Menilik Ekspansi Bakso Bejo di Korsel

KBRN, Jakarta : Siapa yang tak kenal dengan Bakso. Salah satu street food  paling diminati di Indonesia ini makin menggurita di Korea Selatan. Bakso Bejo Korea, pelopor restauran Bakso di Negeri Ginseng yang namanya sudah tidak asing lagi bagi seluruh WNI yang berada di Korsel maupun warga setempat. 

Selain membuka gerai di berbagai Kota yang merupakan konsentrasi WNI di Korsel, seperti di Kota Ansan, Daegu, Busan dan Gimhae, kini  Bakso Bejo  melebarkan sayap di Seoul dengan secara resmi membuka cabang di Myeong-dong, Seoul pada Selasa (10/12/2019) lalu,  bersanding dengan resto-resto internasional yang sudah ada di sana. 

Myeong-dong adalah salah satu distrik belanja terbesar dan  tempat wisata utama di Seoul. Dengan membuka cabang di kawasan tersebut,  Bakso Bejo Korea semakin bisa disejajarkan dengan brand kuliner mancanegara yang ada di Korea Selatan.

Dalam rilis yang diterima RRI,  Jumat (13/12/2019), Subandi sang pemilik Bakso Bejo Korea adalah purna Pekerja Migran Indonesia  (PMI) asal Lampung. 

Setelah sukses membuka gerai di kota-kota satelit di Korsel tak membuatnya berpuas hati. Ia terus melebarkan usahanya. Dengan penuh tekad yang kuat, Bakso Bejo Korea kini telah bisa dinikmati oleh warga dunia yang tengah berwisata ke Seoul. 

Bakso Bejo Korea dirintis Subandi pada 2014 dengan modal hanya 200 ribu won atau sekitar 2,3 juta rupiah saja. Siapa sangka, usaha yang awalnya hanyalah coba-coba, menjadi semakin besar dengan promosi via  media sosial. 

Dalam menjalankan usahanya, Subandi tentu mengalami suka dan duka. Begitu pula untuk dapat membuka cabang di Myeong-dong, Seoul. Perlu waktu cukup lama bagi dirinya. 

“Saya survei lokasi di Myeong-dong ini memakan waktu 2 tahun. Kadang juga suka dipandang sebelah mata karena Saya adalah orang asing.  Tapi Alhamdulillah, akhirnya saya menemukan gedung ini yang pemiliknya juga sangat baik hati,” kata Subandi. 

"Saya berharap bahwa nantinya para PMI di Korea Selatan juga bisa mendirikan usaha yang sesuai dengan apa yang ada di daerah asalnya, saat nanti kembali ke Indonesia,"

"PMI di Korea Selatan kan datang dari berbagai daerah, sepulangnya mereka ke Tanah Air, mereka bisa menjalankan usaha yang sesuai dengan apa yang ada di daerahnya. Misalnya, bisa buka usaha ternak sapi kalau di daerah asalnya memang familiar dengan usaha tersebut," imbuh Subandi. 

Sementara Duta Besar RI untuk Korea Selatan, Umar Hadi, yang sering menyempatkan diri berkunjung ke gerai Bakso Bejo ikut mendukung upaya Subandi. 

"Saya mendorong Subandi menjadi importir dari Indonesia. Hampir semua produk makanan Indonesia yang dijual di Korea diimpor oleh perusahaan setempat, akibatnya harga tidak dapat dikontrol.  Oleh sebab itu harus ada WNI yang mulai mengimpor. Terlebih lagi jika bisa memperluas industri ke berbagai sektor," kata dubes enerjik mantan Konjen RI di LA ini.

Selain itu, Dubes juga menggaris bawahi bahwa  mengingat terdapat 38 ribu WNI di Korsel, sangat mungkin membuat semacam pusat jajanan Indonesia di kota yang padat WNI-nya. Tempat tersebut juga akan lebih baik jika dilengkapi dengan masjid tempat berkumpulnya warga.

Keberhasilan Subandi menjadi pionir pengusaha Indonesia di Korsel dapat menjadi inspirasi bagi PMI lainnya untuk berwirausaha,  baik di Korea Selatan maupun di Indonesia. Selain Bakso Bejo, saat ini terdapat 50 restauran Indonesia lainnya yang ada dan tersebar di berbagai kota di Korea Selatan.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00