FOKUS: #VAKSIN COVID-19

Penjelasan Kemenkes Terkait Vaksin Booster untuk Lansia

Foto:Setwapres

KBRN, Jakarta: Organisasi kesehatan dunia (WHO) mendorong warga lansia yang menerima vaksin sinovac atau sinopharm untuk disuntik vaksin booster.

Selain lansia, WHO juga mendorong orang dengan gangguan kekebalan sedang, dan berat untuk diberikan dosis tambahan.

Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan RI Siti Nadia Tarmizi mengatakan, rencana pemberian vaksin booster kepada lansia dan kelompok imun lemah terus dimatangkan.

“Booster ketiga ini pun sebenarnya WHO kan mengatakan untuk sinovac dan sinopharm perlu ditawarkan bagi lansia atau yang memiliki kelainan imunitas,” kata Siti Nadia ketika dihubungi RRI.co.id, Minggu (17/10/2021).

Selain itu, lanjut Siti, pemberian booster untuk dua kelompok tersebut, dan juga diberikan  jika cakupan vaksinasi di Indonesia dosis lengkap lebih dari 70 persen.

“Seperti kita lihat WHO sendiri mengetakan pemberian vaksin dosis ketiga dilakukan setelah cakupan dosis vaksin pertama dan kedua secara lengkap sudah mecapai lebih dari 70 persen,” ujar Siti.

Otoch Tahyan Ruhyat, lansia berusia 66 menyambut baik adanya rencana pemberian vaksin booster bagi lansia.

Sebab, menurut Otoch, pemberian vaksin terlebih booster menjadi langkah preventif penularan Covid-19, meski demikian penerapan protokol kesehatan juga tidak boleh kendur.

“Tentu saja, saya menyambut baik ya adanya vaksin tambahan untuk lansia, karena itu kan menjadi langkah preventif bagi kami kelompok lansia. Tapi, tentu saja itu dibarengi dengan penerapan protokol kesehatan yang tak boleh kendur,” kata Otoch.

Sebelumnya, Ahli Imunisasi Internasional atau Strategic Advisory Group Of Experts (SAGE) on Immunization merekomendasikan lansia dan kelompok gangguan imunologis diberikan vaksin tambahan atau booster.

Mereka yang berusia 60 tahun ke atas yang sudah menerima vaksin inaktivasi merk Sinovac dan Sinopharm perlu ditawarkan untuk mendapat suntikan dosis ketiga homolog.

Penggunaan vaksin heterolog sebagai suntikan ke tiga dapat juga dipertimbangkan berdasarkan ketersediaan dan akses terhadap vaksin yang ada.

Namun ditegaskan, dalam menerapkan rekomendasi ini maka negara harus terlebih dahulu berupaya maksimal untuk cakupan dua kali suntikan vaksin.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00