Asesmen Nasional Ditunda, FSGI Apresiasi Nadiem

KBRN,  Jakarta: Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) mengapresiasi keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim yang menunda pelaksanaan Asesmen Nasional (AN).

Sekretaris Jendeal FSGI Heru Purnomo menilai keputusan tersebut tepat terlebih melihat situasi dan kondisi saat ini di Indonesia. 

"FSGI mengapresiasi Kemendikbud atas kebijakannya menunda pelaksaan Asesmen Nasional (AN) yang semula akan dilaksanakan pada Maret 2021 ditunda menjadi September-Oktober 2021," kata Heru dalam keterangan yang diterima RRI.co.id, Minggu (24/01/2021).

Heru menilai keputusan Nadiem menunda AN cukup logis, lantaran pandemi covid-19 belum bisa dikendalikan bahkan cenderung meningkat. 

Tak hanya itu, beberapa wilayah di Indonesia pun dilanda bencana alam, seperti Kalimantan Selatan, Sulawesi Barat, dan Jawa Barat.

"Saat ada bencana apapun, maka anak-anak dan perempuan adalah kelompok rentan yang paling terdampak saat bencana, baik bencana alam maupun bencana non alam seperti pandemi covid-19 saat ini," ujarnya.

Ia mengatakan, dalam kondisi pandemi dan bencana alam, maka dapat dipastikan pemenuhan hak atas pendidikan dan pembelajaran  sangat sulit dilaksanakan. Terlebih, Pembelajaran Tatap Muka (PTM) juga belum bisa dilakukan.

"Sementara itu, ketika harus pembelajaran jarak jauh (PJJ) pasti  banyak terkendala," ungkapnya.

Sebelumnya,  Mendikbud Nadiem Makarim memutuskan menunda pelaksanaan Asesmen Nasional (AN) hingga September 2021. Semula, sistem pengganti Ujian Nasional (UN) itu direncanakan akan diselenggarakan pada Maret 2021. 

"Kita perlu melakukan antisipasi pandemi yang relatif meningkat. Jadi Kemendikbud memutuskan untuk menunda pelaksanaan AN dengan target jadwal baru, yaitu September dan Oktober 2021," kata Nadiem dalam Rapat Kerja Komisi X DPR, Rabu (20/01/2021).

Penundaan AN ini tak lepas dari pengaruh pandemi covid-19 yang masih berlangsung. Terlebih, kasus positif covid-19 di Indonesia yang belum menunjukkan penurunan.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00