Cegah Risiko Gangguan Saraf, dengan Pemeriksaan NEUROgenomics

Pemeriksaan

KBRN, Jakarta : Praktisi Kesehatan Trilis Yulianti, Phd mengatakan, Kemajuan teknologi di bidang biomolekular yang dipicu oleh proyek genom pada manusia yang berimbas kepada semakin majunya perkembangan diagnostik di dunia.

"Arah dunia kedokteran tidak lagi kuratif tetapi lebih ke hulu, yaitu pengobatan prediktif (predictive medicine). Hal ini tentunya perlu didukung oleh layanan diagnostik prediktif, yang memanfaatkan profil genom manusia untuk memprediksi berbagai penyakit," ungkap Trilis Yulianti kepada wartawan, Kamis (29/7/2021).

Dijelaskannya, berbagai penelitian hingga saat ini menunjukkan bahwa munculnya penyakit dipengaruhi oleh adanya interaksi antara genetik, gaya hidup serta kondisi medis yang lain.

"Artinya apabila secara genetik seseorang memiliki kerentanan terhadap gangguan saraf atau penyakit tertentu, namun pola hidup dan makanan terjaga dengan baik, maka kemunculan penyakit dapat ditunda. Begitu pun sebaliknya, meski seseorang memiliki risiko genetik saraf yang rendah namun memiliki pola makan yang berisiko tinggi terhadap gangguan metabolisme tubuh, maka dapat berujung pada terjadinya gangguan saraf," jelasnya.

Trilis Yulianti yang juga Product & Scientific Manager Product Prodia menerangkan, setelah sebelumnya meluncurkan berbagai tes bersifat prediktif seperti CArisk, DIArisk, VASCULArisk, IMMUNErisk, Prodia Wellness Genomics, Prodia Bone Muscle and Joints Genomics, Prodia Nutrigenomics, Skin and Hair Genomics, kini Prodia meluncurkan pemeriksaan NEUROgenomics.

"Pada hasil pemeriksaan NEUROgenomics, skor risiko keseluruhan akan memberikan kesimpulan risiko seseorang terhadap suatu penyakit berdasarkan gen yang diperiksakan, skor risiko keseluruhan terbagi menjadi empat jenis: High Risk yaitu memiliki risiko yang lebih tinggi untuk terjadinya penyakit dibandingkan dengan rata-rata populasi; Potential Risk yaitu memiliki risiko yang sedikit lebih tinggi untuk terjadinya penyakit dibandingkan dengan rata-rata populasi; Average Risk yaitu memiliki risiko yang sama untuk terjadinya penyakit dibandingkan dengan rata-rata populasi; dan Low Risk yaitu memiliki risiko yang lebih rendah untuk terjadinya penyakit dibandingkan dengan rata-rata populasi," paparnya.

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar, tingkat prevalensi dari penyakit saraf terutama stroke mencapai 15,4% dari total populasi di Indonesia. Tingginya prevalensi penyakit saraf di Indonesia memacu PT Prodia Widyahusada, Tbk untuk menyediakan pemeriksaan kesehatan yang mampu memprediksi risiko gangguan saraf berdasarkan profil genetik seseorang atau disebut NEUROgenomics.

"NEUROgenomics merupakan pemeriksaan genomik yang digunakan untuk mengidentifikasi kerentanan genetik seseorang terhadap penyakit yang berkaitan dengan gangguan saraf seperti penyakit Alzheimer, Sklerosis Lateral Amiotrofik, Gangguan Bipolar, Epilepsi, Aneurisma intrakranial, Migrain, Sklerosis Ganda, Parkinson, Skizofrenia, dan Stroke. Pemeriksaan ini menganalisis lebih dari 109 varian dan 85 gen," terangnya.

Lebih lanjut Trilis Yulianti mengatakan, inisiatif Prodia dalam meluncurkan pemeriksaan NEUROgenomics sejalan dengan komitmen kami dalam mendukung pengobatan generasi baru (next generation medicine) yang bersifat personal, prediktif, preventif dan partisipatori (4P).

"NEUROgenomics menghitung risiko varian-varian gen yang dipersonalisasi sehingga masing-masing individu mengetahui risikonya dan dapat menentukan upaya pencegahan penyakit saraf secara personal. Kami berharap pemeriksaan ini dapat menjadi semacam pengingat bagi individu agar lebih termotivasi untuk melakukan upaya pencegahan munculnya penyakit saraf di kemudian hari," pungkasnya. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00