Guru Besar UIN Walisongo Semarang, Prof Musahadi dan 'Fiqih Prasmanan'

KBRN, Semarang : Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang kukuhkan Profesor Musahadi, sebagai Guru Besar ke 27 setelah mengangkat karya ilmiah “Fiqih Prasmanan” (Mencermati Disrupsi di Bidang Hukum Islam). Dengan karya ilmiah tersebut, Prof Musahadi dinilai berhasil menghadirkan kenyataan akan fenomena pergeseran pencarian hukum Islam di masa kini.

Rektor UIN Walisongo Semarang, Prof Imam Taufiq mengatakan, karya ilmiah berjudul “Fiqih Prasmanan” dapat memacu ilmuwan Islam untuk aktif bermedia sosial. Jika tidak, peran ilmuwan akan diambil oleh mereka yang tidak memiliki kualitas namun memiliki akses luas di masyarakat.

“Dari data yang saya dapat, sekitar 130 juta masyarakat Indonesia mengakses internet. Jika konten internet dikuasai oleh yang bukan ahlinya, dampaknya akan memicu konflik,” kata Prof Imam, Rabu (8/1/2020).

Menurut Prof Imam, 'Fiqih Prasmanan' menunjukkan masyarakat cenderung memilih media online daripada ulama yang sudah teruji pengetahuan dan keahliannya dalam hukum Islam. Akibatnya, terjadi pertentangan karena ilmu yang didapat bersumber dari pemahaman yang dangkal.

“Transformasi keilmuan penting dilakukan, guru-guru harus bersambung hingga Rasulullah agar mempunyai pijakan referensi yang jelas. Kalau di internet 'kan tidak tahu siapa pengisi kontennya, belajar di mana dan fatwanya berdasarkan apa juga tidak jelas,” ujarnya.

Sementara itu Prof Musahadi seusai dikukuhkan menjadi Guru Besar ke 27 UIN Walisongo Semarang mengatakan, hukum Islam saat ini diibaratkan menu prasmanan, dimana setiap orang bisa mengambil yang disuka. Seperti halnya makanan, kelihatannya enak, bagus, menarik, namun bisa saja bukan mengenyangkan malah membuat keracunan.

“Fiqih sebagai produk ulama dari sumber pokok Islam yakni Qur’an dan Hadits banyak terdapat perbedaan. Dalam perang, di internet ditampilkan pihak selain kelompoknya dianggap musuh, padahal perbedaan itu merupakan rahmat untuk saling menghormati, bukan dimusuhi,” terang Prof Musahadi.

Seperti diberitakan RRI sebelumnya, fenomena belajar agama Islam terutama di bidang fiqih melalui online menimbulkan kegaduhan antar umat di dunia sosial. Kegaduhan tersebut disebabkan penyebar dakwah Islam di internet belum teruji keilmuannya bahkan tidak mempunyai sanad atau kesinambungan guru hingga Rasullullah.

Hal tersebut dikemukakan Guru Besar Kampus UIN Walisongo Semarang, Prof Musahadi dalam orasi ilmiah “Fiqih Prasmanan”, seusai dikukuhkan Rektor UIN Walisongo Semarang Prof Imam Taufiq, Rabu (8/1/2020).

Perkembangan hukum Islam, menurut Prof Musahadi, saat ini banyak lembaga maupun individu yang belum jelas otoritasnya secara agresif menyebarkan fatwa masing-masing melalui internet. Di sisi lain, organisasi besar seperti NU, Muhammadiyah dan MUI kurang dapat mengimbangi dakwah Islam secara digital.

“Saat ini persoalannya masyarakat cenderung instan dalam memahami agama, salah satunya mempelajari melalui internet. Padahal pakar Islam yang teruji keilmuannya seperti di pondok pesantren dan alumni perguruan tinggi Islam kurang menguasai internet. Sedangkan yang disebut ustadz, yang masih minim literasi khazanah Islam aktif menyebarkan ajarannya di dunia internet,” imbuhnya.

Efeknya, kata dia, timbul kegaduhan dalam melaksanakan fatwa yang didapat dari internet. Seolah fatwa dari internet merupakan kebenaran mutlak yang harus diikuti oleh semua orang.

“Fiqih merupakan produk ulama dalam menyikapi persoalan kekinian dengan berpijak pada literasi ulama-ulama terdahulu. Antar ulama produk fiqihnya pun beragam,” ujarnya.

Dalam karya ilmiahnya, “Fiqih Prasmanan” dijelaskan, telah terjadi disrupsi atau perubahan dalam hukum Islam di kalangan milenial. Jika sebelumnya masyarakat memilih NU, Muhammadiyah, MUI atau Kyai Pesantren yang jelas keilmuannya, sekarang cenderung mengambil fatwa dari internet dalam persoalan kehidupan sehari-hari.

“Proses pengambilan keputusan mengenai menu mana yang akan diambil berada di tangan mereka, dan dapat dilakukan sendiri secara personal. Inilah yang saya maksud dengan fenomena “Fiqih Prasmanan”, yang suka atau tidak suka telah hadir dalam era disrupsi ini,” terangnya.

Sementara itu Rektor UIN Walisongo Semarang, Prof Imam Taufiq dalam sambutan pengukuhan mengaku bangga dengan fenomena yang diangkat Prof Musahadi menjadi karya ilmiah. Menurutnya, “Fiqih Prasmanan” mencerminkan kehidupan beragama saat ini.

“Saat ini kita hidup dalam tiga ruang, yakni realitas, digital dan virtual reality. Saat ini siapa saja punya kebebasan untuk mengakses informasi, siapa saja boleh membuat fatwa, sehingga kita dihadapkan pada dua hal lagi, yaitu otoritas dan kualitas,” tuturnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00