Evaluasi Pelaksanaan PTM Pada Zona Merah

Sejumlah murid mengikuti pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) 100 persen di SDN 065 Cihampelas, Bandung, Jawa Barat, Senin (10/1/2022). ( ANTARA FOTO/Novrian Arbi/wsj )

KBRN, Jakarta: Pakar ilmu kesehatan dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prof Tjandra Yoga Aditama mendorong evaluasi pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) pada sejumlah kecamatan yang masuk zona merah COVID-19.

"Ada daerah yang disebut sebagai medan perang atau 'battlefield' pertama melawan Omicron di negara kita, dan di daerah itu disebutkan juga sudah ada beberapa kecamatan yang masuk zona merah," kata Tjandra, Selasa (25/1/2022).

Ia mengatakan, pada 13 Januari 2022 lima organisasi profesi dokter spesialis, yakni anak, paru, penyakit dalam, jantung dan anastesi membuat surat yang ditujukan kepada empat menteri terkait sehubungan evaluasi proses PTM.

Surat tersebut menyebutkan bahwa anak dan keluarga sebaiknya tetap diperbolehkan memilih PTM atau pembelajaran jarak jauh, anak dengan komorbid memeriksakan diri serta kelengkapan imunisasi untuk dapat ikut PTM serta mekanisme kontrol dan buka tutup sekolah.

"Kita ketahui bahwa kasus COVID-19 di hari-hari ini terus meningkat, bukan hanya jumlah absolutnya yang sudah sekitar 3.000-an kasus sehari, tetapi juga ada kecenderungan peningkatan angka positif serta perlu pula menilai perkembangan angka reproduksi yang semuanya menunjukkan potensi penularan di masyarakat. Apalagi angka transmisi lokal varian Omicron juga terus meningkat," ungkapnya.

Sebagaimana juga ditulis dalam surat tersebut, kata dia, maka anak berisiko mengalami komplikasi berat yaitu “multisystem inflammatory in children associated with COVID-19 (MIS-C”) dan bukan tidak mungkin juga ada komplikasi "long" COVID-19.

Pendapat para pakar itu antara lain dari South Dakota, Amerika Serikat, kata Tjandra, juga mulai membicarakan kemungkinan long COVID-19 pada anak. "Walaupun tentu perlu penelitian lebih lanjut. Tetapi kita tidak ada yang ingin ada dampak seperti ini terjadi pada anak-anak kita," katanya.

Guru Besar Paru FKUI itu mengatakan penelitian di Afrika Selatan misalnya, dengan data dari 56,164 COVID-19 yang masuk rumah sakit menemukan bahwa anak di bawah usia empat tahun 49 persen lebih tinggi terpapar Omicron dibandingkan Delta.

"Data lain dari “Centers for Disease Control and Prevention (CDC)” Amerika Serikat yang ditulis juga di CNN 12 Januari 2022 menyebutkan bahwa angka anak masuk rumah sakit meningkat di Amerika, dengan rata-rata 4,3 balita per 100.000 angka masuk rumah sakit pada pekan awal Januari, meningkat dari angka 2,6 per 100.000 pada minggu sebelumnya," katanya.

Kalau dibandingkan dengan angka awal Desember 2021, katanya, maka ada peningkatan 48 persen tertinggi pada kelompok umur anak selama pandemi COVID-19.

"Jadi, setidaknya di zona merah dalam suatu medan perang, maka baik kalau upaya perlindungan kesehatan ditingkatkan, termasuk evaluasi pelaksanaan PTM setidaknya dimulai di daerah-daerah itu," pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar