Kesetaraan Orangutan dan Manusia Dalam Penanganan Covid-19

Orangutan Kalimantan di Pusat Rehabilitasi (Dok. Istimewa)

KBRN, Palangka Raya : Orangutan memiliki susunan genetik yang sangat dekat dengan manusia. Dalam sebuah penelitian disebutkan bahwa DNA orang utan 97 persen mirip dengan manusia.

Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi pusat rehabilitasi orangutan di tengah pandemi Covid-19 saat ini.

Koordinator Medis PROKT Yayasan Borneo Orang Utan Survival Nyaru Menteng, drh. Agus Fahroni, mengatakan karena secara genetik sangat dekat dengan manusia maka orangutan juga dapat mengalami penyakit yang dialami manusia.

“Bahkan tifus, malaria, demam berdarah juga ada di orangutan. Obat yang sama dengan obat pada manusia. Uniknya, penanganan orangutan mirip sekali dengan manusia. Pengobatan dan treatment juga sama dengan manusia,” ujarnya kepada RRI, Selasa (5/5/2020). 

Agus mengatakan, selama masa Tanggap Darurat pandemi Covid-19, pihaknya juga memberikan suplemen tambahan bagi orangutan di pusat rehabilitasi dan reintroduksi Nyaru Menteng.

Vitamin diberikan seminggu sekali. Kemudian madu diberikan dua kali seminggu. Selanjutnya telur diberikan sekali sebulan supaya imun tubuh orangutan tetap terjaga.

Bagi sekitar 308 ekor orangutan yang ada di Nyaru Menteng, suplai pakan disiapkan oleh masyarakat sekitar. Pasokan buah-buahan bahkan sayuran seperti terong dan tomat diantar oleh kelompok petani lokal setiap minggunya.

Sementara untuk mencegah masuknya virus corona ke pusat rehabilitasi orangutan Nyaru Menteng, pengetatan dilakukan terhadap karyawan dan petugas lapangan.

Asisten Manajer Yayasan BOS Nyaru Menteng, Reza Bayu menuturkan, upaya yang dilakukan untuk meminimalisir kasus impor Covid-19 dengan menetapkan beberapa prosedur tetap.

“Pertama yaitu hampir sudah sebulan yang lalu kami tidak menerima kunjungan baik dari wisatawan maupun sukarelawan atau peneliti ke Nyaru Menteng sendiri atau ke tempat-tempat pelepasliaran kami di camp rilis monitoring,” kata Reza kepada RRI.

Prosedur tetap lainnya, setiap karyawan yang masuk wilayah kerja Nyaru Menteng harus mencuci tangan, kemudian masuk ke dalam bilik disinfektan dan kemudian diperiksa suhu tubuhnya.

Menurut Reza, apabila ada karyawan yang memiliki suhu tubuh di atas 38 derajat celcius dan menunjukkan gejala seperti pusing dan atau batuk, karyawan tersebut akan dipulangkan serta diminta melakukan karantina mandiri.

Lebih lanjut dikatakan Reza, bagi petugas divisi yang berinteraksi langsung dengan orangutan harus membawa dua baju.

Baju pertama yang dikenakan ketika datang harus diganti dengan pakaian saat bertugas. Kemudian ketika hendak pulang, petugas kembali mengenakan baju yang dikenakan saat masuk. Saat hendak pulang, kembali petugas akan diperiksa suhu tubuhnya. 

Selanjutnya : Pusat Rehabilitasi Orangutan

Halaman 1 dari 2

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00