FOKUS: #VAKSIN COVID-19

Level Efikasi Vaksinasi Varian Delta Menurun

Vaksin Sinovac Produksi Tiongkok. Dok : SS Youtube Sekretariat Presiden

KBRN, Jakarta: Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyampaikan, tingkat efikasi vaksin COVID-19 yang kini sudah beredar dalam menghadapi COVID-19 varian baru mengalami penurunan.

Ketua Ikatan Dokter Indonesia Dr Daeng M. Faqih mengatakan, meski mengalami penurunan efikasi, vaksinasi tetap harus dilakukan karena masih bermanfaat untuk proteksi dari penularan virus. Hal tersebut disampaikan Dr Daeng dalam diskusi virtual pada Sabtu (19/06/21) mengenai lonjakan kasus COVID-19 usai libur Lebaran. 

"Laporan dari para peneliti, termasuk saya terakhir melihat dari Inggris, memang ada sedikit penurunan (tingkat efikasi). Misalnya Pfizer, kalau dengan varian lain itu 90 persen, untuk varian baru yang Delta yang diperhatikan betul itu sedikit turun tapi masih bagus di angka 70 persen. Termasuk Astrazeneca juga mengalami penurunan," jelas Daeng. 

Hanya saja, Daeng berujar, meski ada penurunan tingkat efikasi, vaksinasi masih sangat dibutuhkan untuk proteksi dari penularan virus. 

"Tapi masih efektif untuk melakukan proteksi, sehingga masih sangat bermanfaat untuk dilakukan upaya proteksi dengan vaksinasi," ujar Daeng menambahkan. 

Sebelumnya, Fisikawan dan peneliti Boghuma Titanji melalui akun Twitter @boghuma mengungkapkan, efikasi tiap-tiap vaksin Covid-19 yang sudah digunakan di berbagai negara terhadap beragam varian Virus Corona hasil mutasi. Dalam tabel yang diunggah Boghuma Titanji yang terpantau pada Sabtu (19/06/21), tampak vaksin Sinovac yang digunakan Indonesia memiliki efikasi terhadap varian awal Corona sebesar 65 persen, dan 50 persen terhadap varian P1 yang berasal dari Afrika Selatan.

Sayangnya, dalam data tersebut vaksin Sinovac tercatat tidak memiliki efikasi terhadap varian Delta atau B.1.617.2 yang berasal dari India yang kini dikabarkan menjadi salah satu penyebab kasus positif di Indonesia melonjak tajam. Hanya empat vaksin yang tercatat memiliki efikasi terhadap varian Delta yaitu: Pfizer 87,9 persen, AstraZeneca 65,5 persen, dan Covishield serta Covaxin dengan 65 persen masing-masing.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung dari Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi menyampaikan, bahwa jika berdasarkan data tersebut, didasarkan pada vaksinasi yang dilakukan di Inggris dan AS yaitu hanya menggunakan AstraZeneca dan Pfizer. Namun, jika dilihat secara keseluruhan, WHO merekomendasikan semua jenis vaksin yang telah mendapatkan izin penggunaan darurat.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00