FOKUS: #PPKM

Tidak Dikendalikan, Pengidap Pre-Diabetes Berpotensi Komplikasi

Pre-diabetes merupakan istilah yang pertama kali digunakan secara resmi oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) sebagai diagnosis retrospektif guna menerangkan keadaan seseorang yang mendahului diagnosis diabetes pada orang tersebut. Tercatat hingga akhir tahun 2021, Indonesia menempati peringkat ketiga Dunia pre-diabetes, yaitu 27,7 juta jiwa pengidap Pre-diabetes setelah China (48, 6 juta Jiwa) dan Amerika Serikat (36,8 juta jiwa). Dokter spesialis penyakit dalam Siloam Hospitals Lippo Cikarang, Adhiarta, mengatakan, bahwa seorang pengidap pre-diabetes berpotensi terkena komplikasi jika tidak segera mengenali dan mengendalikannya. Komplikasi bisa berupa serangan stroke dan serangan jantung apabila komplikasi pre-diabetes mengenai pembuluh darah besar. (Foto: Dok. Antara)

KBRN, Bekasi: Pre-diabetes merupakan istilah yang pertama kali digunakan secara resmi oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) sebagai diagnosis retrospektif guna menerangkan keadaan seseorang yang mendahului diagnosis diabetes pada orang tersebut.

Tercatat hingga akhir tahun 2021, Indonesia menempati peringkat ketiga Dunia pre-diabetes, yaitu 27,7 juta jiwa pengidap Pre-diabetes setelah China (48, 6 juta Jiwa) dan Amerika Serikat (36,8 juta jiwa).

Pada edukasi bincang kesehatan umum seputar Pre-diabetes, dokter spesialis penyakit dalam Siloam Hospital Lippo Cikarang, Adhiarta, mengatakan, bahwa seorang pengidap pre-diabetes berpotensi terkena komplikasi jika tidak segera mengenali dan mengendalikannya.

Komplikasi bisa berupa serangan stroke dan serangan jantung apabila komplikasi pre-diabetes mengenai pembuluh darah besar.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Siloam Hospitals Lippo Cikarang, Adhiarta

"Dan jika komplikasi mengenai pembuluh darah kecil, akan terjadi gangguan pada mata yang berakibat pada kebutaan, gangguan pada ginjal sehingga terjadi gagal ginjal, yang memerlukan Dialisis (Cuci Darah), dan terjadi gangguan pada saraf, yang mengakibatkan rasa kebas atau kesemutan," tutur Adhiarta melalui siaran langsung virtual, seperti diikuti RRI.co.id, Senin (17/1/2022).

"Semua hal ini dapat terjadi jika pre-diabetes tidak dikendalikan," imbuhnya.

Adapun mendiagnosis pre-diabetes sangat mudah jika ada gejala, namun jika tidak ada gejala, diperlukan pemeriksaan TTGO (Tes Toleransi Glukosa), yaitu pasien harus berpuasa selama 8 jam kemudian dilakukan tes gula darah saat puasa.

Setelah itu diberikan minum gula dan dilakukan pemeriksaan kembali setelah 1-2 jam.

Bagaimana mencegah atau menunda terjadinya diabetes?

Mengenali siapa saja yang beresiko menderita Pre-diabetes yaitu bila kita menderita hipertensi dan kolesterol tinggi, mengkonsumsi terlalu banyak soda, serta makanan kemasan dan minuman berkadar gula tinggi atau manis.

Juga memiliki kebiasaan merokok, ada juga usia yang lebih dari 45 tahun, akan beresiko mengalami pre-diabetes.

"Kurangnya aktivitas fisik, sekarang banyak orang mngalami kelebihan berat badan karena di masa pandemi, aktivitas yang dilakukan juga berkurang, seperti anak-anak sekolah banyak melakukan kegiatan di rumah. Bahkan orang dewasa pun melakukan pekerjaan di rumah melalui gadgetnya," paparnya menambahkan.

Adhiarta lanjut menuturkan, akibat terlalu banyaknya aktivitas yang dilakukan di rumah, diduga dapat meningkatkan kasus obesitas (kegemukan), sehingga pre-diabetes juga sudah sering ditemukan pada usia muda.

"Dahulu kita sering temukan kasus pre-diabetes pada usia 45 tahun namun sekarang sudah banyak ditemukan pada usia muda, yaitu sekitar 17 sampai 20 tahun," sambung dia.

Jika seseorang terdiagnosa pre-diabetes, disarankan segera melakukan perubahan gaya hidup dengan melakukan aktivitas fisik secara teratur, setidaknya 30 menit sehari selama 5 hari dalam seminggu, untuk mencegah terjadinya obesitas.

Kemudian hentikan merokok serta rutin mengkonsumsi makanan rendah lemak maupun buah-buahan dan sayuran.

"Kenapa pentingnya mengubah gaya hidup. Karena dari penelitian menyebutkan, dengan mengubah gaya hidup dapat menurunkan pre-diabetes sebesar 58 persen dalam tiga tahun. Pengaturan pola makan dapat mengurangi resiko pre-diabetes sebanyak 32 persen, dan dengan melakukan olahraga yang rutin dapat menurunkan resiko pre-diabetes sebanyak 42 persen. Nah, kalau perubahan gaya hidup tidak bisa dilakukan, baru kita memakai obat-obatan," paparnya.

Saat ini ada dua golongan obat yang direkomendasikan untuk pre-diabetes, yaitu golongan Binguanid (Metroformin) dan Acarbose.

Ada juga golongan lain, yaitu Orlistat (mengganggu penyerapan lemak dalam usus).

Intinya, pola hidup sehat perlu dikembangkan sejak dini, karena semakin cepat dilakukan hasilnya juga semakin baik.

Demikian juga biaya kesehatan menjadi minimal. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar