Perayaan Imlek Wujud Kebersamaan Warga Tionghoa

KBRN, Palangkaraya : Siapapun yang ada darah keturunan Tionghoa atau warga kebangsaan China tentu sangat menantikan datangnya imlek, karena perayaan imlek yang biasa disebut tahun baru warga keturunan Tionghoa, kental akan tradisi sakral umat Budha sebagai penganut Agama mayoritas tionghoa.

Pembimas Agama Budha Kementrian Agama Kalimantan Tengah Partiyem menyebut, imlek berbeda dengan hari besar kegamaan, tetapi imlek sama dengan perayaan tahun baru masehi yang diratyakan masyarakat Indonesia pada umumnya, bahkan yang merayakanpun dari antar lintas agama.

“Disinilah menariknya dalam setiap perayaan imlek, tidak hanya dirasakan oleh satu agama, tetapi agama manapun, asalkan dari warga tionghoa juga larut dalam tradisi secara turun temurun,” kata Partiyem kepada RRI di kantornya (04/2/2019)

Lebih jauh dikatakan, tradisi yang paling sakral dalam setiap menyambut imlek, biasanya umat Budha sebagai penganut mayoritas Tionghoa melakukan sembahyang di sejumlah vihara, tidak hanya mendoakan leluhur yang sudah meninggal, tetapi mereka melakukan kegiatan membersihkan patung patung Budha, sebagai bentuk penghormatan kepada roh leluhur. Selain itu, melalui perayaan imlek dapat dijadikan wahana introspeksi diri dari sifat sifat yang tidak baik, menuju ke tahun baru dengan yang ditandai dengan kemunculan shio babi tanah, lebih kepada pengendalian diri.

“Intinya warga Tionghoa melakukan tradisi pembersihan hati dan menerapkannya dalam kehidupan sehari hari mereka,” ujarnya.

Di tempat terpisah, Anggota FKUB Kota Palangkaraya Margono menilai, perayaan imlek sebagai wujud membangun kebersamaan, dan selama ini telah dicontohkan warga Tionghoa, meskipun berbeda agama, apabila memiliki darah keturunan sebagai warga China, merayakan imlek bersama dengan keluarga dan melakukan peribadahan di sejumlah Vihara.

“Kalau diterapkan masyarakat Indonesia, nilai nilai kebersamaan yang terdapat di dalam Imlek saya yakin, tidak konflik akibat berbeda pendapat,” ujarnya

Selain kental dengan ritual yang dilakukan secara turun temurun, pihaknya mengapresiasi tradisi bagi bagi bagi ampau atau istilahnya berbagi kesejehateraan dengan sesama, dan itu semua bermakna membantu meringankan beban dari himpitan ekonomi.

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00