Kasus Konfirmasi Varian Omicron Mencapai 1.600

Sejumlah alat tes usap Covid-19 terletak di atas sebuah meja saat tes massal di Kelurahan Krukut, Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat, Senin (10/1/2022). Tes usap yang dilakukan kepada 500 warga Krukut tersebut menindaklanjuti ditemukannya 36 kasus Covid-19 di wilayah itu di mana satu di antaranya suspek varian Omicron. (Antara-Muhammad Adimaja - wsj) .jpg

KBRN, Jakarta: Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin mengatakan, kasus konfirmasi Covid-19 varian Omicron di Indonesia telah mencapai 1.600 kasus. 

Meski demikian, jika dibandingkan dengan varian Delta, tingkat perawatan di rumah sakit (RS) dan tingkat kematian pasien Omicron relatif lebih rendah.

"Kami juga melaporkan sudah terkonfirmasi bahwa dari 1600 yang terkena Omicron, yang memang dirawat membutuh oksigen hanya sekitar 20 dan memang yang wafat dua. Iini masih jauh sangat rendah dibandingkan dengan kasusnya Delta," kata Menkes dalam keterangan persnya usai mengikuti Rapat Terbatas (Ratas) mengenai Evaluasi Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), yang dipimpin oleh Wakil Presiden RI Ma’ruf Amin, secara virtual, Senin (24/01/2022).

Meski demikian, budi meminta masyarakat untuk tetap waspada karena memang laju penularan varian Omicron tinggi. Ia juga menghimbau masyarakat, untuk tidak panik.

Untuk mendorong peningkatan disiplin protokol kesehatan, pemerintah juga akan mempublikasikan tingkat kepatuhan dalam penerapan protokol kesehatan melalui aplikasi PeduliLindungi.

“Tadi juga sudah diizinkan oleh Bapak Wakil Presiden di Ratas bahwa data PeduliLindungi yang akan mengukur kedisiplinan protokol kesehatan boleh dibuka di publik sehingga kita bisa melihat lokasi-lokasi mana yang disiplin sampai ke level titik lokasinya, kantornya, tokonya, dan mana yang disiplin. Sehingga masyarakat bisa bantu mengontrol penggunaan PeduliLindungi,” tambahnya.

Dari sisi surveilans, Menkes menekankan, dikarenakan kasus konfirmasi Omicron semakin banyak maka tidak semua kasus akan dilakukan genome sequencing. Genome sequencing akan lebih diarahkan guna menganalisa pola penyebaran kasus Omicron.

“Kita akan menggunakan PCR yang jauh lebih cepat, PCR dengan SGTF (S-Gene Target Failure) yang bisa mendeteksi Omicron sudah kita distribusikan dan akan segera kita tambah untuk didistribusikan ke daerah-daerah,” ujarnya.

Budi pun meminta pemerintah daerah, untuk tetap disiplin dalam melakukan pelacakan Covid-19 sesuai rasio yang ditetapkan.

“Kami harapkan disiplin untuk melakukan testing 1:1000 penduduk per minggu itu tetap dijalankan dan strategi isolasi di rumah maupun isolasi terpusat dan rumah sakit tetap kita jalankan sesuai dengan protokol yang ada,” sebutnya.

Selain itu, Menkes juga menyampaikan, pihaknya akan terus mempercepat program vaksinasi Covid-19 terutama bagi kelompok rentan.

“Vaksinasi diminta (Wapres) juga agar dipercepat, vaksinasi untuk lansia terutama yang sangat rawan untuk masuk rumah sakit dan wafat, juga untuk vaksinasi anak yang rawan sebagai sumber penularan karena mereka yang akan terkena. Kami juga tekankan bahwa karena paling banyak Omicron akan terjadi di DKI Jakarta dan Jabodetabek dalam 2-3 minggu ke depan kita akan mempercepat vaksinasi booster di sana,” ujarnya.

Terkait kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan dalam menghadapi lonjakan kasus Omicron, Menkes menyampaikan, pihaknya telah menyediakan sebanyak 80 ribu tempat tidur di RS guna penanganan pasien Covid-19.

“Kita sudah siap sekarang 80 ribu bed, sudah terisi sekarang sekitar 5 ribu (tempat tidur), jadi masih ada room dan itu masih bisa dinaikkan kembali menjadi 150 ribu (tempat tidur). Oksigen, obat-obatan, dan tenaga kesehatan juga kami sudah siapkan. Mudah-mudahan ini tidak dibutuhkan karena memang kami berharap yang masuk ke rumah sakit akan jauh lebih rendah,” tandasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar