyata Hepatitis A positif (bukan Hepatitis Akut/Misterius)," ujar Syahril dalam konferensi pers di Gedung Adhiyatma Kementerian Kesehatan RI, Jakarta, Rabu (18/5/2022).

Ia menegaskan, hingga saat ini pihaknya belum menemukan penyebab pasti dari adanya dugaan Hepatitis Akut yang terjadi di Indonesia.

"Kita masih berproses, belum ditemukan patogen spesifik dan di luar negeri belum bisa sebutkan patogen ini jadi penyebab. Istilah probable itu kita tunggu aja sampai akhirnya WHO umumkan penyebab Hepatitis Akut ini karena virus X atau virus Y. Kita nggak bisa katakan apa penyebab. Sementara itu 13 kasus pending ini belum selesai pemeriksaan," tutup Syahril.

Adapun dari 14 kasus tersebut ada 6 (enam) kasus meninggal pada dugaan Hepatitis Akut Misterius.

Kemudian 4 (empat) kasus sudah dipulangkan atau sembuh dan 4 (empat) kasus lagi (pasiennya) masih dirawat.

Dari 14 kasus tersebut, 78.6% pasien merasakan gejala demam serta hilang nafsu makan.

Kemudian 71.4% mengalami muntah, 64.3% mengalami mual, jaundice atau kuning 57% dan 50% mengalami perubahan warna urine menyerupai warna teh.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar