Tercapit Gurihnya Lobster

Foto: Ilustrasi RRI

KBRN, Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan Operasi Tangkap Tangan pada mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo pada Rabu (25/11/2020). 

Edhy bersama istrinya, Iis Rosita Dewi, ditangkap di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, tak lama setelah mendarat dari Amerika Serikat. 

KPK lantas menetapkan Edhy Prabowo sebagai tersangka. Terdapat 7 orang yang ditetapkan sebagai tersangka, sementara 2 di antaranya telah menyerahkan diri setelah buron. 

KPK menetapkan Edhy sebagai tersangka dalam kasus dugaan suap terkait perizinan tambak, usaha, dan atau pengelolaan perikanan atau komoditas perairan sejenis lainnya tahun 2020.

Untuk melihat lebih jauh redaksi RRI mencoba menelisiknya:

Sejak awal menjadi Menteri, Edhy Prabowo menjadikan ekspor benih lobster sebagai target utamanya. Berbagai keputusan kontroversi terus dikeluarkan berujung operasi tangkap tangan KPK.

"Saya ingin buka kembali ekspor ini karena ada masyarakat kita yang lapar gara-gara dilarang, gara-gara ada peraturan ini," ucap Edhy saat itu.

Monopoli

KPPU menduga ada praktik monopoli dalam pengiriman ekspor benih lobster yang terkonstrasi di satu perusahaan PT Aero Citra Kargo di Bandara Soekarno Hatta.

33,99 Juta USD

Ekspor benih lobster mencapai 33,99 juta dollar AS dengan jumlah benih setara 14.114 kg, dari Juni-Oktober 2020.

Perusahaan Dadakan

Usia rata-rata 31 perusahaan pengekspor BBL baru didirikan sekitar 2-3 bulan setelah Permen No.12/2020 diterbitkan pada awal Mei 2020.

Perbandingan ekspor lobster dewasa Vietnam dan Indonesia

Saat pandemi ekspor lobster Vietnam sudah di atas 800 ton per bulan, pada hal biasanya tidak lebih dari 50 ton.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00