Tagihan Air PDAM Membengkak, Pelanggan Terheran-heran

KBRN, Madiun: Sejumlah pelanggan PDAM Tirta Taman Sari Kota Madiun mengeluhkan membengkaknya biaya penggunaan air sejak tiga bulan terakhir, seperti dialami Hasanudin warga Kelurahan Demangan.

Ia mengaku, biasanya biaya yang dikeluarkan sekitar Rp80 ribu per bulan, kini membengkak atau meningkat hingga Rp300 ribu, sehingga menanyakan permasalahan tersebut ke petugas PDAM.

"Permasalahannya dimana. Sepertinya saya nggak menggunakan air di luar nalar ini kok selisihnya dua sampai tiga kali lipat. Disini tadi ada kebijakan pembayarannya bisa dibagi dua. Tapi kan kami tetap dirugikan. Saran saya ke PDAM coba meteran itu dicek lah. Jangan nunggu komplain baru dicek, tapi harusnya dicek secara berkala," kata Hasan ditemui di kantor PDAM, Rabu (15/7/2020).

Menanggapi keluhan itu, Direktur utama PDAM Tirta Taman Sari Madiun, Bambang Irianto menyatakan, sejauh ini tidak ada kenaikan tarif, sedangkan jika ada pembengkakan biaya, itu disebabkan karena penggunaan air oleh pelanggan cukup tinggi melebihi rata-rata penggunaan per bulan.

Bambang mengakui, selama pandemi covid-19 ini telah mengeluarkan kebijakan bahwa mulai April dan Mei petugas tidak membaca penggunaan air di lapangan.

Sebab, lanjutnya, ada beberapa faktor yakni akses jalan yang ditutup warga hingga adanya penolakan pelanggan, sehingga petugas menerapkan kebijakan untuk merata-rata penggunaan air tiga bulan sebelumnya.

"Misalnya, rata-rata penggunaan airnya dihitung 50 kubik per hari. Namun permasalahan yang timbul saat ini adalah adanya pelanggan yang penggunaan airnya melebihi rata-rata. Selisih itu diakumulasi selama tiga bulan sejak April sampai Juni sehingga menyebabkan biaya membengkak," terangnya.

Bambang menuturkan, ada dua grade tarif diterapkan di PDAM Tirta Taman Sari Kota Madiun. Grade pertama penggunaan 0-10 kubik tarif yang dibebankan Rp2.400 per kubik ditambah biaya administrasi Rp5.500.

Sehingga biaya minimal yang dikeluarkan per pelanggan sebesar Rp29.500 per 10 kubik. Kemudian grade dua, 11 kubik sampai tidak terhingga biaya yang dibebankan Rp3.950 per kubik. 

"Inilah yang menyebabkan teman-teman pelanggan kaget. Sebenarnya kondisi yang sama terjadi di PDAM se-Jawa Timur bahkan Indonesia. Jadi sama sekali tidak ada kenaikan tarif. Tapi kebijakan kami kalau pembayarannya dibagi dua ya monggo. Tetapi acuan kami pada posisi angka meter terakhir," terangnya.

Bambang mengakui, hingga saat ini sudah ada sekitar 50 pelanggan yang mengajukan komplain. Menurutnya, hal itu wajar karena belum memahami sistem rata-rata yang dilakukan petugas dampak pandemi covid-19.

"Jika permasalahan itu timbul akibat kerusakan water meter maka akan dilakukan penggantian," ujarnya. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00