[Kolom] Puisi Kebangsaan Polisi Bintang Tiga (2)

Jenderal Polisi Firli Bahuri.(Dok.Ist)

KBRN, Jakarta: Kehadiran Komisaris Jenderal Polisi Firli Bahuri sebgai pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) juga telah membuat banyak orang kagum dengan kepribadiannya di tengah pro kontra sebagai seorang polisi dan pejabat lembaga antirausah itu. Salah satunya, kekaguman itu datang dari seorang penulis, Djoko Tetuko.

Baca juga: [Kolom] Puisi Kebangsaan Polisi Bintang Tiga (1)

Berikut ini surat Djoko Tetuku berisi kekagugamnnya terhadap Firli Bahuri:

Kita Semua untuk Indonesia

“Membangun Martabat Bangsa”, bukan sekedar membangun gedung mencakar langit, tetapi membangun jiwa keberanian, membangun martabat kesabaran, dan membangun kemauan bersama anak bangsa dalam kesamaan irama Indonesia Raya.

Cuplikan syair “Membangun Martabat Bangsa”, menggoreskan tinta dari air di pelupuk mata.

Saudara saudara sebangsa setanah air, seirama dan sepenanggungan.

Tentu kita bertanya, di manakah kita sekarang ?

Hari ini kita sedang berduka karena corona menyemburkan asap hitam. Bahkan, hitamnya semakin gelap karena kita tidak tahu kemana arah jalan dan bagaimana melumpuhkan mereka corona membunuh tanpa suara, merajang tanpa pedang, menguburkan tanpa orang banyak.

Firli Bahuri sang jenderal menggambarkan bahwa bangsa Indonesia sedang berduka menghadapi virus Corona.

Sementara, jalan pikiran selalu saja mencari cara memberantas korupsi dengan pencegahan karena potret buram sebagai penindasan.

Syair itu;

“Korupsi bukan hanya kejahatan merugikan keuangan negara, bukan saja merugikan keuangan negara. Tetapi korupsi merupakan bagian dari kejahatan merampas hak-hak rakyat,

Dan amanat juga martabat bangsa dan negara dipertaruhkan, ketika mendapat kepercayaan sebagai Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi, “Membangun Martabat Bangsa”, membisikkan pesan duka menyayat kalbu.

Di saat yang sama, hari ini kita juga berjibaku melawan musuh bangsa sendiri, melawan para koruptor.

Tentu kita bertanya, kenapa kita harus melawan korupsi? Karena kita harus membangun martabat kebangsaan, karena kita harus mengentaskan kemiskinan, karena kita memajukan kesejahteraan, karena kita harus mencerdaskan kehidupan bangsa, memelihara anak yatim-fakir miskin, dan anak telantar, karena Indonesia untuk kita semua, dan kita semua untuk Indonesia.

Bukan Jenderal Bintang Tiga, goresan tinta bermartabatnya mengajak semua kita berbaris dalam satu gerakan melawan korupsi dengan bambu runcing sekalipun. Walaupun senjata modern sudah meluluh lantakan negara negara hebat bermartabat.

Tetapi, “Membangun Martabat Bangsa” tetap saja melawan ketidakadilan dan membela mereka yang teraniaya melawan kebodohan, melawan kemiskinan, melawan ketertinggalan, melawan intoleransi, melawan persekusi dan melawan korupsi.

Karenanya, sudah saatnya seluruh anak bangsa berperan untuk menghentikan korupsi dan mengangkat senjata bambu runcing perlawanan terhadap korupsi.

Penggalan bait syair itu :

Sebuah keutuhan “Membangun Martabat Bangsa”, dengan totalitas, dengan penuh perjuangan juga lemah lembut (tetapi tidak gemulai).

Pak Polisi Jenderal Bintang Tiga, sekali waktu “Membangun Martabat Bangsa” dengan sentuhan karya seni begitu berisi sebuah karya seni membebaskan seluruh anak negeri dari korupsi.

(Penulis: Djoko Tetuko)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00