Sampah Masker Tingkatkan Jumlah Mikroplastik di Alam

Sampah Masker di Aliran Sungai. Foto: ( Dok. Antara )

KBRN, Jakarta: Sampah plastik ukuran mikroskopik atau mikroplastik meningkat sepuluh kali lipat di masa Pandemi Covid-19. Salah satu sumber mikroplastik adalah penggunaan masker. 

"Semakin banyak orang yang menggunakan masker sekali pakai, tapi di sisi lain masker ini tidak dikelola dengan baik," kata Peneliti Pusat Riset Oseanografi. M Reza Cordova dalam diskusi dengan PRO 3 RRI, Minggu (7/8/2022). 

Saat ini masker yang dibuang sembarangan, tidak dikelola sebagai sampah B3, sehingga rawan terbuang ke tanah atau sungai. Sampah masker atau APD (alat perlindungan diri) tersebut mencemari muara sungai menuju Teluk Jakarta, terutama pada saat curah hujan tinggi.

Riset monitoring mikroplastik di muara sungai ini mencatat kelimpahannya yang lebih tinggi di wilayah pesisir timur Teluk Jakarta dibandingan dengan pesisir bagian barat. Dari sembilan muara sungai di kawasan Jabodetabek, mikroplastik ditemukan pada semua muara sungai yang diteliti.

Reza menuturkan penambahan mikroplastik paling tinggi ditemukan pada musim hujan yakni rata-rata 9.02 partikel per 1.000 liter air sungai. Ssedangkan paling rendah ditemukan pada musim kemarau yakni 8.01 partikel per 1.000 liter air sungai.

Reza berharap peningkatan konsentrasi mikroplastik di lingkungan, akan mendorong perbaikan pengelolaan sampah sekali pakai. 

"Bukan tidak mungkin sampai hari ini yang jumlah konsumsi masker sekarang ini semakin meningkat, sehingga meningkatkan juga mikroplastik yang berasal dari masker," katanya. 

Tingkat mikroplastik yang tinggi di dalam tubuh manusia dapat mengakibatkan beberapa gangguan kesehatan. Di antaranya berkurangnya kekebalan tubuh, kanker, dan membawa racun kimia ke dalam tubuh. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar