Hari Gizi Ke-62, Cegah Stunting dan Obesitas

Direktur Gizi Masyarakat Kemenkes Dhian Probhoyekti dalam konferensi pers Hari Gizi dan Makanan Nasional 2022 secara virtual, Selasa (18/1/2022). Foto:Screenshoot Youtube Kemenkes RI

KBRN, Jakarta: Dalam rangka menarik Hari Gizi dan Makanan Nasional 2022, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengampanyekan aksi bersama cegah stunting dan obesitas.

"Menghentikan obesitas dan masih menjadi permasalahan di dunia. Penting bagi kita, mencari, memahami, dan menerapkan pola makan secara teratur dengan gizi yang," kata Direktur Gizi Masyarakat Kemenkes Dhian Probhoyekti dalam konferensi pers Hari Gizi dan Makanan Nasional 2022 secara virtual, Selasa ( 18/1/2022).

Ia mengungkapkan berdasarkan laporan nutrisi global 2021, satu dari sembilan penduduk dunia menderita dan satu dari tiga penduduk dunia mengalami gizi lebih atau obesitas. 

"Hampir seperempat balita mengalami pendek, sementara gizi lebih dan obesitas meningkat secara cepat hampir di seluruh negara dunia," tulisnya. 

Selain itu, lanjutnya, sebagian besar penduduk dunia saat ini tidak dapat mengakses atau membeli makanan yang sehat.

Ia mengatakan angka stunting di Indonesia terus mengalami penurunan. Hasil survei 2021 melaporkan prevalensi stunting saat ini 24,4 persen namun angka ini masih jauh dari target RPJMN sebesar 14 persen pada 2024.

Sementara prevalensi balita yang mengalami kelebihan berat badan pada 2021 sebesar 3,8 persen dan obesitas dewasa pada usia 18 tahun ke atas 21,8 persen pada 2018.

"Intervensi yang dilakukan Kemenkes fokus pada usia remaja dan 1.000 hari pertama kehidupan dengan tujuan memperkuat intervensi sehingga masalah gizi dari anak yang dilahirkan dapat ditekan sedini mungkin," jelasnya. 

Ia menambahkan terdapat enam intervensi yakni kegiatan konseling, promosi dan konseling menyusui, pemantauan pertumbuhan dan pengembangan, pemberian suplemen kepada ibu hamil dan remaja, penanganan masalah gizi dengan pemberian makanan tambahan serta tata laksana penanganan gizi buruk.

"Situasi ini masih menjadi permasalahan yang perlu mendapat perhatian semua pihak. Tujuan dari peringatan ini adalah agar masyarakat menyadari pentingnya asupan makanan bergizi bagi tubuh," ungkapnya.

Lebih lanjut,  Dhian Probhoyekti berharap Hari Gizi dan Makanan Nasional yang diperingati setiap 25 Januari, dapat terus membangun kebersamaan masyarakat dalam upaya menjaga kesehatan melalui menu gizi seimbang. 

Pada kesempatan itu,  Direktur Kesehatan dan Gizi Masyarakat Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional /Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Pungkas B Ali mengatakan hasil survei 2021 angka stunting di Indonesia mencapai 5,33 juta balita, balita kurus mencapai 1,55 juta balita, dan obesitas 28,8 persen pada usia dewasa 18 tahun ke atas.

Pungkas mengatakan stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis dalam 1.000 hari pertama kehidupan. 

Dampaknya akan sangat luas terhadap kualitas sumber daya manusia (SDM) di Indonesia.

"Stunting dapat mempengaruhi kemampuan intelektual dan fisik anak. Dalam jangka panjang juga menimbulkan dampak gangguan metabolik ada risiko individu saat dewasa mengalami stroke, diabetes dan jantung," katanya.

Pungkas mengatakan stunting terjadi hampir di seluruh wilayah dan di seluruh kelompok sosial ekonomi sehingga menjadi beban ganda permasalahan gizi di Indonesia.

Selain itu, prevalensi obesitas pada usia dewasa 18 tahun ke atas meningkat dan target 2024 diharapkan tidak meningkat dari 21,8 persen.

"Faktor risiko obesitas adalah kurangnya aktivitas fisik serta konsumsi buah sayur, serta peningkatan konsumsi gula, garam, lemak," katanya.

Obesitas, Pungkas, dapat melanjutkan upaya promotif dan preventif dengan pembudayaan gerakan masyarakat hidup sehat (Germas).

Adapun tema dari peringatan kaki ini adalah Aksi Bersama Cegah Stunting & Obesitas.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar