Area Makam Tanah Kusir Jadi Jalan Pintas, Ganggu Aktivitas Peziarah

KBRN, Jakarta : Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tanah Kusir, Jalan Raya Bintaro, merupakan yang terbesar di daerah Jakarta Selatan, dengan luas 55,04 hektar. TPU Tanah Kusir terbagi menjadi dua, yaitu Tanah Kusir Utara (I) dan Tanah Kusir Selatan (II). Makam di TPU tanah Kusir tertata sangat rapih, teratur dan bersih, serta dilengkapi dengan fasilitas yang disediakan untuk pengunjung seperti mushala, toilet dan tempat parkir.

Pada 2012 silam, sebagian makam di TPU Tanah Kusir terkena normalisasi Kali Pesanggarahan. Normalisasi Kali Pesanggrahan merupakan salah satu proyek Jakarta Emergency Dradging Initiative (JEDI) atau proyek pengendalian banjir melalui normalisasi dan pengerukan sungai di Jakarta. Luas lahan yang terkena proyek normalisasi sekitar 9.768 meter persegi atau sekitar 1.776 makam yang terdiri dari sisi utara sebanyak 798 makam dan sisi selatan 978 makam.

Sekarang, normalisasi Kali Pesanggrahan sudah selesai, dan ruas jalan di sana sudah beraspal semuanya. Namun ada sedikit masalah, karena jalan tersebut justru terbuka untuk umum melewati area makam. Pengendara sepeda motor dan mobil dari arah Kali Pesanggrahan dan wilayah Ulujami akan memanfaatkan ruas jalan di area makam sebagai shortcut atau jalan pintas menuju Jalan Raya Bintaro.

Akibatnya ketika sedang ramai peziarah, para pengendara justru membuat kemacetan panjang. Sebagian peziarah yang tidak mendapatkan tempat parkir, akan membawa masuk kendaraannya ke dalam area makam lantas memarkirnya di pinggir jalan. Kemudian datang pengendara dari arah Kali Pesanggrahan dan Ulujami, menambah sesak jalan yang sebenarnya tidak terlalu besar. 

Jika dua mobil ingin lewat berlawanan arah, pastinya harus perlahan agar tidak terperosok ke area makam. Ditambah pengendara sepeda motor ikut masuk memanfaatkannya sebagai jalan pintas, lalu lintas tersendat dengan antrian mengular. Seperti biasa, jika terjebak macet pasti bakal ramai dengan bunyi klakson mobil diselingi teriakan pengendara sepeda motor. 

Dan ini menurut pantauan National Integrated Newsroom Radio Republik Indonesia (RRI), sangat mengganggu para peziarah yang membutuhkan saat teduh dan tenang untuk memanjatkan doa.

"Ini cukup mengganggu. Buat mereka yang makamnya terletak di tengah pasti tidak akan berpengaruh banyak. Tapi untuk yang berada di pinggiran jalan seperti makam keluarga kami, jelas saja kemacetan, klakson mobil dan teriakan pengendara sepeda motor sangat mengganggu," sebut Aditya Laksono, peziarah warga Cempaka Putih, Jakarta Pusat kepada RRI, Rabu (25/12/2019).

Petugas keamanan TPU Tanah Kusir nampak sibuk dan kelelahan mengatur lalu lintas kendaraan di jalan sempit tersebut. Mereka harus membuka tutup ruas jalan untuk memberi kesempatan bagi para pengendara yang sedang mengambil jalan pintas itu.

"Itu (kendaraan) datang dari arah jembatan Kali Pesanggrahan dan Ulujami. Tapi tugas kami menjamin keamanan dan kenyamanan pengunjung TPU Tanah Kusir, jadi jalankan tugas sebaik-baiknya saja lah," ujar petugas keamanan setempat yang menolak dikutip namanya.

Sementara itu, Hendrawan driver ojek online (ojol) yang turut ambil bagian dalam kemacetan panjang sore menjelang maghrib tadi, tak bisa menghindar bahwa ia memang kerap memanfaatkan jalan area makam sebagai shortcut dari Kali Pesanggrahan menuju ke Jalan Raya Bintaro.

"Memang sering pak. Tapi kalau saya, jika macet seperti sekarang pasti saya matikan mesin dan diam saja. Karena saya sadar, ini makam, banyak orang berdoa atau sembahyang di sini. Intinya menghormati lah istilahnya. Nanti kalau jalur mulai lancar, baru saya menyalakan mesin sepeda motor dan jalan. Saya juga tidak gunakan klakson di sini," kata Hendrawan. (Foto: Miechell-RRI)

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00